Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Mengejar Cinta


"Princes kamu darimana?" tanya Zelan dengan datar.


"Dari luar" Jawab Aruna singkat.


"Lalu kena..... Princess kenapa tanganmu berdarah ha....? teriak Zelan berlari ke arah Aruna.


"Kenapa bisa seperti ini princess" kata Zelan dengan cemas.


Zelan membawa Aruna ke sofa lalu menduduk dia disana. Zelan berlari cepat ke lantai dua untuk mengambil kotak P3K.


"Apalagi yang kau lakukan ha....? lihat tidak hanya tangan tapi kaki dan lengan kamu pun ikut terluka tidak bisakah kamu jalan memakai sendal princess"


"Aru hanya ingin dia cepat kembali Kak" kata Aruna pelan seperti bisikan.


"Bersabarlah Aru Kakak yakin dia akan kembali" ucap Zelan mencoba menyakinkan Aruna.


"Sampai kapan Kak? ini sudah 9 tahun tapi dia belum juga kembali" kata Aruna dengan suara yang naik 1 oktaf.


Deg


Zelan menghentikan tangannya lalu menatap Aruna yang menatapnya sendu. hati Zelan bagai di tusuk dan di remas-remas melihat mata indah sang adik sudah memerah.


"Sabar ya... Kakak akan berusaha untuk tetap mencarinya okey" ungkap Zelan yang menarik Aruna masuk dalam dekapannya.


"Hiks hiks hiks.... Aru rindu dia Kak... hiks hiks biasanya dia akan selalu menjaga Aru tapi lihat 9 tahun Aru hidup tanpa dia di samping Aru. dia janji akan jagain Aru tapi hiks hiks.. bahkan di saat kondisi Aru yang sudah seperti ini pun dia belum juga muncul hiks hiks"


Zelan yang mendengar keluh kesah Aruna hanya bisa mendongak agar air matanya tidak jatuh.


"Dimana aku harus mencari mu gadis pemburu? Adikku benar-benar merindukan sosokmu." kata Zelan dalam hati menatap langit-langit atap.


Sedangkan di lantai dua Zilan berdiri mematung di depan tangga. tangannya mengepal dengan erat saat mendengar tangisan sang Adik yang begitu menyayat hati dan terdengar sangat merindukan sosok yang dia sebut sebagai Gadis pemburu.


"Dimana pun dia akan aku cari. Aru benar-benar tersiksa kehilangannya dan ini semua karna salahku" guman Zilan yang berbalik pergi.


Zilan tadi sedang tertidur tapi terbangun karna teriakan Zelan yang mengatakan Aruna terluka membuat Zilan langsung menyusul Zelan namun suatu kenyataan yang di dengarnya mampu menamparnya dengan keras.


Kembali ke sisi Zelan dan Aruna yang masih terus berpelukan hingga beberapa menit kemudian sudah tidak terdengar lagi tangisan Aruna yang terdengar hanya denguran halus napas Aruna.


"Tidur" guman Zelan melihat jika sang Adik telah menutup mata menuju alam mimpi.


Zelan hanya terkekeh kecil lalu menggendong Aruna dengan bridal style lalu membawanya ke kamarnya.


Sampai di kamar Zelan meletakkan dengan tubuh Aruna dengan lembut dan penuh ke hati-hatian di atas ranjang empuk milik sang Princess.


"Kakak janji akan terus mencari sosok sahabatmu yang kau panggil dengan Dewi pelindung mu. Kakak akan terus mencarinya Kakak harap kamu mencoba untuk bersabar lagi" kata Zelan mengecup kening Aruna lalu berjalan keluar dari kamar Aruna.


"Walau sudah 9 tahan aku, Zilan, dan Ayahanda mencari gadis pemburu itu tapi kenapa kami tak pernah menemukannya di tambah kamu juga tidak mengetahui namanya" kata Zelan yang bersandar pada pintu kamar Aruna.


...****************...


Mentari tanpa malu memancarkan sinarnya yang begitu menghangatkan di pagi hari, semilir angin yang begitu sejuk, dan suara cekitan burung yang saling bersautan mampu membangunkan sosok cantik dari tidur nyeyaknya.


"Hoam..... sudah pagi ternyata" kata sosok itu yang tak lain adalah Aruna.


Aruna bangun lalu turun dari ranjang kan merentangkan kedua tanganya hingga terdengar suara seperti retakan pada tulang. Aruna berjalan menuju balkon lalu membukanya yang langsung menyuguhkan pemandangan dan udara yang begitu sejuk membuat Aruna menutup mata menghirup udara yang begitu sejuk.


Setelah puas Aruna kembali masuk lalu berjalan langsung ke kamar mandi hingga beberapa menit kemudian Aruna berjalan keluar hanya menggunakan jubah mandi yang langsung menuju Walk in close.


