Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 99 : Bayangan Adly Vs Fidya Anaknya Kakaknya


Kacamata miliknya disimpan pada sebuah kotak dan dia menatap lukisan di dinding, begitu berwarna juga bentuknya tidak berwujud pasti namun terlihat bagus ketika dipandang begitu lama. Dia menghembuskan napas melihat korban yang bertambah lagi, bukan pasukannya melainkan warga di seluruh negara.


Ada gas yang menyebar disetiap sisi kota menyebabkan orang-orang berubah menjadi mayat hidup, puluhan diantara mereka berubah menjadi raksasa dan juga para binatang berubah menjadi ganas. Kebanyakannya anjing.


Di kota yang ditempatinya saat ini hewan ataupun serangga belum berevolusi, karena itulah mereka mengamankan binatang-binatang tersebut ke tempat yang lebih aman. Mau bagaimanapun juga mereka tidak boleh dibiarkan punah begitu saja.


"Namun, keadaan ini sangatlah sulit.. harus bagaimana caranya ?" Tanya dia dalam hati. Tidak lama suara decak jam terdengar, dia memikirkan kalau keheningan ruangan ini akan segera menghilang dengan sendirinya digantikan suara dentuman keras. Entah kenapa dia bisa yakin seperti itu, karena sudah beberapa kali mengalaminya.


"Zakkiii!!" Teriak seseorang sembari menggedor pintu. Lelaki itu mengambil kacamatanya dan memasangnya, dia memelas ketika tahu kalau keheningan akan pecah begitu cepat padahal dia mengharapkan sedikit saja ketenangan. Mempersilahkan siapapun itu untuk masuk dia lihat kalau Adly yang masuk sontak membuatnya kaget.


Hendak bertanya kenapa dia berada di sini, rambutnya hitam dengan mata abu datang padanya dan penampilannya 360° berbeda. Melihat ini Zaky kaget ini bukanlah Adly, melainkan bayangannya membuatnya bingung.


"Apa yang terjadi pada kakak ?!" Tanyanya sambil menggoyangkan tubuh Zaky dengan cepat.


"Tenang! Dan jauhkan tanganmu itu dari kedua pundakku!!" Bentaknya. Melepaskannya dengan segera Adly menatapnya sinis, dilihat Zaky dia tidak menyukainya dari dulu mau bagaimanapun juga bayangannya ini sangatlah merepotkan karena sikapnya itu jauh berbeda dengan yang aslinya.


Hanya saja setelah kekuatan Elentry Adly lenyap, kekuatannya jadi tidak menentu atau lebih tepatnya hampir menghilang. Dari regenerasi serta yang lainnya, dulunya dia menggunakan bayangannya dengan cara yang paling brutal seperti membuat para penjahat yakin kalau mereka telah membunuhnya dengan mengelabuinya dengan bayangannya.


Ataupun menjadikannya sebagai bom hidup, dan saat memalsukan kematiannya juga sama. Ini begitu aneh bagi Zaky sendiri karena saat ini bayangannya sedang berdiri tanpa perintah apapun dari yang asli atau mereka sering menyebut yang asli sebagai kakak, itu sedikit lucu entah kenapa.


Tiba-tiba Widya datang dengan napas memburu, dia memasuki ruangan dan kelihatan letih seperti baru berlari...


"Duh! Hahh.. hahh.. Jangan berlari kayak gitu dong!" Ucapnya sambil terengah-engah. Adly bayangan meminta maaf sembari menggaruk kepalanya, dan Zaky menatap gadis yang barusan datang dengan sinis sekali. Dia tersenyum masam menceritakan semua yang terjadi serta bagaimana bayangan ini bisa muncul.


***


Malam hari yang begitu tenang Adly terdiam di atas kasur, dia tidak bisa melihat apapun tapi bisa mendengar suara hembuskan napas istrinya. Dia mengangkat tangannya dan meraba-raba bantal disekitarnya mencari kepala Widya, tidak lama dia menemukannya dan mengelus rambutnya.


Memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa ikut berpartisipasi dalam pertarungan dia tidak bisa ikut kalau tidak bisa melihat, dan kaki palsu ini bagaikan penderitaan. Karenanya dia tidak bisa melakukan hal kecil sekalipun.


Tidak lama dia teringat bayangannya, maksimal bisa membuat 17 bayangan dulu dan sekarang kekuatannya sangat lemah. Dia mungkin tidak bisa membuat sebanyak itu, tetapi dia akan mencobanya dan memerintahkan mereka untuk ikut bertarung.


