
"PENGAWAL...... PELAYAN......." teriak pria paruh baya itu memanggil pengawal dan pelayang.
"Yah Yang Mulia"
Beberapa orang pria yang berseragam seperti pengawal datang menghadap di ikuti beberapa orang wanita yang pasti seorang pelayan.
"Ambilkan bunga Lily di taman belakang istana pastikan yang paling indah dan cantik" titah pria paruh baya itu.
"Siap Yang Mulia"
Para pengawal dan beberapa orang pelayan segera berlari menuju taman belakang istana karna disana hampir semua bunga di tanam terutama bunga Lily dan Tulip karna itu bunga kesukaan jantung kerajaan Blue.
"Aduh bagaimana ini bisa-bisa persiapan tidak selesai dan Princess sudah datang" kata Pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu adalah orang nomor 1 di negara M yang merupakan seorang Raja dari kerajaan yang begitu makmur dan sejahtera mempunyai sifat tegas, adil dan bijaksana. beliau adalah Raja Arthur De Bora Raja kerajaan Blue sekaligus merupakan Ayahanda dari Putri Mahkota Aruna Ases De Bora.
Jika di halaman depan Raja Arthur begitu sibuk dengan persiapan penyambutan sang putri mahkota maka berbeda dengan seorang wanita paruh baya yang sedang berada di dapur.
Wanita paruh baya itu terlihat mengintruksikan pelayan dan koki yang sedang bekerja.
"Jangan lupa udang harus menjadi menu utama dari udang kecap manis sampai udang pedas" instruksi wanita paruh baya itu.
"Hey perhatikan ayamnya jangan sampai gosong"
"Eh itu untuk apa?"
"Saya ingin memasarkan sup iga yang Mulia"
"Hm lanjutkan"
Wanita paruh baya itu melihat para koki dan pelayan yang sibuk mengerjakan apa yang menjadi tugas masing-masing.
Wanita paruh baya itu segera berjalan keluar lalu berpindah ke ruangan sebelah. di ruangan itu penuh dengan beberapa pelayan sedang menggiling atau pun mencampur tepung dengan bahan yang entah itu apa.
"Apa kuenya belum ada yang matang?" tanya wanita paruh baya itu.
"Sudah ada Yang Mulia" jawab mereka kompak.
"Mana? aku ingin mencicipinya dulu"
2 orang pelayan langsung berdiri lalu berpencar yang satu pergi ke dekat oven yang begitu besar dan yang satunya mengambilkan kursi untuk wanita paruh baya yang mereka sebut Yang Mulia.
"Silahkan duduk yang Mulia" kata pelayan tua meletakkan sebuah kursi kayu di belakang wanita paruh baya yang di panggil Yang Mulia.
"Silahkan di nikmati yang Mulia"
Pelayan mudah menyodorkan sebuah piring yang di atasnya telah di isi Kue yang berbagai jenis dan motif hingga terlihat begitu cantik dan indah.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum lalu menganggukan kepala dan mulai mencicipi satu persatu jenis kue di piring itu.
"Hm ini sudah enak lanjutkan pekerjaan kalian" kata sang wanita paruh baya yang menikmati kue.
Wanita paruh baya itu adalah orang nomor 2 di negara M yang merupakan istri atau permaisuri dari Raja Arthur.
Wanita paruh baya itu adalah Ratu Sofia De Bora yang merupakan Ratu kerajaan Blue dan Ibu kandung dari putri Mahkota Aruna Ases De Bora.
Bahkan di depan aula kerajaan Blue sudah banyak rakyat negara M yang menunggu kedatangan Sang Putri mahkota walau mereka tidak bisa melihat wajahnya setidaknya mereka bisa melihat secara langsung Sang putri kembali ke tanah kelahirannya.
Putri Mahkota Ases memang dari kecil telah di sembunyikan wajahnya dari publik walau begitu mereka tidak menyembunyikan keberadaannya.
Walau di luar sana banyak para pengusaha kaya raya memilih menyembunyikan anak mereka hanya karna masalah musuh maka berbeda dengan Raja Arthur. Raja Arthur justru keberatan jika putri semata wayangnya, putri kesayangannya itu harus di sembunyikan dan di diasingkan keberadaannya.
