
"Mari kita makan" kata Raja Arthur lalu mulai makan di ikuti yang lain.
Mereka semua mulai makan dalam diam tidak ada yang mengeluarkan satu katapun hingga meja makan itu hanya ada kesunyian selain suara dentingan sendok.
Beberapa menit kemudian Raja Arthur dan yang lainnya telah menyelesaikan acara makan malam mereka masing-masing.
Dimana Delyana? Delyana makan malam di ruang lain walau posisinya sebagai Sanga pelindung namun dia tetap buka anggota kerajaan.
"Sekarang kita ke ruang tamu ada hal penting yang Ayahanda ingin bahas bersama kalian semua." kata Raja Arthur.
"Baik Ayahanda" balas Aruna dan si kembar Zelan dan Zilan.
Raja Arthur keluar dari ruang makan lalu berjalan menuju ruang tamu di ikuti yang lain. Sampai disana ternyata mereka sudah di tunggu oelh Delyana.
"Salam Yang Mulia, para pangeran dan Putri mahkota." Salam Delyana.
"Salam mu kami terima" balas Raja Arthur.
"Silahkan duduk" ucap Raja Arthur mempersilahkan mereka semua untuk duduk di tempat masing-masing.
Beberapa menit mereka habiskan duduk dalam kediaman tanpa ada yang membuka pembicaraan hingga Zelan yang bosan pun langsung membuka suara.
"Sebenarnya ada apa hingga Ayahanda mengumpulkan kami semua disini?" Tanya Zelan sekian lama diam.
Terlihat Raja Arthur menarik napas lalu menghembuskan pelan-pelan berulang kali lalu menatap semua orang di depannya.
"Bagaimana pelatihan kamu selama 1 tahun ini Putri Aruna?" Raja Arthur bertanya dengan tegas.
"Semua berjalan baik baik secara fisik maupun kekuatan dan daya tahan tubuh" jawab Aruna tegas namun bernada datar dan dingin.
Mendengar nada suara Aruna yang dingin dan datar membuat Raja Arthur dan Ratu Sofia tertegun.
"Tidak perlu tertegun Ayahanda, Ibunda Princess memang sudah banyak berubah" timpal Zelan yang ikut terkekeh lucu melihat ekspresi Raja Arthur dan Ratu Sofia.
"Haaah Ayahanda dan Ibunda sepertinya benar-benar ketinggalan tentang perubahan mu Princess" kata Raja Arthur mendesah kecewa.
"Itu bukan hal penting Ayahanda, Ibunda. Aruna tetaplah Princess kecil kalian semua" kata Aruna masih dengan nada yang sama yaitu datar dan dingin.
"Ayahanda senang jika kekutan kamu bertambah. Ayahanda harap ilmu yang kamu pelajari selama 1 tahun terkahir ini bisa menjadi bekal untuk kamu ke depannya."
"Yang perlu kamu ketahui Ayahanda telah mencabut gelar Kakak mu hingga saat ini Kakak mu Zelan bukan lagi putra mahkota kerajaan Blue." terang Raja Arthur melirik Zelan.
"Kenapa di cabut apa Kak Zelan buat kesalahan fatal hingga gelar putra mahkotanya di cabut" kata Aruna yang kaget menatap tak percaya ke arah Zelan sang Kakak sulung.
"Tidak ada kesalahan apapun yang di lakukan Zelan. Ayahanda melakukan ini karna dia memang bukan pewaris yang sebenarnya hingga gelarnya harus di cabut" terang Raja Arthur.
Mendengar itu Aruna terdiam dan merasa bersalah karna semua tanggung jawab itu adalah tanggung jawabnya tapi Kakaknya Zelan yang selama ini memikulnya.
"Sudah 3 bulan Ayahanda di desak terus oleh para Menteri dan para rakyat untuk menunjukan calon pewaris tahta yang sebenarnya." kata Raja Arthur
"Ayahanda berencana untuk mengadakan pelantikan Putri Aruna Minggu depan untuk memperkenalkan dia sebagai putri mahkota sekaligus calon pewaris tahta yang sebenarnya" terang Raja Arthur menatap Aruna dengan dalam.
"Jika itu rencana Ayahanda maka lakukanlah lagi pula Aru sudah siap sejak lama untuk muncul di publik" balas Aruna tegas.
