
"Jangan-jangan ini berhubungan dengan gadis itu? jika benar maka aku akan benar-benar mati." guman Edward.
Edward semakin memainkan pegal gas dan rem hingga beberapa menit kemudian Edward sampai di halaman mension Arkana. Edward langsung memarkirkan mobilnya sembarangan lalu keluar dan berlari masuk ke dalam mension Arkana.
"Astaga..."
Edward hampir terjungkal ke belakang saat masuk dalam mansion Arkana ternyata sudah menunggunya di depan pintu.
"Terlambat 5 menit" ucap Arkana datar menatap tajam Edward.
"Maaf Bos"balas Edward dengan keringat dingin di keningnya
"Terima hukuman mu tapi ikut aku dulu"
Arkanaberbalik lalu berjalan cepat menaiki tangga hingga melalui kamar Aruna.
"Bukan gadis itu lalu siapa?"
Edward hanya bisa menyimpan menyimpan rasa penasaran dirinya dalam hati.
"Periksa dia cepat...!" sentak Arkana yang membuat Edward sadar dari lamunannya.
"Baik Bos"
Edward berjalan mendekati orang yang tengah berbaring tak sadarkan diri itu hingga matanya membolak saat dapat melihat dengan jelas wajah dari orang yang terbaring kaku di atas ranjang, Edward ingin bertanya tapi ini bukan waktu yang tepat.
"Ada apa dengan pria ini Kenapa bisa begini? Bukankah pria ini yang melepaskan si jekky dan si Jakky dari kandang lalu apa yang terjadi padanya? Apa dia diserang atau dia juga mempunyai musuh tersembunyi?"
Edward hanya bisa menelan bulat-bulat pertanyaan yang ada di dalam pikirannya karena sekarang dia benar-benar harus fokus jika tidak maka pria yang sedang memperhatikannya Sudah dari tadi itu akan membunuhnya.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia keracunan dari luka-luka itu atau bagaimana? Kenapa dia belum sadar juga? Apa dia benar-benar sekarat sekarang?"
Arkana langsung memboyong Edward dengan berbagai pertanyaan membuat Edward untuk sesaat tertegun namun saat mendengar pertanyaan yang selanjutnya membuat Edward pusing tujuh keliling mendengar menghadapi renteran pertanyaan dari Bosnya itu.
"Berhentilah mengomel Arkana, kau tahu? Kau menjadi cerewet sekarang..!" kata Edward
Arkana yang mendengar penuturan dari Edward langsung terdiam. matanya menatap Zilan dengan rumit dan dalam membuat Edward yang berada di samping Arkana hanya bisa mendengus kesal karena walau sudah lama berteman dengan Arkana namun dia tidak tahu apa-apa.
Sedangkan Arkana hanya terdiam menatap rumit ke arah Zilan yang ia akui mereka memang Bahkan tak pernah akur satu sama lain namun satu yang Arkana sadari dia sudah menganggap Zilan sebagai orang dekatnya bukan sebagai sahabat namun seperti saudara walau mereka berdua terlihat seperti tikus dan kucing namun sebenarnya mereka mempunyai misi yang sama yaitu membangunkan Aruna dari tidur panjangnya, karena Gadis itu merupakan pelipur lara untuk keduanya dalam hidup.
Aruna yang sebagai adik untuk Zilan dan Aruna yang sebagai orang di cintai oleh Arkana Namun sampai sekarang Gadis itu bahkan belum menggerakkan kelopak matanya sendiri walau begitu tak membuat keduanya putus asa karena mereka yakin Aruna akan bangun.
"Lagipula dia tidak keracunan atau terluka parah apalagi sekarat. pria ini memang terluka cukup banyak namun tidak akan membuatnya sekarat dia tidak sadarkan diri akibat dari darah yang terus keluar hingga membuatnya lemas" terang Edward.
