
Semua mata ketakutan ketika menatapnya dari jauh sekalipun, rasanya seperti keputusasaan memenuhi otak mereka ketika melihat ini. Kelihatan seperti cacing raksasa, dia melilit sebuah gedung dan melahapnya bulat-bulat. Begitu juga zombi yang dimakannya.
Namun, entah sebuah keberuntungan atau bukan perusahan robotika telah menyelesaikan proyek mereka sejak lama. Kerangka telah selesai dikembangkan seusai pertarungan dengan Zaky dan Adly saat itu, pergerakan telah direkam dan diolah menjadi data untuk pertarungan mereka.
Saat ini hanya masih ada tiga robot yang bisa digunakan untuk bertempur, yang pertama robot manusia yang awalnya bekerja seperti di pertambangan ataupun lainnya. Sekarang, mereka bertarung dengan zombi memakai senjata jarak dekat dan senapan serbu biasa.
Adly bergumam, "memang mereka sangat bagus dan kini kita bisa mengurangi jumlah anggota Belati Putih yang harus turun."
"Robot-robot ini telah mengambil data pertarungan kita saat itu, menurutku.. data mereka yang menggunakan senjata jarak dekat darimu, sedangkan bagi penembak jitu dariku."
"Memang benar... Seperti yang dilihat, robot yang menggunakan senjata jarak dekat kelihatan gegabah seperti Adly walaupun seperti itu.. Adly punya kekuatan regenerasi dan tahan akan rasa sakit, tetapi mereka akan langsung mati."
"Fauzan terlalu bahaya, untuk mengambil data pertempuran begitu sulit untuk mereka karena orang ini bisa bergerak layaknya angin."
"Hey hey.. jangan bicarakan orangnya ketika ada di sampingmu, Zaky."
"Maaf.. aku hanya mengatakan kenyataannya saja!" Zaky berkata sambil membersihkan kacamatanya. Mereka melihat keadaan dari kamera yang dipasang pada Drone di atas memperhatikan pertarungan yang ada, dengan bantuan pasukan robot membuat mereka semua untung.
Anggota Belati Putih menyelamatkan warga dan robot itu memberikan peluang serta waktu agar mereka bisa segera pergi, dengan adanya keberadaan mereka dalam pertempuran sangat menguntungkan. Sehingga.. hanya ada beberapa saja yang punya luka fatal.
Kalaupun seperti itu belum bisa dianggap sebagai keuntungan ketika seperempat lebih warga dari kota ini menjadi mayat hidup, dan orang yang memainkan panggung ini sedang berada di atas gedung juga. Mengamati semuanya dengan tubuh barunya.
Memiliki cakar dan tubuh seperti serangga, tubuhnya gemuk dan dia memiliki mata merah yang mengerikan..
"Ahahaha.. Belati Putih, kalian takkan memang untuk melawanku! Berharap sajalah!" Teriaknya. Dia terlihat berteriak dengan senyuman menjijikkannya.
***
Melihat situasi yang kacau balau ini membuat Ryan merinding melihat ini semua, sungguh pemandangan yang mengerikan dan menyakitkan baginya. Sesudah berjalan cukup lama, akhirnya dia hanya melihat lautan manusia yang telah menjadi zombi dan meninggal untuk selamanya.
Robot raksasa dengan ukiran lima belas meter berdiri di depannya. Tubuhnya diwarnai abu-abu dan hitam, senjatanya adalah sebuah senapan serbu dan pedang berada di punggungnya. Juga, banyak hal lainnya yang ada pada robot itu.
"Robot untuk melawan zombie raksasa ya ? Bagus juga, tetapi mungkin ini akan tetap sulit walaupun ada bantuan para mesin ini," ucapnya. Dia kembali fokus dan mengisi peluru kembali, menoleh pada rekan-rekannya juga mereka masih membidik dan menembak zombi yang ada.
Begitu juga dengan Ryan yang takkan pernah membiarkan satupun dari mereka melewatinya, karena Vina dan anak dalam kandungannya itu adalah keluarganya.
Hanya saja, cacing itu mulai bergerak lagi dan mau meratakan mereka semua sekaligus.. tetapi saatnya robot ini beraksi..
"Uwahh!" Beberapa orang terkagum. Dia menghentikan cacing itu dan mencengkram tubuhnya, langsung di bantingkan ke tanah dengan sekuatnya. Tanpa ampun meriam pada pundak kirinya keluar dan menembak.
