
Alia menguap begitu panjang dengan mulut terbuka, ayahnya hanya memegang gamepad saja dari tadi tanpa melepaskannya. Mereka kelihatan punya kesibukan masing-masing, tapi bukan kesibukan yang memiliki faedah sama sekali. Sedangkan seorang gadis tengah memperhatikan mereka berdua, sembari terpikir kalau beginilah keseharian anak dan ayah dalam rumah tangga ini.
Ayahnya bermain game dan anaknya menonton ayahnya bermain, Widya mengambil handphone miliknya dan melihat peta. Ada banyak sekali tempat yang bagus, berpikir untuk membawa mereka keluar rumah agar tidak merasa sumpek kelihatannya.
Dia menghampiri meteran listrik dan mematikan listrik total semuanya, "Baik-baik..! Selesai, kita akan keluar hari ini."
"Yahhh...!"
"Ajarkan anakmu dengan ajaran yang sehat, bukan begini.. bagaimana kalau dia nantinya harus bekerja diluar rumah ?"
"Pekerjaan banyak yang online sekarang, tidak usah dipikirin juga, kali."
"Itu pikiranmu.. tapi sesekali lah kita keluar dari rumah, cari angin kek apa gitu.."
"Itu kipas angin ada," jawab Adly sambil menunjuk pada kipas angin yang sudah mati. Widya menepuk jidatnya sambil tersenyum masam, dia duduk di sofa kemudian melipat kedua tangannya. Menatap anak dan suaminya, tidak pernah terpikirkan olehnya kalau akan menikah diusia muda tapi itu tidak membuatnya kecewa atau apapun malah senang.
Mengambil gelang kristal yang diberikan Adly padanya sebelumnya, dia memakainya pada lengan kanannya dan wajah Adly langsung curiga saat istrinya memakai gelang tempur itu. Tidak lama seperti kubus Adly, benda itu mengeluarkan rantai dan melesat pada Adly mencengkram tubuhnya.
Gadis itu menggusur lelaki itu untuk ikut bersamanya, Alia juga karena melihat tatapan ibunya langsung takut dan mematikan konsol game yang sedang hidup. Dia mendatangi ayah ibunya kemudian keluar dari rumah, Alia mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
Alia memperhatikan penampilan ayahnya yang sama seperti dulu, "apa kita gak perlu pakai penyamaran ?"
"Oh ya ayah lupa.. AI.. hidupkan penyamaran!" Perintah Adly. Tidak lama kemudian muncul topeng hitam dengan mata merah bercahaya, saat memakainya penampilan lelaki itu berubah dalam sekejap. Rambutnya menjadi hitam dan memiliki wajah yang cukup berbeda, sekarang setelah melepas topengnya dia lihat kalau batas waktu pemakaian hanya empat jam saja.
Karena tidak ingin menghabiskan waktu lelaki itu menarik tangan Widya, dia melihat jalanan kalau ada dua taksi yang datang padanya. Saat dipanggil taksi itu malah lewat mengabaikan panggilan Adly, taksi kedua berhenti di depan mereka berdua.
Mereka masuk membuka pintu mobil dan duduk dengan tenang, hanya saja Widya langsung merasa heran karena seakan pernah menaiki taksi ini. Melihat supirnya dia menendang pintu mobil kemudian menarik Alia untuk keluar, wajah anak itu juga sama halnya dengan ibunya.
Adly yang heran bertanya pada mereka, "kalian kenapa ?"
"Keluar Adly, kau tahu dia orang yang membuatku hampir gila."
"Kayaknya belum puas diberi pelajaran dariku," ujar Alia dengan tatapan mata pada supir itu. Supir itu mandi keringat karena melupakan kejadian itu, entah keajaiban atau apa dia dibebaskan begitu saja tanpa syarat apapun asalkan tidak mengulangi perbuatannya kembali.
Lelaki itu tersenyum lebar di bangku belakang mengeluarkan sebuah pistol, dia menodongkan senjata api itu pada supirnya. Memperlihatkan kartu identitas miliknya, tertera kalau Adly memakai nama samaran Aldy dan bergabung dengan pasukan Belati Putih sebagai pasukan biasa.
Supir itu auto panik kemudian keluar dari mobilnya melarikan diri tanpa menoleh ke belakang, Adly tersenyum lebar dan membuka pintu mobil.
