Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
kejam


Teruslah bernyanyi karna saya sangat menyukai nyanyian kematian itu" lanjut Arkana


Arkana mengganti katananya dengan sebuah pisau yang berkarat lalu mulai menusuk-nusuk ke paha dan seluruh tubuh pria itu


Jleb


jleb


jleb


Sret


sret


Jleb


Tak


tak


tak


Pria itu hanya mampu berteriak kesakitan dan memohon ampun namun Arkana tak mendengarkan bahkan Arka seolah tuli terus menyerang pria itu dengan brutal.


"Rupanya kau sudah tidak sabar yah bertemu dengan Raja Yama" kata Arkana dengan senyum menyeramkan di bibirnya.


"Tenanglah akan segera aku kabulkan" lanjut Arkana lalu mengambil kembali katana miliknya yang tadi dia simpan.


"Bunuh saja saya Tu.....tuan" pria itu meminta Arkana untuk segera membunuhnya sungguh dia benar-benar menyesal sudah menghianati pria yang di juluki king dari segala king di dunia bawah itu.


Srek


Dalam satu kalian ayunan mampu membelah perut penghianat itu. pria itu hanya bisa menutup mata merasakan sakit yang luar biasa apalagi saat Arkana mulai mengeluarkan satu persatu organ dari tubuhnya seperti usus, lambung, ginjal, hati dan terakhir jantung yang di tarik sedikit demi sedikit hingga membuat pria yang sudah terkapar itu semakin tersiksa.


"Dasar menjijikan. di kasih hati minta jantung" kata Arkana dengan amarah yang meledak-ledak.


Tanpa perasaan Arkana meremas jantung di tangannya hingga darahnya muncrat kemana-mana salah satu wajahnya yang kini sudah bermandikan darah dari penghianat itu.


Arkana hanya tersenyum sinis melirik jantung di tangannya sudah kempes karna remasannya. Arkana dengan santai melangkahkan kakinya keluar tanpa memperdulikan jasad pria yang baru saja dia eksekusi.


Ceklek


Selama ini walau Arkana kejam dalam menyiksa mangsanya dia tidak akan pernah membiarkan wajahnya di kotori oleh darah apalagi darah penghianat.


"Wajah Tu....an" takut takut pria di samping Johan menunjuk wajah Arkana.


Sedangkan Johan hanya bisa diam tanpa suara ia tidak mau menjadi amukan sang singa itu pikir Johan menatap ngeri Arkana yang masih betah dengan wajah datar tanpa ekspresi itu.


"Bagaimana pengiriman senjata kita?" Arkana bertanya dengan datar dan dingin.


Glek


Pria itu sebuah saja Edward orang kepercayaan Arkana nomor 2 setelah Johan. Edward langsung langsung menelan ludah saat mendengar pertanyaan Bosnya yang begitu datar di tambah lagi Mod Bosnya yang tidak bagus dapat di pastikan dia akan menjadi samsak tinju oleh Bosnya.


"JAWAB....!" sentak Arkana semakin membuat Edward keringat dingin.


"Sen.....senjata kita 1 truk di..... di rampok oleh kelompok mafia Yang ada di kota X Bo....Bos" kata Edward terbata-bata.


BRAK


"Apa saja kerja kalian menghadapi ikan teri seperti mereka kalian bahkan kecolongan" bentak Arkana menatap tajam Edward.


"Kau juga Johan seharusnya berita ini sudah kamu ketahui jangan hanya menikmati goa para J*l*Ng saja yang kamu tau" bentak Arkana lagi menunjuk Johan.


"Astaga Bos saya bahkan hanya diam dari tadi lagipula sudah 1 Minggu saya juga tidak memasuki lembah kenikmatan itu karna menanti Nona Aruna tidak tau-taunya malah saya yang di hajar oleh sosok bertudung alias penyihir itu" kata Johan dalam hati.


Johan hanya bisa memasang wajah masam tanpa melakukan protes jangankan protes melihat saja muka Arkana Johan tidak berani.


"Maaf Bos" kata Johan dengan kepala tertunduk.


"Sudahlah persiapkan semuanya nanti malam kita akan membumi hanguskan markas mafia kelas teri itu. tak perlu membawa anggota cukup kita bertiga saja." kata Arkana datar dan dingin.


Setelah berkata seperti itu Arkana pergi meninggalkan Johan dan Edward di dalam ruangan itu.


"Apa Bos serius ingin membumi hanguskan Kelompok itu hanya kita 3 orang saja?" tanya Edward menatap Johan meminta jawaban.


"Masih syukur dia mengajak kita kamu kan tau sendiri jika Bos sudah ngamuk 500 orang mah hanya untuk dia sendiri" balas Johan enteng.


"Aku lupa kalau si Bos sudah ngamuk satu kota bakal di hancurin" Guman Edward bergidik ngeri.