
"Lihat ini....! buka mata kalian lebar-lebar jika tidak ingin aku congkel. lihat baik-baik" sentak Zilan menunjuk sebuah titik.
Deg
Mata Arkana dan Johan terbelalak saat melihat gambar itu dengan jelas saat Zilan menzoomnya. sekilas memang terlihat biasa namun jika diperhatikan secara detail maka akan didapatkan kejanggalannya.
"Ini...."
Johan menunjuk gambar itu dengan rumit lalu menatap zilang yang tengah menatapnya namun tatapan Zilan malah penuh ejekan. tapi kali ini Johan tak marah lagi karena sekarang dia benar-benar malu bagaimana bisa mereka kecolongan seperti ini pikir Johan.
"Orang-orang ini sudah aku perhatikan beberapa hari terakhir ini Bahkan aku sempat mendatangi markas mereka walaupun aku tidak bisa masuk ke sana" ungkap Zilan.
Sontak membuat Arkana menatap tajam ke arahnya yang bagaimana bisa pria sinting itu melakukan hal nekat seperti itu pikir Arkana Yang Tak habis pikir.
"Itu berarti besar kemungkinan ada penghianat di dalam mansion ini" ungkap papar Johan yang mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut manusia mewah itu.
"No. tidak ada penghianat di dalam mansion ini. orang-orang itu hanya bisa mengintai di jarak ini" terang Zilan yang menunjuk sebuah titik yang ada di belakang manusia itu.
"I..ini ada di bagian belakang mension" ucap Johan menunjuk tanda titik yang ada dalam laptop itu.
"Jadi Ini alasan kenapa aku selalu merasa di awasi" kata Arkana dalam hati menatap Zilan dan Johan rumit.
"Lalu siapa yang menyerang mu?" tanya Arkana kepada Zilan karena dari tadi siang dia sudah cukup sangat penasaran akan hal itu.
"komplotan mereka" jawab Zilan singkat padat dan jelas.
"Bagaimana kamu bisa yakin jika itu adalah kelompok mereka?" tanya Johan yang menatap tak percaya ke arah Zilan.
"logikanya mereka menyerang aku pada siang hari bukan malam hari atau di tempat yang gelap gulita. Kau pikir aku akan membiarkan mereka lolos setelah melukai tubuh mahal ku ini? Jelas tidak mereka harus mati" kata Zilan dengan penuh penekanan dan sebuah senyum miring terbit di sudut bibirnya yang terlihat sangat mengerikan.
"Kau membunuh mereka semua?" teriak Johan yang refleks kaget.
"yes I killed them all" jawab Zilan dengan seringaian dingin.
"Kenapa kau membunuh mereka semua harusnya kamu menyisakan satu atau dua orang untuk di interogasi" sentak Johan yang melayangkan tatapan tajam kepada Zilan.
"Untuk apa? Aku sudah mengetahui semuanya bahkan letak markas mereka"
"yang menjadi pertanyaan itu apa mereka juga musuh kamu mafia tengik?" Zilan bertanya dengan melayangkan tatapan tajam ke arah Arkana yang sedari tadi hanya diam.
"Sebenarnya bisa dikatakan musuh bisa juga tidak"
Bukan Arkana yang menjawab melainkan Johan yang mewakili Arkana sedangkan Zilan yang mendengar jawaban ambigu dari Johan jelas merasa kesal.
"Aku butuh jawaban yang pasti bukan yang ambigu. Dengar mafia tengik, mereka memang belum masuk dalam lingkungan manusia ini namun tidak ada yang tahu apa yang akan mereka lakukan untuk hari esok jadi lebih baik siapkan payung sebelum hujan" terang Zilan.
Arkana memang sebelumnya diam karena kesalahan kelompok mereka masih bisa di toleransi namun saat anak buahnya memberi laporan jika senjata mereka dirampok di tengah jalan membuat Arcana marah apalagi setelah mencari tahu siapa dalang dalam dalam perampokan itu.
