
Mendengarkan penjelasan dari dokter yang menjelaskan soal penyakit yang kumiliki membuatku merinding mendengarkannya saja, ada sebuah obat yang sangatlah mahal saat ini. Dokter itu menjelaskan tentang obat itu, aku menghela napas sembari memikirkan kalau mungkin dia akan meminta bayaran untuk obat itu dariku.
***
Kami pulang dari rumah sakit, aku sudah mendengarkan ayah menjelaskan kenapa dia tidak membeli obat itu dariku. Memang.. aku pasti sadar kalau obat itu sangatlah mahal, terlebih lagi penyakit yang ada dalam diriku ini masih belum mengeluarkan gejala. Tidak, sebelumnya hanya gejala saja.
Tapi kenapa lelaki itu memberikanku obat itu ? Padahal masih gejala dan belum membesar, bukannya dia membuang uangnya yang besar itu. Sekaya apa dia ? Dia juga membayarkan biaya saat aku dirawat sebelumnya. Aku pingsan 3 hari dan dia juga yang merawatku.
Dalam perjalanan aku terus memikirkan itu sampai rumah sekalipun. Memasuki rumah, aku berjalan menuju kamarku dan aku membaringkan tubuhku ke kasur sembari merasa kalau tubuhku memang terasa ringan. Sebelum ini rasanya begitu berat dan aku terkadang tidak bisa melakukan aktifitas yang berat.
Namun, karena orang itu aku bisa menjadi seperti sekarang dan bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa kulakukan sebelumnya.
"Aku ingin menemuinya!" Teriakku. Tanganku meraih ponsel dan memasuki sosial media, memasukan namanya ke pencarian aku menemukan banyak orang yang namanya sama. Sebelumnya, aku bertanya pada suster siapa orang yang membayarkan biaya saat aku di rumah sakit.
"Adly ya ?.. nah ketemu!" Aku memukul kasur. Menemukannya membuatku senang, melihat dia tidak mempunyai banyak teman hanya puluhan saja dan ya nampaknya semua yang dikenal olehnya saja yang mau dijawab permintaan pertemanannya.
Mengirimkan permintaan aku tidak bisa mengirimnya pesan kalau dia tidak menjawab, saat kulihat alamatnya juga tidak ada dan nomor ponselnya sudah aku berulang kali telepon. Tidak dijawab atau sudah tidak digunakan lagi olehnya, aku sangat jengkel sekali tidak bisa menemuinya.
Ketukan pintu tidak lama terdengar aku menghembuskan napas, keluar dari kamarku melihat kalau ada ibu yang tengah terdiam dan sedikit tersenyum manis.
Dia tersenyum, "anu.. Widya, apa kamu tidak ingin mencari orang yang sudah menolongmu ?"
"Eh ? Buat apa ?"
"Itu loh, dia kaya! Kamu takkan incar dia ?! Kamu sangat cantik! Percaya pada ibu! Bahkan kamu dah cerita kalau banyak lelaki yang ingin kamu di sekolah, kan ?!"
"Gak, kalaupun aku ingin menikah! Aku akan lihat kayak apa orangnya dan bakal nyakitin aku atau gak ? Itu aja, bye mah!" Jawabku sambil menutup pintu. Mendengar ibuku mengoceh lagi aku membanting pintu sudah bosan aku mendengarnya bicara panjang lebar seperti itu.
Ketika ada remaja yang ayahnya kaya dia pasti akan langsung memintaku untuk mendekatinya, sekarang ini ? Ah, ya mungkin dia cukup baik namun kenapa aku jadi malah penasaran dengannya. Mana mungkin ada orang yang membuang 3,7 milyar dengan mudah ?! Pasti ada yang salah, aku sudah membantunya atau apa. Kayaknya ada yang salah.
Hanya saja kupikir lagi aku sangat merasa kalau dia cukup aneh,.. maksudku kejadian saat aku bertemu dengannya pertama kali rasanya cukup aneh. Tiba-tiba aku ada disebuah gang dan aku pingsan di tangkap olehnya. Maksudku... Seingatku aku sedang berjalan di jalanan.
"Widya, dengarkan ibu dulu!!"
"Berisik! Jangan jodohkan aku dengan lelaki mapan terus! Aku mau yang sederhana tapi dia sesuai dengan keinginanku, titik!"
