Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Bertemu


Aruna menatap bangunan bertingkat di depannya dengan pandangan takjub apalagi melihat nama gedung itu.


AZ'A Company


Itulah nama yang terpanjang jelas di depan gedung itu. Aruna mengambil napas lalu mengeluarkannya secara perlahan sekali lagi menyakinkan diri tentang pilihannya yang langsung terjun di dunia bisnis.


Harus Aruna akui dia sekarang cukup gugup karna harus berbaur dengan orang baru dan peraturan baru. Aruna yang dari kecil tinggal dan hidup di lingkungan Kerajaan tidak terlalu mengenal dunia luar walau beberapa kali ia berpergian ke luar negeri namun tetap harus di Kawar minimal 20 orang penjaga yang di tugaskan oleh Ayahandanya.


Adapun jika dia kabur dari kerajaan dia tidak selalu ke luar negeri atau berbaur dengan orang-orang yang di luar kekuasaan wilayah Kerajaan. Aruna hanya lari ke dalam hutan bermalam beberapa malam di dalam hutan dengan tujuan orang itu datang padanya.


Dengan langkah anggun, dagu yang di angkat Aruna berjalan memasuki gedung itu dengan langkah kaki yang yakin.


"Permisi Nona saya ingin melamar kerja, ruang interviewnya dimana ya...?" Aruna bertanya kepada kedua Resepsionis yang berjaga di depan.


"Tinggal lurus saja lalu di depan sana Anda hanya perlu belok kiri disana ada tulisan ruang interview itu ruangannya Nona." ucap Resepsionis menjelaskan secara detail.


"Terima kasih" ungkap Aruna lalu berlalu pergi meninggalkan kedua Resepsionis itu.


"Nona itu sangat sopan" kata Resepsionis 1.


"Iya benar selain itu tutur katanya juga begitu lembut" timpal resepsionis 2.


"Sepertinya dia bukan warga negara ini. kau lihat....... matanya tadi berwarna biru sebiru langit" ungkap Resepsionis 1 sambil mengingat bola mata Aruna.


"Kamu benar aku belum pernah melihat bola mata seindah itu bahkan hanya bola matanya mampu memikat sebegitu dashyatnya." timpal Resepsionis 2.


"What.....! sebanyak ini yang daftar" Guman Aruna kaget lalu menatap puluhan orang yang duduk berjejer di kursi yang telah di siapkan.


"Ternyata pria pujaan ku benar-benar di damba banyak orang dan lihat itu cara berpakaian mereka kenapa seperti pelacur dan wanita penghibur yang berada di rumah bordir seperti di kerajaan." lanjut Aruna menatap ngeri cara pakaian semua orang yang duduk menunggu.


Aruna bergidik ngeri lalu menatap penampilan dan pakaian yang dia kenakan sendiri dari ujung kaki sampai dada.


"Syukur cara pakaian aku aman jika saja aku yang berpakaian seperti itu lalu di lihat oleh Ayahanda dan Kak Zelan maka aku akan benar-benar di penggal"


Aruna berjalan mengambil nomor antrian lalu menuju kursi kosong yang telah di siapkan oleh staff kantor.


Aruna duduk tenang di kursi paling belakang kenapa tidak duduk di tengah-tengah padahal masih ada kursi kosong jawabannya karena Aruna tidak nyaman apalagi pembahasan di sekitar itu hanya tentang seorang Arkana sang CEO perusahaan AZ'A Company yang tak lain dan tak bukan adalah pria pujaannya Aruna.


Aruna duduk di kursi berjam-jam hanya untuk menunggu gilirannya satu persatu orang mulai masuk dan keluar tapi sejauh ini tampaknya belum ada yang di terimah untuk menjadi sekretaris sang CEO terbukti dengan mereka keluar dari ruang interview dengan muka masam atau wajah kekesalan


2 jam kemudian


Kursi di depan Aruna satu persatu mulai kosong hingga meninggalkan sisa 3 orang saja dalam ruangan itu 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki.


"ARUNA ASES"


Mendengar namanya di panggil Aruna segera berdiri lalu beranjak berjalan memasuki ruang interview.


"Semoga Pangeran ku ada di dalam" guman Aruna dengan senyum tipis terbit di sudut bibirnya.


Ceklek


Aruna menghembuskan napas kasar saat melihat jika tidak ada pria pujaannya dalam ruangan itu.


