
Hari terus berlalu tak terasa 2 Minggu telah berlalu. hubungan Aruna dan Arkana sedikit sedikit mulai membaik dan mereka sudah dekat satu sama lain.
Walau begitu Arkana sudah sangat bahagia namun juga harus makan cuka tiap hari. bagaimana tidak sudah 2 Minggu sejak Arkana mengajak Aruna ikut ke perusahaannya 2 Minggu yang lalu Aruna terus ikut Arkana namun sampai di perusahaan Aruna akan langsung berkeliaran mencari pria tampan.
Tidak ada yang berani menggunjing Aruna karna mereka tahu Bos mereka sangat menyayangi gadis itu. selain itu, Aruna di kenal sebagai Putri Mahkota Negara M padahal hal itu tidak benar tapi karna yang terekspos di luar hanya satu orang jadi mereka mengira yang menjadi putri Mahkota Negara M itu adalah Aruna.
Arkana hanya bisa menahan kekesalan dan rasa cemburu dalam dirinya setiap kali Aruna menghampiri pria lain. Bahkan Arkana di buat meradang setiap kali melihat Aruna bertemu dengan Johan.
Bagaimana posisi yang di tukar Aruna sudah 2 Minggu terus mengejar Asisten dari Arkana itu dan Arkana? Arkana bahkan di sisihkan begitu saja. setiap kali berdekatan dengan Aruna jantung Arkana begitu berdetak kencang tapi Aruna? bahkan di saat Arkana memeluknya pun gadis itu terlihat biasa saja berbeda dengan Johan yang hanya memberi perhatian kecil langsung tersipu malu.
Seperti hari biasa Aruna dan Arkana masuk dalam perusahaan dengan Aruna yang sedang bergelayut manja di lengan Arkana. Namun karna hari ini Arkana ada meeting penting dengan beberapa koleganya. Arkana terpaksa meninggalkan Aruna dalam ruangannya lalu menuju meeting bersama Johan di belakangnya.
Sedangkan Aruna yang di tinggal dalam ruangan Arkan langsung duduk dengan wajah cemberut.
"Malah di tinggalin. tau gini tadi Aru nggk ikut lagian Zilan menghilang kemana sih? masa pulang ke istana?" gerutu Aruna kesal.
Zilan memang telah pamit 1 Minggu yang lalu pria itu menghilang begitu saja setelah berpamitan tanpa ada yang tahu dia menuju kemana.
Tok
Tok
"Masuk" teriak Aruna yang sedang memainkan ponselnya.
"Selamat pagi Nona"
"Pagi. itu apa?" tanya Aruna saat melihat sesuatu yang di bawah orang depannya itu.
"Ini Snack Nona, Tuan Arkana yang meminta saya untuk menyediakan untuk Nona"
"Oh. simpan saja disitu" kata Aruna yang menunjuk meja di depannya.
"Syukur ada ini" Guman Aruna yang mulai membuka satu persatu bungkusan snack lalu memakannya.
Aruna terus makan Snack yang tersedia hingga Snack itu ludes tanpa sisa. Namun Arkana juga belum kembali padahal sudah 1 jam berlalu.
"Aku lapar tadi hanya makan 1 roti saja dan tambah snack-snack ini, mana kenyang" monolog Aruna yang menatap bekas-bekas bungkusan Snack yang berhamburan.
"Sudahlah, aku lapar lebih baik aku cari makan saja" Guman Aruna yang beranjak keluar dari ruangan Arkana.
Sampai di lobby Aruna menepuk jidatnya sendiri saat ia ingat jika ponselnya ketinggalan tidak hanya itu dia bahkan tak memegang uang sepersen pun di tangannya.
Namun langkahnya terus menuju restoran di depan kantor Arkana sampai disana Aruna langsung mendongak melihat restoran itu dengan memeluk perutnya yang sudah keroncongan.
"Aku sangat lapar tapi aku tidak membawa uang, bagaimana ini?" guman Aruna yang memegang perutnya cemberut.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri berdiri dua orang pria yang terus menatap ke arahnya bahkan salah satunya sampai terkekeh kecil.
"Aku tidak sabar menjemput jodohku" Guman pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Brayen dan Rigel yang baru keluar dari perusahaan Arkana karna mereka salah satu kolega yang ikut meeting. Tak tahan hanya melihatnya dari jauh, Brayen melangkah kan kakinya mendekat ke arah Aruna.
"Selamat siang Nona" sapa Brayen dengan tersenyum manis.
Aruna yang mendengar suara merdu nan lembut di depannya langsung mendongak hingga melihat sosok tampan dengan wajah tampan sempurna dan tubuh yang gagah perkasa.
"Wow tampan" kata Aruna menatap binar pria di depannya.
"Ingin makan siang bersamaku?"
"Makan siang? mau mau"
Brayen hanya tersenyum lalu menarik lembut tangan Aruna membawanya masuk ke dalam restoran itu.