Mengejar Cinta Sang Mafia

Mengejar Cinta Sang Mafia
Mainan


"Johan minta mereka untuk menunggu di ruang rahasia aku ingin bermain sebentar" ucap Arkana dengan sebuah smirk yang sangat menakutkan.


Johan hanya bisa bergidik ngeri melihat kemarahan Bosnya walau hanya samar-samar.


Sedang di tempat lain terlihat dua orang pria tampan berpakaian mewah namun pakaian itu semua sudah kotor karna mereka sekarang sedang berada di taman mengambil bunga.


Kedua pria tampan itu tak lain dan tak bukan adalah sang Kembar Zelan dan Zilan yang sedang berada di taman belakang istana.


"Pak Tua itu benar-benar sengaja mengerjai kita bagaimana bisa kita yang notabenenya seorang pangeran harus bermain tanah seperti ini" gerutu Zilan namun masih terus melakukan kegiatannya yaitu memotong bunga Lily dengan sangat hati-hati karna bunga itu adalah bunga kesukaan Aruna.


"Jika begini terus kita tidak akan bisa menyambut kepulangan Princess nanti" lanjut Zilan dengan nada lesu.


Zelan yang dari tidak bersuara dan fokus pada pekerjaannya langsung mengangkat kepalanya lalu melirik Zilan yang terus memotong bunga Lily dengan muka masam.


"Dasar Pak Tua. rupanya kau ingin memonopoli Princess, tidak akan aku biarkan itu terjadi" kata Zelan dalam hati.


"Zi hentikan kita harus segera pergi" kata Zelan menghentikan pergerakan tangan Zilan.


"Pergi kemana kau tidak lihat jika bakul itu belum full di isi oleh bunga Lily. Princess bisa marah Nanti bunga kesukaannya tidak ada di acara penyambutannya." balas Zilan.


"Biarkan pelayan dan pengawal yang mengerjakannya. kita harus segera bersiap Princess mungkin akan tiba 1 atau 2 jam ke depan dan kita belum memiliki apapun untuk hadiah Kepulangan Princess kita harus segera mencarinya Zi..." ucap Zelan panik karna waktu mereka mepet dan dia tidak punya apa-apa untuk di jadikan hadiah kepada Princess kecilnya itu.


"Ya tuhan bagaimana ini" pekik Zilan yang ikut-ikutan panik.


"Ayo tinggalkan ini" lanjut Zilan.


Zelan dan Zilan segera berlari keluar dari tanaman bunga bahkan pisau yang mereka gunakan untuk memotong bunga langsung di buang sembarangan arah oleh si kembar.


"Kau mau kemana Zi?" teriak Zelan saat melihat jika saudara kembarnya itu menuju pintu belakang istana.


"Mencari hadiah untuk Princess" teriak Zilan yang sudah dekat dengan gerbang belakang namun langkahnya langsung terhenti mendengar teriakan Zelan.


"Apa kau gila ha....? mau mencari hadiah untuk Princess di saat kondisi kamu seperti itu tidak akan ada tokoh yang mau menerima mu" teriak Zelan kesal.


Kenapa saudaranya itu begitu bodoh jika sudah menyangkut adik kecil mereka namun jika Aruna ada Zilan hanya akan diam seakan-akan tidak peduli dengan keberadaan sang Princess Aruna.


SRAKKK


Zilan yang tadinya berlari kencang langsung mengerem pandangannya turun lalu melihat penampilannya yang sekarang.


*$ht" umpat Zilan.


Zilan berbalik lalu berjalan menuju istana tanpa melirik Zelan sedikit pun. Zilan hanya berjalan lurus melewati Zelan begitu saja.


Sedangkan Zelan yang melihat sang kembaran hanya bisa terkekeh karna sifat Zilan akan menjadi kekanak-kanakan bila menyangkut urusan sang Adik.


Kembali ke sisi Arkana yang kini sedang menatap penuh binar mangsa di depannya dengan tatapan tajam setajam laser.


"Saatnya kita bermain" kata Arkana dengan suara yang terdengar mengerikan.


"Tu...tuan ampuni saya Tuan....." mohon pria di depan Arkana.


" Kau meminta pengampunan ku?" Arkana bertanya dengan nada meremehkan.


"Tuan... maafkan saya.. sa...saya terpaksa meng.... khianati Tuan karna... karna..... keluarga saya di tahan seseorang" kata pria itu terbata-bata.


"Benarkah" tanya Arkana dengan wajah sedih.


Melihat jika Arkana mulai luluh pria itu diam-diam tersenyum licik dalam hati sudah menyusun rencana untuk bisa keluar dari tempat ini.


"Benar Tuan bahkan orang itu juga meminta uang kepada saya jika tidak maka mereka akan memenggal kepala istri saya Tuan" lapor pria itu dengan memesan wajah paling sedih.


Sedangkan Arkana yang melihat sifat licik pria di depannya semakin muak apalagi dia dengan enteng membawa-bawa istrinya dan anaknya. benar-benar licik pikir Arkana.


"Tuan tolong beri saya kesempatan untuk bertemu dengan anak istri saya. saya janji Tuan saya tidak akan mengkhianati Tuan lagi saya berjanji" kata pria itu terlihat sungguh-sungguh namun sebenarnya itu hanya topeng.


"Tapi....... sayangnya aku tidak percaya" kata Arkana mengayunkan katana di tangannya ke lengan pria itu.


Sret


AAAAAAAAAAA


Pria itu berteriak kesakitan saat tangannya tebas oleh Arkana hingga terputus.


"Tangan ku.....!"


"Oh kau ingin yang satunnya lagi akan aku lakukan"


Srett


AAAAAAAAA


Lagi lagi pria itu harus berteriak kesakitan saat tangannya yang satunya di tebas lagi oleh Arkana hingga putus sekarang kedua tangannya sudah tidak ada lagi kini dia sudah menjadi pria cacat.


"Sa...dasar ib...iblis KA...kau benar.......benar se...orang iblis hiks ta...tangan.....ku" kata pria itu menahan sakit di kedua lengannya.


"Terima kasih saya sangat menyukai akan pujian anda berikan prok prok" balas Arkana dengan tepuk tangan meriah.


"Teruslah bernyanyi karna saya sangat menyukai nyanyian kematian itu" lanjut Arkana