Arkana bertambah emosi saat mengetahui jika yang menjadi dalam dari perampokan itu adalah kelompok itu kelompok yang mengusiknya beberapa hari ini dan sekarang Mereka mencoba untuk mengusik kehidupan pribadinya untuk kali ini Arkana karena tidak akan diam lagi.
"Kalau gitu Kenapa kita nggak Serang saja markas mereka" usul Zilan dengan smirk yang terlihat mengerikan bahkan Johan sampai merinding melihatnya.
"Kenapa nggak?" balas Arkana dengan menyeringai dingin.
"Astaga apa yang akan terjadi kedua es batu ini telah bersatu?" batin Johan menatap hari kedua orang yang ada di dekatnya sekarang.
"apa kita akan menyerang malam ini juga bos?" tanya Johan walaupun sudah merasa ngeri duluan memikirkan bagaimana kedua orang itu bereaksi nantinya yang pasti langsung membabat habis musuh.
"malam ini kita tunda dulu tapi besok malam kita akan bergerak" kata Arkana datar dengan senyum tipis muncul di sudut bibirnya lebih tepatnya bukan seniman namun sebuah seringaian yang tentunya Johan tahu jika Bosnya itu sudah tersenyum seperti itu maka akan ada ledakan besar yang ditimbulkan oleh bosnya.
"satu orang saja mereka sudah menakutkan bagaimana jika kedua orang ini bersatu? mereka akan mengguncangkan dunia bawah lagi"kata Johan dalam hati.
Setelah diskusi tentang penyerangan markas mafia yang mengusik Arkana ketiga pria itu memutuskan beranjak lalu menuju ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Namun tidak dengan Arkana yang malah menuju kamar yang memiliki pintu cat warna biru Zilan yang melihat itu mundur lalu menarik kera baju belakang Arkana menyeretnya menjauh dari pintu kamar cat biru itu yang merupakan kamar Aruna.
"Mau ke mana kamu mafia tengik?" tanya zilong yang menatap tajam Arkana.
"Si4l. malah ketahuan sama pria sinting ini" umpat Arkana dalam hati dengan memikirkan alasan apa yang akan harus di berikan kepada Zilan.
"Nggak ke mana-mana" jawab Arkana datar.
"Terus ngapain kamu di depan kamar princess? jangan-jangan kamu selalu masuk dalam kamar princess ya....?" sentak Zilan tajam Arkana.
"Berhenti menuduh ku sembarangan. aku tidak mungkin melakukan hal yang macam-macam kepada Aruna" kata Arkana santai.
"Walau aku sering memeluk dan menciumnya" lanjut Arkana dalam hati namun tidak mungkin dia mengutarakannya secara langsung bisa-bisa pria sinting itu membakarnya hidup-hidup jika tahu kalau Arkana setiap malam akan tidur dengan Aruna di ranjang yang sama.
Sejak dua minggu yang lalu Arkana selalu tidur di dalam kamar Aruna tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Zilan sendiri bahkan jika pun sudah larut dia akan tetap menyelinap masuk dalam kamar Gadis pujaannya itu sekedar untuk memeluknya.
"Kamu sedang tidak berbohong bukan?" ucap Zilan yang memincingkan mata menatap penuh curiga dan selidik ke arah Arkana.
"Berhenti menatapku seperti itu walaupun aku tidur dengan Aruna Aku tak akan mungkin menghamilinya dalam keadaan yang antara hidup dan mati seperti itu"terang Arkana yang tanpa menyadari telah membangunkan sosok iblis seorang Zilan.
Bugh
Zilan yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Arkana langsung memukul kepala Arkana dengan keras membuat Arkana meringis sakit akibat pukulan yang kuatnya tak main-main dalam memukulnya.
"Beraninya kamu memiliki pikiran kotor untuk menghamili Princess. mau aku patahkan tulang lehermu ha....?" gertak Zilan.