"Selamat siang Tuan" ucap Aruna menunduk hormat.


"Nona Aruna, Silahkan duduk" kata Pria berjas hitam mempersilahkan Aruna untuk duduk di depannya.


Aruna langsung duduk laluenyerahkan map yang dia bawah kepada Pria itu tanpa pria itu minta. terlihat sekali jika Aruna duduk tenang di depan pria berwajah datar itu.


Pria berjas hitam itu tersenyum tipis melihat sikap tenang Aruna yang berbeda dengan wanita lain. Sekarang hanya isinya yang perlu di lihat pikir Pria itu mengambil Map di depannya lalu mulai membukanya.


Untuk sesaat pria itu terkejut saat melihat yang tertulis di kertas yang berada di tanganya namun itu hanya beberapa detik sebelum dia tutupi dengan wajah datar miliknya.


"19 tahun? S2 manajemen Bisnis?" guman pria itu menatap Aruna dengan dalam.


"Ikut saya!" titah pria itu beranjak berdiri lalu berjalan keluar di ikuti oleh Aruna di belakangnya.


Pria itu membawa Aruna masuk dalam lift lalu pria itu menekan angka 50 yang menandakan lantai paling atas.


"Perkenalkan saya adalah Mohon Asisten Tuan Arkana" ungkap Johan datar.


"Saya Aruna Ases panggil saja Aruna" kata Aruna sopan menundukan sedikit kepalanya.


Setelah perkenalan itu baik Johan maupun Aruna tidak ada yang membuka suara lagi hingga sampai di lantai yang di tuju.


Johan langsung keluar dari lift di ikuti Aruna yang sudah seperti anak ayam mengikuti induknya.


Johan berjalan menuju suatu ruangan yang di depannya ada tulisan CEO.


Tok


Tok


Tok


"Masuk" sahut dari dalam.


"Nona tunggu disini akan saya panggil nanti agar anda masuk" kata Johan sebelum membuka pintu.


"Baik Tuan" jawab Aruna patuh.


Mendengar itu Johan merapikan pakaiannya lalu membuka pintu berjalan masuk.


Ceklek


"Bagaimana?" tanya Seorang pria yang masih fokus dengan Leptop di atas mejanya.


"Ini Tuan"


Johan meletakkan Map yang berisikan biodata Aruna di atas meja pria yang di panggil tuan yang tak lain dan tak bukan adalah Arkana Zeus Albarack.


Arkana menghentikan pekerjaannya lalu meraih map itu lalu membukanya dan membaca isinya.


"Aruna Ases 19 tahun? S2?" Arkana mengangkat Alisya satu saat membaca apa yang terterah di atas kertas.


"Mana orangnya?" tanya Arkana datar.


"Akan saya panggilkan Tuan" kata Johan lalu berbalik menuju pintu.


Tok


Tok


Tok


"Nona silahkan masuk" kata Johan di balik pintu.


Aruna yang mendengar itu langsung sumringah lalu mulai menata kembali penampilannya.


Ceklek


"Selamat siang Tuan" ucap Aruna dengan senyum di bibirnya menatap dalam Arkana yang hanya berwajah datar dan menatap dingin padanya.


"Silahkan duduk" kata Arkana datar.


Aruna dengan senyum manis duduk di depan Arkana. Aruna tak sengaja menatap Johan yang sedang menatapnya tajam.


Aruna langsung sadar dan mengubah wajahnya kembali menjadi tenang.


"Aruna Ases 19 tahun..." kata Arkan terpotong oleh Aruna.


"Benar saya 19 tahun lulusan S2 manajemen Bisnis" potong Aruna cepat.


Johan yang berada di belakang Aruna langsung tersedak ludah sendiri saat mendengar Aruna yang berani memotong perkataan sang Bos.


"Ada apa dengan gadis ini? tadi dia bersikap begitu anggun dan tenang kenapa sekarang malah menjadi barbar seperti ini" kata Johan dalam hati.


"Pengalaman?"


"Pengalaman apa?" tanya Aruna bingun.


"Oh oke oke pengalaman kerja'kan?" kata Aruna saat melihat Arkana menatapnya tajam setajam silet.


"Saya tidak punya pengalaman kerja Tuan ini pertama kalinya saya melamar kerja" kata Aruna jujur.


"Saya tidak berpengalaman dalam kerja apapun selain membuat onar di kerajaan dan berburu di hutan" lanjut Aruna dalam hati.