"Syukurlah jika Princess setuju" kata Raja Arthur tersenyum senang.
Namun tiba-tiba senyum Raja Arthur memudar di ganti dengan wajah serius membuat semua orang bertanya-tanya.
"Ada apa Ayahanda?" tanya Aruna menatap Raja Arthur.
Deg
Untuk sesaat Aruna tertegun mendengar penuturan Sang Raja yang mengungkit tentang pertunangannya.
1 tahun lalu setelah mengetahui jika Aruna adalah calon pewaris tahta yang sesungguhnya Raja Arthur memutuskan menjodohkan Aruna dengan jendral terkuat di kerajaan itu.
Raja Arthur tau musuh Aruna kuat maka dari itu Raja Arthur memilihkan calon pendamping yang kuat pula untuk Aruna. Raja Arthur tau dirinya egois menjodohkan putrinya tanpa meminta persetujuan dari sang Putri tapi sebagai Ayah dia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya ke depannya.
Deg
Deg
Deg
Jantung Aruna tiba-tiba berdetak kencang saat memikirkan acara pertunangannya Minggu depan.
"Aku......"
Baru saja Aruna membuka mulut untuk bicara tapi tiba-tiba saja masuk seseorang yang langsung memotong kalimatnya.
"Salam yang Mulia, Pangeran dan Putri Mahkota" salam orang itu membungkukkan badannya.
"Salam mu kami terima." balas Raja Arthur
"Silahkan duduk" lanjut sang Raja.
Sosok itu langsung duduk di depan Raja Arthur sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Jendral Narenda sang tunangan dari Aruna.
"Baguslah kamu ada disini. saya ingin membahas acara pertunangan kalian Yanga kan di lakukan secara resmi Minggu depan bersamaan dengan pelantikan resmi Aruna menjadi Putri mahkota" terang Raja Arthur tegas.
Mendengar itu Narenda tidak langsung menyetujuinya melainkan melirik Aruna sebentar lalu menatap kembali Raja Arthur.
"Saya akan mengikuti apa yang di inginkan oleh putri Aruna" jawab Jendral Naren melempar senyum ke arah Aruna yang di balas oleh senyuman pula oleh Aruna.
Aruna menarik napas lalu mengeluarkannya pelan-pelan menatap serius ke arah Raja Arthur selaku Ayah dan Raja.
"Aru setuju lakukan apa pun Aru akan jalani" ucap Aruna tegas dan yakin.
"Jadi kalian sepakat untuk bertunangan Minggu depan?" Raja Arthur bertanya dengan wajah penuh binar kebahagiaan.
"Sesuai kehendak Ayahanda/Yang Mulia" jawab Aruna dan Narenda bersamaan.
"Bagus bagu itu sangat bagus." ucap Raja Arthur tersenyum bahagia.
"Maaf menyela Yang Mulia namun ada hal penting yang harus saya sampaikan mengenai Putri Aruna sebelum naik tahta" ucap Delyana tiba-tiba membuat atensi mereka langsung menoleh ke arah Delyana.
"Apa yang akan kau katakan?" tanya Zilan dengan datar dan dingin menatap tajam Delyana.
Mendengar pertanyaan itu Delyana menunduk lalu menarik napas dan mengeluarkannya secara pelan dan lambat.
Delyana menatap Aruna dan Jendral Naren lalu menatap kembali ke arah Raja Arthur yang kini tengah menatapnya juga.
"Mungkin apa yang akan saya sampaikan ini akan sedikit membingungkan namun sebagai keturunan dari sang pelindung untuk pemimpin maka saya akan sampaikan walau mungkin ini akan membuat kita semua merasa rumit" terang Delyana.
Mereka semua diam tanpa memotong ucapan Delyana mereka semua membiarkan Delyana berbicara sampai tuntas.
"Putri Aruna adalah Putri pilihan yang di kehendaki oleh Yang Mulia Ratu pertama pendiri dari kerajaan ini. Putri Aruna akan naik tahta menjadi pewaris namun pada generasi ke tujuh telah di ramalkan jika kepemimpinan Seorang putri akan memiliki dua orang Pria yang berdiri di sisinya sebagai pendamping dan pelindung dari sang pemimpin"