Aruna memoles wajahnya dengan make up tipis setelah merasa semua sempurna Aruna menyambar tasnya lalu berjalan keluar menuju lantai satu.


"Princess makan dulu" teriak Zilan melihat Aruna berjalan melewati meja makan.


"Berangkat kerja" jawab singkat Aruna tanpa menoleh ke Zilan.


"Princess tunggu"


Kali ini yang berteriak bukan Zilan melainkan Zelan yang langsung berdiri lalu berjalan ke arah Aruna.


"Ini Kakak sudah menyiapkan bekal untuk kamu sampai kantor kamu sarapan ya." ungkap Zelan.


"Makasih Kak" balas Aruna yang langsung mengecup pipi kanan Zelan lalu beranjak pergi dengan bekal di tangannya.


Skip


Tanpa ba-bi-bu Aruna langsung melahap isi dari kotak bekal tersebut hingga ludes tanpa sisa.


Setelah sarapan Aruna melihat jam yang menunjukan pukul 8 pagi. Aruna berdiri lalu menyambar tablet di atas mejanya lalu keluar dari ruangan miliknya menuju ruangan di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah ruangan sang Atasan.


Tok


Tok


Tok


"Masuk" sahut dari dalam.


Aruna langsung membuka pintu lalu masuk menghadap sang Atasan yang tak lain yaitu Arkana Zeus Albarack.


"Bacakan jadwal saya" perintah Arkana tanpa menoleh ke arah Aruna.


"30 menit lagi akan ada meeting dengan setiap kepala devisi, jam 11 nanti Tuan ada meeting dengan Tuan X sekalian makan siang bersama di Queen Cafe, Jam 3 sore Tuan meninjauh pembangunan Mall yang berada di lokasi H dan jam 9 malam Tuan menghadiri acara pertunangan dari anak Kolega bisnis Tuan" Aruna dengan serius membacakan setiap jadwal Arkana.


"Pertunangan?" beo Arkana


"Ya undangannya ada di laci meja anda dan di terimah oleh Tuan Johan" kata Aruna.


"Hm siapkan ruang meeting!" kata Arkana yang mengusir Aruna.


"Saya permisi Tuan" ucap Aruna yang undur diri lalu berjalan keluar dari ruangan Arkana yang langsung menuju ruangan yang akan di jadikan ruang meeting nanti.


Sampai disana Aruna langsung mempersiapkan semuanya termasuk kursi, minuman, dan lain-lain padahal itu sebenarnya bukan tugasnya tapi Aruna dengan senang hati melakukannya karna perintah dari orang yang dia sukai.


Beberapa menit kemudian Aruna sudah mempersiapkan semuanya langsung berjalan keluar dan menuju kembali ke ruangan Arkana.


Tok


Tok


Tok


"Masuk"


Ceklek


"Selamat pagi Tuan Johan" sapa Aruna yang melihat Johan sang asisten Arkana di dalam ruangan itu.


"Tuan ruang rapat telah siap" lapor Aruna kepada Arkana yang masih sibuk dengan Leptop di tangannya.


"Hm" Arkana hanya berdehem lalu berdiri merapikan sedikit penampilannya lalu berjalan di depan di ikuti oleh Aruna dan Johan di belakang.


Sampai di ruang rapat ternyata sudah di isi oleh setiap kepala divisi. melihat Arkana tersenyum tipis melirik Aruna yang menandakan Arkana menyukai cara kerja Aruna.


"Johan Mulai" kata Arkana padat singkat dan jelas.


Johan berdiri lalu mulai membuka rapat, setiap divisi satu per satu mulai maju dan menerangkan. rapat terus berlanjut hingga 1 jam lamanya baru rapat selesai.


Arkana berjalan keluar di ikuti Aruna dan Johan di belakangnya hingga sampai di dalam ruangan Arkana.


"Tuan apa Tuan benar-benar tidak mengingatku?" tanya Aruna tiba-tiba membuat Arkana yang ingin duduk terhenti.


"Tidak." jawab acuh Arkana.


"Saya gadis yang anda tolong waktu pembebasan penculikan dan saya yang menjadi Sandra pria tua perut buncit" kata Aruna.


"Hm"


Arkana hanya berdehem acuh laku duduk di kursi kebesarannya karna menurutnya apa yang di katakan Aruna tidak penting.


"Dan saya datang disini karna ingin mengejar cinta anda Tuan" ucap Aruna tegas.


Uhukk uhukk


Johan yang duduk di sofa langsung tersedak air liurnya sendiri saat mendengar pengakuan Aruna begitu gampang dan tidak ada jaim-jaimnya jadi perempuan.