
"SELAMAT DATANG KEMBALI PUTRI ASES" ucap lantang semua orang yang menyambut kedatangan Sang Putri Mahkota.
Aruna hanya tersenyum di balik tudung dengan tangan yang terangkat melambai ke arah kerumunan hingga para rakyat Negara M semakin ricuh.
Putri Mahkota Ases atau Putri Ases memang terkenal akan keramahan dan kejahilannya yang sering kali mengerjai para pelayan dan prajurit namun kenakalannya itu malah membuat semua negara rakyat M hampir semua semakin mengidolakannya.
Di atas mimbar sana Raja Arthur duduk di kursi paling tinggi di temani dengan Sang Permaisurinya yaitu Sofia De Bora sang Ibunda Putri Ases.
Sedangkan di bawah tingkat Raja Arthur terlihat kedua pangeran tampan kerajaan Blue yang tak lain dan tak bukan adalah Zelanda De Bora Sang Putra mahkota Kerajaan dan Pangeran Zilanda De Bora kembaran Putra mahkota atau pangeran kedua.
Aruna berjalan begitu anggun yang setiap langkah kakinya selalu di lemparkan bunga ke udara. Aruna berhenti di depan Raja Arthur dan Permaisurinya.
"Salam Ayahanda, Salam Ibunda" salam Aruna menundukan sedikit kepala.
"Selamat datang kembali Putri Ases" sambut Raja Arthur terdengar tegas dan penuh wibawa.
Aruna menjalani beberapa sambutan dan berpidato sedikit. setelah semua selesai barulah Aruna di giring untuk memasuki istana.
Setiap langkahnya Aruna begitu terpukau dengan dekor yang di siapkan untuk menyambutnya. sepanjang jalannya Aruna begitu tenang menikmati wangi bunga segar yang begitu harum dan segar di setiap anak tangga yang di naikinya.
Setelah berjalan 5 menit akhirnya mereka sampai di ruang tamu istana.
"Ayahanda merindukan mu princess" Raja Arthur langsung memeluk Aruna dengan erat penuh kerinduan.
"Aruna juga merindukan Ayahanda" kata Aruna membalas pelukan Raja Arthur tak kalah eratnya.
"EHEM.... jadi Princess tidak rindu dengan Ibunda" kata Ratu Sofia yang pura-pura merajuk.
"Eh eh tidak seperti itu Ibunda ku tercinta" kata Aruna yang melepaskan pelukan Raja Arthur lalu mendekati Ratu Sofia yang tengah merajuk.
Aruna di peluknya Ratu Sofia dari belakang
Sontak Raja Arthur, Putra Mahkota dan Pangeran Zilan langsung melotot kesal tambah cemburu bersatu menjadi satu hingga membuat ketiga pria itu bermuka masam lebih tepatnya hanya Raja Arthur dan Zelan karna Pangeran Zilan hanya diam berdiri selayaknya patung.
"Disini aman 'kan? aku akan membuka tudung s*alan ini yang membuat pandangan mataku terhalang" gerutu Aruna yang memegang tudung di kepalanya untuk di buka.
"Princess jangan...!" teriak Delyana menarik Aruna di belakang tubuhnya hingga tiba-tiba terdengar seperti suara besi yang saling di tubrukan.
TAK
Entah bagaimana caranya atau dari mana asalnya, tiba-tiba belati ada di tangan Delyana yang langsung menangkis sebuah peluru yang di tujukan kepada Aruna hingga peluru itu terpental.
Sedangkan Raja Arthur, Putra Mahkota dan Pangeran Zilan hanya bisa membelalakkan mata melihat kejadian yang mengerikan menghampiri Princess kecil mereka.
"Cepat Kejar....!" teriak Zelan setelah sadar dari keterkejutannya.
"Tidak perlu di kejar , walau di kejar sekalipun itu akan berakhir sia-sia" Cegah Delyana.
Sontak ke tiga pria super protektif itu langsung menatap tajam gadis yang berada di samping Aruna.
"Siapa gadis ini?" batin ketiganya kompak lalu saling melirik.
"Terima kasih sudah menolong putri ku" kata Ratu Sofia tulus.
"Sudah tugas ku Yang Mulia Ratu" jawab Delyana.
"Siapa kamu?" tanya Raja Arthur, Zelan dan Zilan secara bersamaan.
"Orang yang kalian cari selama ini" jawab Delyana dengan senyum miring ke arah ketiga Pria di depannya.
"GADIS PEMBURU"