
Ryan yang hampir kehabisan peluru mengambil tongkat yang ada di atas meja dan memukul tiga dari mereka, akan tetapi tidak berefek apapun pada zombi yang dipukul. Melemparkan tongkat itu ia lari masuk ke tangga berlari ke lantai atas mendapati sebuah pintu, tidak ada pilihan lain selain masuk tapi ia tidak bisa membukanya karena dikunci.
"Apa seseorang ada di dalam ?!" Kata Ryan berteriak. Tidak lama kemudian ada ketukan dinding, terdengar jelas kalau ada seseorang berada dalam ruangan. Ryan kaget mendengar suara itu. Berdecak kesal ia melepaskan tembakan terakhir ke zombi yang ada di sampingnya kemudian berlari kembali, mendekati kaca ia menghancurkan kaca itu dan melompat keluar dari bangunan. Lewat jendela.
Dirinya menimpa tumpukan sampah membuatnya bisa selamat, Ryan menghembuskan napas lega tetapi dia memikirkan seseorang yang ada di dalam ruangan. Tak lama kemudian ia mendengar suara gemuruh besar dan langkah kaki raksasa, Ryan tidak tahu apa yang harus dilakukannya tetapi ia harus menyelamatkan orang itu terlebih dahulu.
Walau sudah menghabisi zombi sebanyak mungkin hingga pelurunya habis, ia tidak bisa melanjutkan ini kalau sendirian seperti ini. Terpaksa ia menekan tombol di Earbuds memanggil Kein dan Jack untuk masuk ke kota membantunya, dalam panggilan ada terdengar suara tembakan terdengar. Kein bicara dengan Ryan kalau ia tidak bisa bergerak.
Mereka sedang tidak ada dalam bahaya hanya saja tengkorak dan zombi tidak membiarkan mereka lewat, jumlah musuh terlalu banyak jadi dia tidak bisa bergerak. Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengincar kein maupun Jack sekalipun. Seperti penjaga yang melindungi gerbang kota, itu yang sedang dipikirkan Kein saat sedang berbicara dengan Ryan lewat Earbuds miliknya.
"Tapi jangan khawatir, ketua! Kami bisa mengirimkan perlu padamu, tapi kami akan kembali ke markas untuk mengambil lagi persediaan!" Kein berkata sembari menembak. Suara tembakan masih terdengar jelas oleh Ryan, Ryan pun mengangguk dan menunggu peluru yang akan dikirimkan Kein melalui Drone. Biasanya seperti itu.
Ryan berdiri dari tempat sampah lalu melihat pintu masuk, melihat sekitarnya tidak ada benda yang bisa digunakan selain pipa. Mengambil pipa yang ada di dekat kakinya ia melihat kalau zombi sedang datang padanya, dengan cepat Ryan mengangkat pipa itu dan memukulnya dari atas. Sekuat tenaga.
Kepalanya langsung hancur hanya menyisakan leher saja, tidak lama kemudian zombi lain datang padanya. Ryan memukul mereka satu persatu memancing mereka untuk berlari Ryan mulai memancing mereka satu persatu dan membunuh mereka, memancing zombi untuk mendekat begitu mudah tetapi akan sulit memancing semuanya sekaligus.
Cukup pura-pura hendak kau ingin memukul kakinya zombi akan berlari mendekat padamu, tapi tidak berpengaruh pada zombi suhu tubuh dan zombi pemuntah. Mereka tidak sebodoh itu diprovokasi begitu saja. Akan tetapi Ryan tahu kalau ini takkan bisa terus berlanjut sepanjang hari, menyadari itu ia lihat kalau Drone dengan peti kecil sedang dibawa olehnya.
Ryan berlari ke Drone itu dan mengambil petinya, membuka peti sembari berlari ia lega melihat kalau pelurunya banyak.. tapi kebanyakan dari mereka adalah peluru ledakan. Peluru yang sangat tidak cocok untuk digunakan di dalam ruangan, menghembuskan napasnya Ryan terpaksa memasang peluru tersebut dan menembak ke tanah pijakannya zombi. Namun, zombi lain turut berdatangan membuatnya semakin kesusahan.