Raja Arthur tau setiap orang tua memiliki cara tersendiri untuk melindungi buah hati mereka sama seperti beberapa pengusaha yang memilih menyembunyikan anak mereka karna banyak musuh yang mengintai.
Begitu pula Raja Arthur, walau banyak musuh namun Raja Arthur tetap mempublikasikan putrinya putri mahkota walau pun belum di nobatkan secara resmi. jika pengusaha kaya raya akan menyembunyikan anaknya maka Raja Arthur memilih mengajarkan anaknya ilmu beladiri dari usia dini dengan pengawal yang super ketat hanya saja Raja Arthur sedikit kesulitan mengatur Putri semata wayangnya itu yang dimana selalu lepas dari penjagaan ketat para pengawal bayangan utusannya.
Sedangkan di luar istana keadaan semakin ramai membuat keempat pria yang baru saja turun dari mobil langsung merapat bingun kerumunan di depan istana Blue.
"Zi ini ada kenapa pada kumpul di depan aula semua" tanya pria tampan yang berpakaian lengkap dengan warna hitam.
"Nggak tau Ze kita kan baru kembali" jawab pria di sebelahnya.
"Pangeran mari kita lewat jalan belakang karna jika kita lewat depan kita tidak mungkin bisa lewat dengan kerumunan ini"
"Baiklah" jawab kedua pria itu.
Kedua pria itu tak lain dan tak bukan adalah Zelan dan Zilan sang Putra mahkota dan pangeran ke 2 Kerajaan Blue. mereka berdua baru kembali dari berburu selama 2 hari jadi mereka berdua tidak tahu apa-apa.
Zelan dan Zilan terpaksa mengikuti saran ajudan mereka untuk lewat pintu belakang agar bisa masuk ke istana. Zelan maupun Zilan hanya bisa menurut melihat begitu banyak orang di depan aula kerajaan.
Beberapa menit kemudian Zelan dan Zilan akhirnya bisa masuk ke dalam istana tapi mata mereka langsung di suguhkan dengan istana yang di sulap seperti acara pernikahan membuat keduanya langsung saling melirik.
"Ze... apa Ayahanda akan menikahkan kamu?" tanya Zilan menatap lekat saudara kembarannya itu.
"Jangan ngaco kamu." jawab Zelan tajam.
"Lalu kenapa istana berubah seperti akan ada penyambutan acara pernikahan bahkan para pengawal dan pelayan tidak menyadari kehadiran kita disini" kata Zilan.
Mendengar itu Zelan langsung memerhatikan sekitar. benar...! bahkan pelayan dan pengawal hanya melewati mereka berdua tanpa menyapa atau menunduk hormat.
"Atau Ayahanda ingin menikahkan kamu Zi?" kata Zelan melirik Zilan yang sudah menatapnya tajam.
"Apa kamu bosan hidup ha....? bagaimana Ayahanda menikahkan aku di saat Ayahanda tau jika aku tak ingin menikah dengan siapa pun" balas Zilan dengan datar.
"Sudahlah lebih baik kita cari Ayahanda dan bertanya langsung ada apa sebenarnya" kata Zelan yang tidak ingin berdebat lagi.
Akhirnya Zelan dan Zilan berjalan mengelilingi istana hingga mereka melihat Ayahanda mereka sedang mengomel tidak jelas dengan beberapa orang pelayan dan pengawal.
"Sudah aku katakan, jangan letakan warna lain di tangga itu semuanya harus biru...!" kata Raja Arthur kesal.
"Salam Ayahanda" Salam Zelan dan Zilan menundukan sedikit kepala mereka di hadapan Raja Arthur Ayahanda mereka berdua.
"Eh kalian sudah kembali?" tanya Raja Arthur dengan senyuman terbit di bibirnya.
"Ada apa sebenarnya Ayahanda mengapa istana di hiasi seindah ini. apa akan ada calon menantu kerajaan Yanga kan datang?" tanya Zelan sopan.
"Bukan Itu putra ku, Ayahanda dan Ibunda Ratu sengaja mempersiapkan ini untuk menyambut kepulangan kembali Putri Ases di Istana ini" kata Raja Arthur dengan senyum bahagianya.
"APA...."