
"Tahta atau penguasa kerajaan Blue ini tidak di tentukan baik itu putra atau putri. Di antara kalian bertiga Zelan sebagai putra Mahkota, Zilan dan kamu princess sebagai putri mahkota. di antara kalian bertiga belum tentu siapa yang akan menjadi Raja atau Ratu dari kerajaan ini" terang Raja Arthur dalam 1 kali tarikan napas.
"Jadi Kak Zelan belum tentu menjadi Raja?" tanya Aruna ikut menimpali yang di balas gelengan kepala oleh Raja Arthur dan Ratu Sofia.
"Tentu tidak karna yang akan duduk di tahta kekuasaan adalah kamu princess" jawab Delyana namun hanya di dalam hati.
"Bukankah kalian juga tau jika Ayahanda hanya seorang anak kedua tapi tetap naik menjadi Raja sedangkan masih ada paman kalian yang jelas-jelas anak pertama dan putra mahkota pada saat itu" terang Raja Arthur mengenang Kakaknya yang hilang entah kemana karna terobsesi dengan tahta untuk menjadi Raja"
"Lalu bagaimana caranya mengetahui siapa yang akan memimpin kerajaan ini?"
"Ikut Ayahanda"
Raja Arthur berdiri memasuki suatu ruangan yang masih berada di ruangan rahasia yang di ikuti oleh yang lain di belakang.
Sampai di dalam ruangan itu Raja Arthur menuju suatu pintu yang memiliki keamanan yang cukup tinggi. terlihat Raja Arthur menjajarkan matanya dengan kamera hingga pintu pertama terbuka, pintu kedua Raja Arthur meletakan tangannya di tempat kaca, di pintu ketiga atau terakhir Raja Arthur melukai jarinya lalu meneteskannya di atas batu delima yang di lilit ular.
Krekkk
Pintu ketiga di buka mereka semua mulai masuk dalam ruangan itu. di dalam ruangan hanya di terangi oleh puluhan lilin dengan di tengah-tengah ada sebuah pedang yang begitu tajam dan panjang tertancap di sebuah batu namun siapapun yang melihatnya mereka akan terpesona dengan keindahan pedang itu.
"Yang akan menjadi pemimpin kerajaan ini di tentukan dengan siapa yang bisa mengangkat Pedang pusaka itu" ucap Raja Arthur menunjuk pedang yang sedang tertancap.
Raja Arthur berjalan mendekat ke arah pedang itu lalu memegang gagangnya dan mencabutnya dengan pelan hingga terdengar suara gesekan antar dua besi saling bertemu.
Pedang itu terangkat namun tak bisa Raja Arthur angkat tinggi-tinggi atau pun harus mengayunkannya.
"Ayahanda memang bisa mencabutnya tapi Ayahanda tidak bisa mengangkatnya lebih tinggi apalagi menggunakannya. Ayahanda harap di antara kalian ada yang bisa menggunakan pedang ini." ucap Raja Arthur menatap sendu pedang itu.
Raja Arthur kembali menancapkan pedang itu di tengah-tengah batu seperti tadi. setelah selesai Raja Arthur kembali berjalan menjauh.
"Hari ini Ayahanda akan menguji kalian bertiga. apapun yang terjadi dan siapa pun yang menjadi pemiliknya Ayahanda harap kalian tidak saling membunuh" kata Raja Arthur yang mengungkapkan kekhawatirannya.
"Ayahanda tidak perlu risau walau pun Zelan tidak bisa menjadi Raja dan memimpin semua rakyat negara M tapi Zelan tidak akan dendam kepada siapa Yanga kan menjadi pemimpin kerajaan ini" balas Zelan tegas dan yakin.
"Sejak dari awal aku memang tak menginginkan tahta itu. aku hanya ingin sebuah kebebasan hidup tanpa ada tekanan itu saja" sahut Zilan menatap acuh pedang di depannya.
"Cukup aku mendapatkan maaf Princess semua tidak ada apa-apanya lagi. aku hanya berharap agar Princess segera memaafkan aku" kata Zilan dalam hati penuh akan harapan hubungan dia dan sang adik agar segera membaik.
"Lalu bagaimana dengan kamu Princess?" Raja Arthur beralih menatap kepada Putri semata wayangnya itu.
"Apa lagi aku. aku sama sekali tidak ingin menjadi pemimpin negri ini" tolak Aruna mentah-mentah.
"Masalah musuh ku saja yang di maksud guru belum aku tau siapa mau ngurus lagi kerajaan bisa mati mudah aku. musuhku saja sudah banyak jika aku menjadi Ratu maka musuh ku akan semakin banyak selain itu di luar sana akan banyak pihak yang menolak dan itu akan membuat kepala ku pusing tujuh keliling" gerutu Aruna dalam hati yang bergidik ngeri melihat tumpukan berkas di atas meja belum lagi akan selalu di kejar-kejar musuh.