Cacing ini langsung terbakar dan masih hidup walaupun baru saja berpisah. Seperti cicak kehilangan ekornya, tetap saja ekornya ini belum diam dan masih menggeliat. Seperti cacing pada umumnya.
Tidak ingin hal yang sama terulang lagi pilot yang ada di dalam dada robot itu tersenyum..
"Siapkan misil pada tangan kiri, aktifkan pelindung bahu..."
"Baik!.. misil selesai dipasang dan pelindung telah aktif!"
"Akan aku balas kalian!" Ucapnya dengan semangat. Tangan robot itu terangkat dan mengeluarkan misil yang banyak, menghantam tubuh cacing bersamaan dan suara ledakan terdengar begitu keras.
Surya meregangkan tangannya, "Hahh.. akhirnya selesai!"
"Ketua, apa kita bisa memindahkan peluru itu agar tidak disimpan pada bagian bahu ?"
"Eh ? Kenapa.. kalau begitu, kita akan cepat membuatnya dan tidak perlu repot-repot mengubah bentuknya!"
"Kalau pelindung bahu hancur dan semua peluru itu meledak karena serangan musuh, tidak tanya musuh saja yang terkena kerusakan melainkan pilot juga sama halnya. Dan mungkin kematian akan menunggunya.
Memikirkan tempat penyimpanan misil pada tubuh robot Surya hanya terpikir pada bahu saja, tetapi itu cukup buruk. Kalau terkena serangan akan berakhir sudah semua ini. Memotongnya kecil-kecil mudah baginya, tetapi rasanya mengagetkan kalau musuh bisa membuat senjata tempur seperti ini.
Menghela napas panjang, dia mengeluarkan sebuah senapan dan menembakkan pelurunya ke langit beberapa kali. Menandakan bahwa tempat ini sudah bersih dari para mayat hidup dan sekarang semuanya bernafas lega.
"Ezra, bagaimana situasi di sana ?"
"Buruk! Banyak yang terluka dan kami membutuhkan pil regenerasi segera.."
"Berapa banyak ?"
"Melebihi seratus, apa kalian bisa menyediakan sebanyak itu ?" Tanya Ezra pada Fauzan. Tiba-tiba kedengaran suara ledakan, panggilan langsung terputus dan mengalami gangguan. Dia duduk di kursinya lalu menatap langit-langit kalau dunia sedang mengalami kiamat.
Fauzan membisu memikirkan banyak sekali hal sekaligus dan sedang mencoba untuk tenang menghadapi situasi ini. Mendengar tangisan orang-orang dan terbawa emosi akan menjatuhkannya, hanya saja sekarang mungkin saatnya untuk berdiskusi lagi dengan para petinggi.
Berjalan keluar dari ruangan dia lihat ke jendela ada Sarah beserta timnya sedang menembaki musuh, dilihat dari peralatan yang digunakan mereka sedang bermain aman. Walaupun seperti itu hal ini efektif tetapi kerusakan kota jadi korbannya, memang selama ini tidak ada korban jiwa yang terlalu banyak. Tetapi rumah dan bangunan jadi korban.
"Membutuhkan waktu yang lama untuk membangunnya kembali," ucapnya dalam hati. Dia mendatangi Sarah dan menepuk pundaknya membuat gadis itu hampir menembakan peluru padanya, Fauzan yang terbiasa menunduk agar tidak terkena walaupun dia belum menarik pelatuknya.
Gadis ini menghela napas dan memberinya kecupan pada pipi, "maaf ya.."
"Ok lupakan itu, aku butuh kamu dan yang lainnya di ruangan rapat.."
"Baik aku akan mengumpulkan mereka."
"Sarah, makasih buat ini!" Fauzan menunjuk pipinya. Seketika Sarah memerah, dan rekan-rekannya tersenyum. Dia tambah malu dan pergi dengan larian yang cepat tidak main.
Fauzan tersenyum masam, "Sungguh, dia terlalu malu atau ... "
"Tidak ketua, Sarah hanya malu pada Anda saja."
"Eh ? Apa maksudmu ?"
"Dia sering dipanggil pemalu saat bersamamu saja."
"Apa maksudmu, sih ?"
"Dia bersikap seperti itu di depanmu saja, dan peka sedikit!" Rekannya memasang peluru. Dia menargetkan zombi raksasa dan mengenai lehernya, walaupun kepalanya sudah hancur juga dia tetap bisa bergerak untuk beberapa menit. Walaupun ada juga zombi yang langsung mati sesudah kepalanya hancur.
"Lalu, apa maksudnya ?" Tanya Fauzan dalam hatinya. Masih tidak paham.