"Aku harus membuatnya," ucapnya. Dia mengangkat tangan yang lain dan keluar cahaya merah, asap mulai berkumpul beserta darah mengalir keluar dari asap tersebut dan menggumpal membentuk tubuh manusia. Dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya mirip dengannya terkecuali warna rambut dan iris matanya.


"Kak, apa yang---"


"Kalian ada berapa ?"


"Hmm ? Apa maksudnya.."


"Jumlah kalian, ada berapa maaf.. saat ini aku buta."


"Buta ? Mana mungkin," ucapnya sembari membuka matanya lebar. Giginya bergetar dia marah dan menggerakkan seperti anjing, dengan sorot mata tajam iris matanya berubah menjadi merah dan tangannya mengeluarkan pedang kristal.


Merasakan kalau bayangannya mengeluarkan kekuatannya Adly menghembuskan napas, dia mencoba meraih tangannya tapi dia malah hampir terjatuh dan untungnya dihalangi oleh bayangannya agar tidak terjatuh. Menenangkannya Adly berhasil membuatnya tenang, tetapi dia tidak habis pikir kenapa kakaknya bisa dikalahkan.


Yang terpikir olehnya adalah Fauzan atau Zaky yang bisa melakukannya, karena kekuatannya Adly itu takkan bisa melawan mereka berdua. Serangan area dengan serangan berfokus pada satu musuh berbeda, dalam beberapa kali serangan Adly bisa langsung musnah dan kalah.


"Mana mungkin aku terima hal ini!" Ucapnya sembari marah. Saat hendak ingin membalas perkataannya pintu kamarnya terbuka, dia melihat seorang anak kecil berambut putih iris mata merah dan pupil emas sedang berdiri membawa pisau dapur. Tidak tahu ini anak siapa bayangan Adly terdiam menatapnya.


Sedangkan Fidya sendiri tahu kalau ayahnya tidak punya adik ataupun kakak yang mirip dengannya, tangannya memegang pisau dengan erat. Dia melemparkan pisaunya ke atas, pisau itu berputar lambat begitu juga dengan sekitarnya waktu melambat dan dia segera mengambil pisau itu melesat ke depan bayangan Adly.


Anak perempuan itu hendak menebas lehernya, tetapi dia berhasil menghindarinya dengan membuat kristal mengelilingi lehernya. Waktu kembali berjalan seperti semula, Fidya melakukan tendangan berputar mendarat tepat pada pelipis kiri membuatnya terlempar ke dinding namun dengan waktu yang lambat.


"Jangan berisik," ucapnya. Benturan keras antara tubuhnya dan dinding tidak terdengar seperti senyap tidak terdengar apapun, dia tidak ingin ibunya atau ayahnya mendengar suara bising ini. Sedangkan Adly sendiri bingung dengan apa yang terjadi karena tidak bisa mendengar atau merasakan apapun, seperti suasana serta semua hal disekitarnya dikendalikan.


Mendekati bayangan Adly dia mengangkat kerah bajunya dan melemparnya keluar lewat jendela. Jatuh tersungkur dia bangun, lalu memegangi kepalanya yang bercucuran darah.


"Dari penampilannya itu anaknya kakak, tapi kenapa dia sangat kuat ? Bahkan waktu, suara, dan apapun itu!" Ucapnya agak kesal.


Tidak lama Fidya ikut keluar mengacungkan pisau di depan wajahnya membuat bayangan Adly sedikit ketakutan, hendak dia ingin mendekati kakaknya untuk meminta pertolongan tetapi dia tidak bisa bergerak. Dan merasakan kalau tubuhnya sangat berat saat melihat ke bawahnya ada batu yang seperti sedang tenggelam ke tanah.


"Gravitasi ?!" Ucapnya dalam hati kaget. Melihat anak ini memperberat tubuhnya, dia sangat kaget luar biasa kaget dengan kemampuannya melebihi siapapun yang dikenalnya. Tahu kalau dia tidak bisa menang dia menghembuskan napasnya lalu menerima kematiannya.


Dusta menghela napas, dia melihat genangan air dan air itu membeku berubah bentuk menjadi bilah pedang menusuk lalu mencabik-cabik tubuhnya hingga hancur berkeping-keping. Melihat ini anak itu puas dan memasuki kamar ayahnya lagi, dia melihat kalau ayahnya sedang kebingungan.