"Kalian bisa masuk sekarang, mobil ini milik kita sekarang. Benar.. merampok dari perampok!" Kata Adly dengan wajah senang. Kedua perempuan itu masuk ke dalam mobil dengan wajah yang begitu heran, saat itu juga Adly menaikan alisnya saat berada di tempat duduk supir. Bingung, kah ?
***
Disebuah taman Zian menguap seraya memandangi langit dengan wajah yang malas, di sampingnya ada seorang gadis yang sedang meminjam pundaknya. Lelaki itu tersenyum sambil mengelus rambutnya, dia terpikir kalau umurnya belum diketahui pasti panjang atau pendek. Karena Safire juga tidak tahu, namun yang pasti Adly akan memiliki umur melebihi 300 tahun atau mungkin kurang.
Sarah terbangun dari tidurnya dikarenakan mobil itu terus saja berisik hingga suara klakson juga terdengar, saat memperhatikan siapa yang berada dalam mobil itu wajahnya begitu kaget. Tidaklah menyangka kalau sahabatnya berada dalam mobil, padahal tidak bisa mengendarai sepeda sekalipun.
Fauzan menyenderkan kepalanya Sarah pada pohon lalu mengalihkan pandangannya ke langit, "lihat.. ada bintang jatuh ? Kok pagi hari gini ada, sih?"
"Mana ?"
"Terus aja lihat," balas Fauzan sambil pergi berlari menghampiri mobil itu. Seketika arah mobil itu datang padanya, Fauzan mengeluarkan plat besi kecil dan melemparnya ke mobil itu. Setelah tertempel pada depan mobil kendaraan itu berhenti bergerak, Adly dan semuanya menghembuskan napas lega karenanya.
Alat atau plat itu digunakan untuk menonaktifkan apapun benda yang mempunyai mesin, hanya saja takkan bertahan lama. Mungkin beberapa jam akan aktif kembali, Adly keluar dari mobil itu sambil kelihatan mual dan benar saja dia muntah.
Fauzan mendatangi tempat mobil itu, "kalian ngapain ? Gila ya lu, Adly ? Udah tahu naik sepeda aja gak bisa."
"Aku pengin coba saja tapi malah jadi bencana, untung aku datang ke lokasi kamu."
"Melacak teman yang sedang kencan itu tidak baik, loh."
"Jujur saja aku ingin tiduran di rumah dan menaikan rank, itu saja.. tapi Widya maksa mo keluar."
"Sesekali keluar sajalah," balas Widya sambil datang padanya. Alia sedang digendong olehnya, Fauzan melihat anak itu dengan heran. Dia memiliki tubuh kuat serta stamina yang diatasnya rata-rata, hanya saja walau pikirannya sudah dewasa tapi masih kekanak-kanakan begini.
Sadar akan tatapan Zian padanya, Alia menatapnya balik, "jangan lihat aku orang cabul."
"Heh ? O-orang apa ?!"
"Hanya orang gitu saja yang menatap perempuan dengan penuh naf--"
"Ya ya lupakan!" Kata Widya menyela pembicaraan mereka. Dia tahu kalau Alia akan mengeluarkan ajaran dari ayahnya, sebanyak apa ajaran yang diberikan ayahnya itu terlalu berlebihan ataupun sangat tidak waras. Dia harus menuntun Alia ke arah yang benar, sebagai ibu itu sangatlah wajar.
Melupakan itu sejenak ia melihat ke tempat Sarah yang melihat langit saja menatapnya dengan saksama, Alia menunjuk gadis itu. Dia mengatakan "bibi!" Membuat Fauzan kaget.
Bergerak dari tempat itu, Adly mengambil granat lalu berjalan bersama mereka. Setelah cukup jauh, dia melemparkan granat itu pada mobil dan mengaktifkannya dari jauh dengan ponselnya.
Fauzan memandang diirinya dengan tatapan yang begitu kesal, "orang ini kenapa bikin masalah sih ? Gak pikir panjang sekali!"
"Yah.. itu bukannya Adly, memang begitulah orangnya."
"Kurasa takkan bisa ada yang merubah sifat ayah. Aku lebih suka mode pembantainya."
"Oi..! Itu buruk, Alia!" Kata Zian dengan wajah yang memelas. Anaknya juga sudah begini, ayahnya sudah hancur jangan bawa anaknya juga lah. Itu yang sedang dipikirkan Fauzan saat melihat kejadian itu, bahkan banyak orang yang panik.