"Apa yang kau bicarakan ?! Cepetan keluar! Ada dia di sini!"
"Hoo.. memang siapa namanya ?!"
"Eh ? Itu anu.. Lidya!"
"Ah, kenapa ibu membodohi aku ?" Tanyaku dalam hati. Aku mengambil bantal dan selimut ingin tidur siang, sebelum itu aku melihat kembali akun sosial media miliknya kalau dia masih belum menerima permintaan pertemanan dariku. Ada sebuah postingan aku lihat itu di-posting pada tanggal yang sangat lama.
4 tahun yang lalu ? Pantas saja wajahnya agak berbeda dalam foto ini, hanya saja saat aku lihat tempat ini di mana kakekku tinggal. Hmm.. mungkin saat libur panjang ingin meminta ayah buat liburan ke sana dan sekalian mau cari dia.
***
Nah, rasain tuh kau tidak bisa menjodohkan diriku dengan orang lain lagi di tempat ini. Kayaknya aku bakal betah kalau tinggal di tempat semacam ini, yah mungkin saja.
Sesampainya di depan rumah kakek, aku turun lihat nenekku yang datang dengan larian yang cepat. Memelukku dengan cepat sontak membuatku kaget, umurnya sudah cukup tua tapi sama sekali tidak ada keliatan tua-tua sama sekali.
"Nek, lepasin Widya sakit."
"Ah, yaa maaf!" Nenek melepaskanku. Aku menghela napas lega, melihat ke seberang jalan mataku memperhatikan seorang remaja berambut putih dan seseorang di sampingnya, mereka sedang menggendong anak kecil. Banyak anak kecil yang berada di sana.
Tidak bisa menahan keinginan untuk menghampirinya, aku menyebrang tanpa melihat kanan kiri. Saat kusadari kalau ada sebuah mobil truk yang ingin menabrakkan dirinya padaku, aku mencoba untuk lari kembali.
Saat kupikir sudah terlambat, Adly datang padaku memeluk tubuhku dan aku di lempar olehnya ke tepi jalan. Badanku berguling dan menghempas ke tanah, aku lihat kalau dia tidak ada di jalan. Sedangkan ayahku dan ibuku datang.
"Kamu tidak apa ?!"
"Ah.. tapi, mana dia ? Adly mana ? Orang tadi ?!"
"Iya yah ? Kalau dia ketabrak harusnya badannya itu hancur kelindas!"
"Ayah!" Bentak ku sambil memukulnya.
"Benar kan ?!" Ayahku bertanya. Memang benar apa perkataannya tapi itu keterlaluan, sekarang saat melihat mobil yang ingin menabrak aku sebelumnya dia berhenti dan aku melihat seseorang ada di atas mobil itu. Adly ?! Kenapa dia bisa berada di atas sana?!
Terdiam aku hanya bisa memperhatikan dirinya saja yang sedang turun dan berjalan kemari, supir itu melihatku dari kaca spionnya. Dia menghela napas, aku minta maaf.. takkan pernah aku lakukan lagi!
"Ibu gak nyangka, saat dia lempar kamu ke tepi jalan saat mau ketabrak dia bukannya lari tapi malah melompat ke depan mobil."
"Hah ?!" Kami semua yang mendengarkan ibu kaget. Kecuali nenek yang terdiam, mendengar penjelasan dari ibu itu cukup masuk akal tapi tidak bisa aku percaya karena tadi juga aku lihat dia turun dari atas mobil itu. Sekarang, dia datang padaku dan menghela napas.
Di depanku dia berjongkok, memperhatikan kakiku dan mengambil sesuatu dari saku bajunya. Sebuah perban ? Dengan tisu dia membersihkan luka yang ada di kakiku.
"Aww.. sakit!"
"Jangan gampangan! Kau ini juga.. kenapa menyebrang tidak hati-hati ?! Anak kecil juga tahu soal itu!"
"Maaf... Aku ingin ketemu kamu aja."
'aku bukan artis atau apapun yang bikin orang klepek-klepek. Jadi, jangan terburu-buru kalau ingin bertemu denganku. Kau pikir aku ini apa ?"
"Ahahaha.. iya yah bener juga!" Aku tertawa meladeni candaannya. Nah, bisakah aku berbincang dengannya cukup lama ?