
setelah berbicara panjang lebar bersama jenderal naren pria yang menjadi tunangan dari wanita yang dia cintai. Arkana memutuskan untuk kembali ke kamarnya meninggalkan Naren yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan namun yang pasti naren mengepalkan kedua tangannya membentuk sebuah kepalan yang begitu kuat saking kuatnya Naren tidak menyadari jika telapak tangannya terluka karena tancapan kuku panjang miliknya hingga dia disadarkan dengan suara wanita yang amat dia cintai.
"Sayang Apa yang kamu lakukan? Kamu melukai tangan mu sendiri" pekik sosok gadis yang baru muncul yang tak lain dan tak bukan adalah Aruna.
"Eh"
jenderal Naren yang mendengar suara dari Aruna langsung tersadar lalu melirik tangannya yang telah banjir akan darah.
"Lihat kamu melukai tangan mu apalagi yang kamu pikirkan? aku sudah katakan apapun masalahnya kita berdua akan menghadapinya bersama jadi berhenti menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak suka melihat orang yang aku sayang terluka cukup satu orang saja jangan ada orang lain lagi" ucap Aruna yang panjang kali lebar.
"Maaf sayang aku tadi... itu tadi di luar kesadaran aku" kata jenderal Naren mengecup kedua mata Aruna yang telah memerah karena menahan air mata.
"Kendalikan diri kamu sayang, jangan membuat aku takut" ucap Aruna pelan dan terdengar sendu.
"Maaf. jangan menangis aku janji tidak akan mengulanginya lagi" kata jenderal Naren yang membawa Aruna dalam pelukannya.
tanpa keduanya ketahui Arkana berdiri tidak jauh dari jarak mereka berdua mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana kedua manusia di depannya sana berpelukan penuh cinta.
tak mau menyaksikan hal yang membuatnya lebih sesat Arkana memilih segera berbalik meninggalkan naren dan Aruna yang masih berpelukan mesra yang tentunya membuat dada Arkana sesak.
BUGH
organel yang tak bisa menahan emosinya langsung meninju tembok membuat tembok itu sedikit retak dengan mengakibatkan tangan Kenzo terluka dan berdarah namun Kenzo tidak dapat merasakan kesakitan.
"Kenapa...? KENAPA....? kamu terus fokus padanya tanpa melirik ke arah ku sedikit saja. KENAPA ARUNA.....? kenapa di saat aku mencintai mu begitu dalam kamu malah berpaling ke lain hati. AKU MENCINTAI MU ARUNA... tapi kenapa kamu tidak pernah melirik ke arah ku. sejak pertemuan di kapal kala itu kamu bahkan menatap ku dengan tatapan asing tidak ada lagi tatapan lembut dan cinta padaku" kata Arkana yang terduduk di lantai dengan keadaan berantakan.
Rasanya Arkana benar-benar ingin menangis sekarang mencurahkan semua rasa yang di rasakan ya namun Arkana tak bisa melakukan itu karna dia sadar tidak ada yang bisa menghapus air matanya selain dirinya sendiri.
"Mungkin yang di katakan Johan benar, tak apa menjadi yang kedua yang penting kamu menjadi milik ku. jika begitu aku tak keberatan untuk bersaing dengan orang-orang itu. hanya dengan menjadi selir mu maka aku akan sedikit merasakan cinta mu kembali" Guman Arkana di iringi smirk di bibirnya.
"Hancurlah.... aku akan terus membuat mu merasakan bagaimana rasanya cinta mu di abaikan, dan perhatian mu tak di anggap. kehancuran ini baru permulaan kamu akan membayar lunas apa yang telah kamu lakukan pada peri kecilku" desis sosok yang menatap gambar Arkana lewat komputer di depannya.
Lewat Komputer?
Dari awal kamar Arkana telah di pasangkan CCTV bukan hanya kamar Arkana tapi semua kamar yang menjadi calon selir dari Sang Putri Aruna.
"Aku harap kamu sanggup bertahan sampai di garis finish" desis sosok itu tersenyum sinis ke layar Komputer yang menunjukan Arkana