Menunggu mereka berkumpul Ryan menembak dan menembak terus menerus, tak lama setelahnya ia mendengar kalau zombi raksasa sedang menuju kemari. Berdecak kesal kembali, dia ingin pergi memasuki bandara lagi akan tetapi banyak zombi pemuntah yang masih menghalanginya.
Mengeluarkan pedangnya, ia tahu kalau akan dimarahi oleh semuanya tetapi dia tidak bisa membiarkan seseorang mati. Melemparkan pedang itu ke segerombolan zombi pedang itu tertancap pada sebuah dinding, setelahnya Ryan segera pergi berlari dengan cepat dan saat ia berlari keluar dari pedang itu Sambaran petir menyambar seluruh zombi yang ada di sekitarnya.
"Apa ini ?" Tanya Ryan heran. Dia melihat anak kecil sekitar 10 tahun diikat oleh akar berduri, duri-duri itu menusuk tangannya dan kakinya. Ryan mendekat padanya terapi anak itu mengangkat tangannya menunjuk lantai dipijakan kaki Ryan. Menoleh ke bawah ada akar yang berjalan, menyadari kalau ini jebakan Ryan melompat ke belakang dan akar itu hampir saja menangkap kakinya.
"Oh aku paham.. dia tidak memakannya karena menjadikannya umpan ya ? Tapi, nampaknya aku harus bertindak cepat. Dia sudah kelihatan tidak kuat lagi," ujarnya sembari membidik. Mengganti senapan serbu ke pistol, ia bisa membuat ledakan kalau sampai menggunakan peluru ledakan, ledakan itu bisa mengenai anak kecil yang dijanjikan pancingan oleh zombi tanaman ini.
Ryan merasa kebingungan malah membuang pedangnya, membidik kelopak bunga ini dia menembak tapi bunga itu sama sekali tidak bereaksi. Menembak bagian bawahnya bunga itu kelihatan bergerak.
Ryan melemparkan senyuman, "oh sepertinya aku tahu cara untuk menghancurkan tubuhmu itu!"
Mengambil belati dari sabuknya, Ryan melemparkan pisau itu ke tangkai bunga dan bunga itu mulai kelihatan seperti tidak bergerak. Pisau itu bergerak sendiri dan membelah tubuhnya begitu cepat seperti kilatan mata, belati yang dimiliki setiap orang dari Belati Putih pasti memilikinya.
Pisau itu akan mencabik-cabik musuhnya yang telah ditandai dengan darah, saat bilah pisau menyerap darah dari musuhnya. Ia akan secara otomatis menyerang mahkluk itu apapun yang terjadi, sekalipun bilahnya menjadi dua atau pecah juga tidak peduli. Sebelum pisau itu hancur menjadi debu dia takkan pernah mundur.
"Menyeramkan!" Ryan mendekati gadis itu. Sama sekali tidak ada luka tebasan dari pisau, pisau yang bisa membedakan mana musuh mana orang yang tidak boleh dilukai. Ryan tersenyum masam, "andaikan Shinta juga seperti pisau itu hatinya."
"Ayah.. kamu datang untuk.." lirihnya pelan. Ryan menatap wajahnya, saja sebelum sempat menyelesaikan perkataannya ia tidak sadarkan diri. Ryan menghela napas lega dan menyenderkan tubuhnya ke dinding. Mengambil perban dari sakunya ia membalut tangan dan kaki anak gadis ini, sama sekali tidak ada gejala ia akan jadi zombi.
Zombi tanaman tidak membuat manusia menjadi mayat hidup, hanya zombi pemuntah yang bisa melakukannya. Akan tetapi, mereka sama bahayanya dengan zombi lainnya.
Melihat pisau yang masih mencabik-cabik musuhnya Ryan tahu kalau ujung pisau itu ada obat yang bisa memberikan kelumpuhan, bisa bekerja pada mahkluk apapun asalkan ada darah. Entah mengapa Belati Putih seakan-akan bisa melakukan apapun jikalau ada darah, bagi Ryan itu wajar saja karena manusia memiliki darah dan mahkluk lainnya.
Dan dunia ini sekarang sedang berdarah-darah entah dari kejahatan manusia sendiri, ataupun mahkluk lainnya yang menyebabkan semua ini. Masih menjadi misteri.