Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Cemburu pada diri sendiri


"Saya bukan Arkana saya Zeus sang Pangeran Klan Merah" kata Arkana datar.


"APA...."


Mendengar penuturan Arkana membuat Zilan dan Aruna langsung menoleh ke arahnya.


"Pangeran Klan Merah?"


"Ceritanya panjang nanti saja ceritanya, yang terpenting segera adalah berikan aku pedang Merah itu" kata Arkana yang menunjuk pedang merah yang ada di tangan kiri Aruna.


Aruna yang melihat bola mata Arkana yang bewarna merah tanpa ragu segera menyerahkan pedang itu kepada Arkana.


"Sekarang tugas terakhir teteskan darah mu di atas pedang biru dan pedang merah tak perlu menggantungkan kedua pedangnya menjadi satu cukup teteskan darah saja"


Aruna lagi-lagi hanya menurut lalu menggores tangannya lalu menetaskan darahnya di atas kedua pedang itu. sinar merah dan sinar biru langsung menyinari dengan terang membuat Ravil yang sedang menyerang anggota Aruna langsung berhenti lalu menoleh ke arah belakang.


Ravil langsung membatu saat melihat jika pedang merah itu mengeluarkan cahaya terang saat berada di tangan seorang pria yang dia anggap lemah.


"SIAPA KAMU...?" teriak Ravil menatap tajam Arkana.


"Malaikat maut mu" balas Arkana terdengar datar dan dingin penuh aura intimidasi.


"SERANG..."


Mereka bertiga langsung menyerang Ravil secara bersamaan dengan Aruna dan Arkana yang menyerang Ravil dari udara sedangkan Zilan hanya sesekali akan menyerang karna dia tidak bisa terbangkan di udara dalam waktu lama.


"Zeus cepat habisi mahluk menjijikan ini. kau lihat Aruna sudah kewalahan kamu malah menyerang dengan lambat" gerutu Arkana menggelegar di pikiran Zeus yang mengambil alih tubuh Arkana.


"Sabarlah Kana aku juga sedang mencari cela kau tau mahluk ini bersekutu dengan iblis kekuatannya tidak main-main" balas Zeus sambil terus menyerang Ravil dalam jarak jauh namun mampu membuat beberapa luka sayatan di tubuh Ravil.


Jleb


Syat


Satu kali tusukan dan satu kali sayatan Aruna berikan kepada Ravil membuat Ravil menjadi semakin marah.


"Perempuan si4lan..." teriak Ravil yang kini langsung menyerang Aruna dengan membabi buta.


WUSSSH


Grep


"Hati-hatilah" kata Arkana yang menarik Aruna dalam pelukannya lalu menghindari serangan api dari Ravil.


"Syukurlah" guman Zilan menghela napas lega saat Aruna tidak jadi terhempas.


"Mau kemana kalian si4lan cepat kemari dan lawan aku jangan hanya menghindar" teriak Ravil yang semakin kesal Karna Arkana terus memeluk Aruna menghindari serangannya.


"Kelemahannya berada di kepala dan dada kiri. lihat luka tusukan dan sayatan yang kamu buat di dada kirinya tidak menghilang atau pun sembuh" kata Arkana yang dengan jarak yang lumayan jauh dari Ravil.


Aruna yang mendengar penuturan dari Arkana langsung memperhatikan dada kiri Ravil yang ternyata luka di dada kirinya memang tidak langsung sembuh begitu saja seperti luka di anggota tubuh lainnya.


"Zeus berhenti memeluk wanitaku lepaskan pelukan mu itu" teriak Arkana.


Zeus yang mendengar teriak Arkana yang terus berteriak untuk melepaskan Aruna langsung melepaskan pelukannya.


"Kana berhentilah cemburu ini keadaan darurat kamu membuatku pusing dan tidak berkonsentrasi tau" gerutu Zeus balas menggerutu kepada Arkana.


"Bagaimana aku tidak berteriak-teriak kamu memeluk Aruna"


"Aku memeluknya memakai tubuh dan tangan mu Kana apa yang salah"


"Ya tetap salah karna itu kamu bukan aku"


"Aku akan menyerang dari jarak dekat kamu menyerang dari jarak jauh" kata Aruna.


Arkana ralat kita panggil saja Zeus.


Zeus baru saja akan menganggukan kepala tanda setuju langsung mendengus kesal saat lagi lagi terdengar suara dari Arkana dalam pikirannya.


"Zeus jangan biarkan Aruna mendekati mahluk menjijikan itu lagi. kamu mau menjatuhkan harga diri aku sebagai laki-laki dengan membiarkan dia melawan mahluk itu Haaa...!"


"Biarkan aku saja yang menyerang dari dekat kamu cukup serang dari jarak jauh. beri tahu juga Pangeran Zilan pastikan kalian menyerang dada kiri terus menerus" kata Arkana.


"Baik"