
Hoammmmm
Aruna yang baru bangun merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memiringkan kepalanya ke ke kanan ke kiri hingga terdengar suara seperti suara patah tulang.
"Ini jam berapa?" Guman Aruna yang melirik jam yang tergantung di dinding kamar.
"WHAT....?" Aruna membulatkan mata saat melihat jika jam sudah menunjukan pukul 11 pagi alias siang hari.
Aruna yang kaget sontak langsung bangun dan loncat turun dari ranjang. Namun, Aruna mengernyit bingun salah melihat jika tubuhnya sudah menggunakan piyama tidur. Dalam ingatan Aruna masih terekam jelas kegiatan mereka tadi malam bahkan kakinya pun masih bergetar.
Lalu siapa yang memakaikan dirinya piyama tidur pikir Aruna yang menatap penampilannya.
Ceklek
Di saat Aruna masih bingun dengan memikirkan siapa yang memasangkan piyama padanya bersamaan dengan itu pintu kamar mereka terbuka menunjukan Arkana yang masuk ke dalam kamar.
"Kamu sudah bangun..?" Tanya Arkana lembut menatap Aruna yang sedang menatapnya juga.
"Kenapa?" Ujar Arkana yang mendekat ke arah Aruna yang berdiam mematung.
"Si..siapa yang memakaikan aku pakaian?" Tanya Aruna dengan gugup.
Arkana yang mendengar pertanyaan dari istrinya langsung mengerutkan dahi namun melihat jika sepertinya Aruna sedang panik diam-diam Arkana menyembunyikan senyumnya.
"Kamu takut Hem.....? Tidak perlu takut. Aku yang memakaikan kamu piyama." Ucap Arkana dengan senyum manis.
Cup
"Kamu tidak ingin mandi..?" Bisik Arkana yang bibirnya sudah merambat ke leher Aruna.
Cup
Cup
"Kamu harus baby...." Bisik Arkana dengan suara rendah menahan sesuatu.
"A....aku mau mandi dulu..." Kata Aruna yang berusaha menolak.
"Jika begitu kita mandi bersama..." Bisik Arkana yang langsung menggendong Aruna.
"Eh..." Aruna hanya bisa menjerit tertahan saat Arkana dengan seenak jidatnya langsung mengangkat dirinya.
Dengan wajah berseri-seri Arkana berjalan masuk ke kamar mandi dengan langkah lebar. Sedangkan Aruna tak punya pilihan lain selain mengalungkan tangannya di leher Arkana.
Sampai di dala kamar mandi Arkana langsung menurunkan Aruna dan mulai membungkam mulut Aruna dengan ******* kecil namun mengarahkan.
Aruna yang tadi ingin menolak mulai terbuai dengan lembutnya ciuman Arkana berikan. Hingga entah sadar atau tidak sadar Aruna mulai membalas ciuman dan ******* Arkana.
Ciuman yang awalnya lembut kini semakin agresif dan menuntut. Ciuman Arkana merambat sampai di leher dengan tangan yang sibuk membuka kancing piyama Aruna.
Merasa tak sabaran Arkana langsung menarik cepat namun lembut baju yang di kenakan Aruna hingga dua gunung kembar terlihat sempura di hadapannya.
Cup
Dengan lembut Arkana mengecup dada atas Aruna membuat darah Aruna berdesir aneh namun juga memabukkan.
Arkana mulai mencium atau bahkan menghisap dan memainkan benda kenyal itu. Kulit putih bersih Aruna sangat kontras dengan tanda merah yang di tinggalkan Arkana di atas dada itu.
Beberapa menit berlalu kini kedua sudah tidak mengenakan apapun lagi. Tubuh keduanya polos tanpa penghalang sehelai benang pun hingga hubungan itu terjadi.
Tahulah hubungan apa yang di maksud dengan hubungan suami istri. Arkana terus memacu dirinya mengejar kepuasan yang sebentar lagi sepertinya akan meledak.
Setelah beberapa bermain akhirnya terdengar lenguhan panjang yang berasal dari bibir keduanya yang pertanda telah sampai pada puncaknya.
Arkana yang melihat Aruna yang lemas segera menggendongnya membawa dan memasukan bathtub yang telah ia isi sebelumnya.
"Kamu diam saja biar aku yang kerjakan semuanya..." Bisik Arkana yang dengan lembut mulai membasuh tubuh Aruna.
Dengan penuh kelembutan Arkana mulai memakaikan sampo pada rambut panjang sang istri. Tak sampai disana Arkana dengan penuh perhatian memakaikan sabun bahkan membersihkan area pribadi milik istrinya.
Setelah memastikan semuanya telah bersih Arkana dengan cepat membersihkan diri. Memakai handuk hanya di lilitkan di pinggangnya lalu mengangkat Aruna mendudukkannya di atas wastafel. Memakaikan jubah mandi dan menggendongnya membawanya keluar dari kamar mandi.