"Apa kamu mulai meragukan keahlianku? kamu tahu aku tidak pernah salah dalam menganggnosa orang sembarangan atau abal-abal" balas Edward tenang namun nada nya seperti orang yang tersinggung.
Mendengar penuturan Edward membuat Arcana diam menatap Edward lalu menatap Zilan kembali. kakinya melangkah mendekat tanpa di sadari Arkana sudah berada di kepala Zilan. matanya menatap datar setiap luka sayatan yang ada pada tubuh Zilan yang Arkana sangat yakin itu sayatan sebuah belati.
"Entah apa yang diperbuat pria sinting ini? Apa dia mempunyai musuh? Atau mencari perkara sama orang lain tapi yang bisa melakukan ini dengan terang-terangan hanya orang yang ada di dunia bawah. jangan-jangan......"
"Si4l. aku lupa jika masih punya mereka yang belum aku bereskan" umpat Arkana yang meremas rambutnya secara kasar.
"Ada apa? Siapa yang belum kamu bereskan? "tanya Edward.
"Kelompok itu" jawab Arkana yang hanya mengeluarkan 2 kata saja membuat Edward tidak mengerti.
"Kelompok yang mana? Perasaan tidak ada kelompok yang...... Astaga.... Jangan bilang yang kamu maksud adalah kelompok itu" teriak Edward dengan mata yang melotot.
"Memang mereka. beberapa hari terakhir ini kelompok mereka selalu mencari perkara dengan kelompok kita, yang salah satunya menggagalkan transaksi bahkan mereka juga merebut Klien Klien kelompok kita"terang Arkana dengan kepalan tangan yang menguat.
"Bos....! jika mereka yang menyerang Zilan maka dapat dipastikan Jika kelompok itu juga mengetahui tentang nona Aruna yang ada di mension ini juga Bos..." kata Edward dengan panik kelompok yang mereka hadapi sekarang bukan kelompok biasa karena dari segi kekuatan mereka mungkin imbang.
Deg
Arkana langsung memegang di tempat dia hampir melupakan keberadaan Aruna dalam mension ini.
"****. Aku melupakannya" umpat Arkana yang langsung berlari keluar dari kamar Zilan menuju kamar Aruna yang berjarak 2 kamar dari kamar Zilan.
Sampai di kamar Aruna, Arkana langsung masuk ke dalam ruangan itu. matanya langsung di suguhkan dengan pemandangan sosok gadis yang tengah berbaring kaku di atas ranjang Gadis itu masih saja menutup matanya sejak kejadian 2 minggu yang lalu Arkana.
Arkana berjalan mendekati sosok itu dengan tangannya yang telulur mengelus surai rambut panjang sosok itu yang di mana rambutnya memiliki ciri khas sendiri yaitu akar rambut memiliki warna biru namun Arkana sangat menyukai warna biru di rambut sosok itu.
Sosok yang terbaring kaku itu tak lain dan tak bukan adalah Aruna.
"Kapan kamu akan bangun? Ini sudah dua minggu tapi kamu masih saja beta menutup Mata indah mu ini. kapan kamu akan bangun kamu tahu kakak mu Pangeran zilan baru saja di serang oleh orang dia terluka cukup parah Aku tidak tahu orang mana yang menyerangnya hingga membuatnya terluka cukup parah seperti itu"
Papar Arkana yang tangannya memainkan alis dan kelopak mata Aruna.
"Kamu tahu aku menantikan mata ini terbuka siang dan malam" ucapkan dengan nada getir.
Arkana benar-benar putus asa keadaan Aruna yang baik-baik saja tidak terluka namun sosok di depannya itu terjebak dengan dunia mimpinya sendiri menyebabkan arona yang tak ingin kembali sadar.
"Aku tak masalah Jika kamu menolak ku atau bahkan membenci ku karena itu memang sudah sewajarnya namun aku mohon kamu bangun jangan hukum diri kamu sendiri dan aku seperti ini karna aku benar-benar tidak sanggup" guman Arkana sendu.