Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
73. ...


Lelaki itu menghela napas dia melihat ke arah anaknya Alia yang sedang tidur di sofa bersama ibunya saling peluk, melihat pemandangan ini sebagai ayah dia mengkhawatirkan anaknya itu. Mengingat kembali apa yang akan terjadi lima tahun setelah ini, dia mengambil pisau dan menatapnya.


Pergi keluar kamar dia memikirkan soal naganya, pasti bentuknya sekarang berubah. Naganya itu bentuk perwujudan dari frame ketiga. Sedangkan empat sampai tujuh memiliki bentuk masing-masing yang berbeda, kekuatannya juga sama bedanya.


Melemparkan pisau ke depannya itu menancap ke tanah dan mengeluarkan cahaya putih, Adly sempat kaget melihat sesuatu keluar dari sana. Biasanya naganya tidak akan mengeluarkan hal semacam ini, ketika melihatnya lagi dia tetap tidak bisa menerimanya.


Mahkluk putih dengan mata dan mulut merah terang, keseluruhan tubuhnya berwarna putih. Sama sekali menyeramkan, jujur jika dilihat dari sikap Adly yang akan kehilangan kesadarannya dan berubah menjadi pembunuh dingin. Ini wajar saja.


"Lalu, apa yang kau bisa lakukan ?" Tanya Adly sambil menatapnya heran. Mahkluk ini terdiam tidak bicara, melihatnya seperti ini mungkin saja dia sangat kuat dan naga akan kesulitan untuk bergerak dalam tempat yang sempit. Ini mungkin akan lebih bagus.


Zaky datang melihatnya sedang terdiam menatap sesuatu di hadapannya, "apa yang sedang kamu lakukan ?"


"Hei.. lihatlah ini sebentar."


"Apa ?"


"Ke sini!" Adly menarik tangannya. Dia memperlihatkan mahkluk putih ini dan wajahnya cukup gelisah ketika menghadapinya, menatap ke tangannya ada pisau dan cakar yang kelihatannya sangat tajam. Zaky menyilangkan kedua tangannya depan dada, sembari memikirkan mahkluk ini.


Dia juga mempunyai ya hanya saja perwujudannya itu sebuah burung kecil, seperti burung kenari dengan kekuatan yang sangat besar. Sedangkan Adly naga dan mahkluk putih ini, dengan frame yang banyak mungkin saja tidak hanya ini saja melainkan ada banyak lagi yang belum dilihat olehnya.


Ingin mencoba menetesnya Adly mengeluarkan sebuah pisau dan melemparnya ke atas, dia memerintahkan kepadanya untuk mengambil pisau itu dan menghancurkannya berkeping-keping. Belum juga mengatakannya, dia sudah melesat ke atas langit dan menangkap pisau itu.


Mencengkramnya dengan sangat kuat, pisau itu langsung hancur berkeping-keping segera mahkluk putih itu turun ke bawah...


"Oh bagus ya kau ini! Hmm.. harus aku beri nama ya ? White ajalah agar simpel!"


"Yang berperasaan dong, kasih nama yang bagus kek!" Zaky menyela. Sesudah mendengar Zaky mengatakan itu, dia tidak mempedulikannya dan tetap akan memanggilnya seperti itu. Walaupun agak sedih, dia kehilangan naga itu meskipun hanya sebagai perwujudan kekuatan Elentry tetap saja dia bisa bicara tidak seperti mahkluk ini.


Telah selesai melihatnya dia memasukannya ke dalam kalungnya. Saat dimasukan kalung itu berubah warna jadi hitam, sedikit heran Adly hanya tidak mempedulikannya. Dan yang sedang dipedulikan olehnya saat ini adalah anak yang ada dalam kandungannya itu.


"Zaky, aku sudah tahu loh... Soal anakku."


"Anakmu.. ? Ah, ya baiklah."


"Memakai kekuatan melihat masa depan."


'padahal itu bisa jadi mengubah masa depan. Kenapa kau menggunakannya ? Yah.. tidak sih, aku takkan bertanya!" Zaky mulai tersenyum. Memahami apa yang dirasakan Adly saat ini mungkin dia sangat cemas, jadi seseorang ayah mungkin lebih berat sekali dari pada mengurus satu perusahaan.


Menceritakan semuanya pada Adly dia mendengarkan dengan saksama, sama sekali tidak seperti kenyataan namun inilah kenyataannya.


"Tidak usah khawatir dia perempuan dan ya, kalau begitu.."


"Berarti anakku suka padaku, kau menjelaskan telah memasukan data ke dalam tubuhnya ?!"


"Eh ?! Benar juga yah, kalau Widya cinta padamu... Itu akan menurun pada anaknya. Ahahaha!" Lelaki ini mulai tertawa dengan senyum kecut. Sama sekali dia tidak memikirkan ini sebelumnya, sangat lupa sekali kalau kemungkinan itu bisa terjadi.


Meminta maaf pada Adly, dia menerimanya dan sekarang baginya yang paling penting soal kekuatan Elentry ini. Padahal.. semuanya tidak logika dan semua fakta bisa dipatahkan begitu saja, dengan kekuatan ini bisa melawan hukum. Begitulah yang dipikirkan oleh Zaky saat ini.


Seperti sebuah keajaiban, sangatlah tidak wajar dan tentu dia ingin mencari tahu soal kekuatan ini. Tapi, ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya.


Tiba-tiba ada yang berteriak keras, keduanya refleks mendatangi suara teriakan itu dan mereka mendapati seorang gadis yang sedang dicekik oleh Fauzan sahabat mereka. Melihat sebuah helm di kepalanya, mereka tahu kalau dia dikendalikan dan yang paling buruknya adalah markas mereka ketahuan keberadaannya.


Adly mengambil pedangnya dan bersiap untuk menyerang, "Fauzan... Ayolah, kau tidur ? Kenapa suka banget sih tidurnya."


"Dia sedang dikendalikan. Hati-hati!"


"Baik-baik aku mengetahuinya, kenapa marah-marah sih."


"Jangan meremehkan Fauzan, dua cukup kuat dan bisa mengalahkan kita berdua!" Ujarnya dengan panik. Ketika bicara ada yang memotongnya, pisau hampir saja melayang dan menusuk perutnya. Mereka melihat semua orang sudah keluar termasuk Widya yang diperhatikan dari awal oleh Adly, dia sama sekali tidak peduli dengan orang lain selain keluarganya sendiri.


Mereka kini bisa bertarung tanpa mengkhawatirkan bisa melukai seseorang, jadi tanpa ragu Adly mengeluarkan frame empat dan White keluar dari kalungnya. Tubuhnya berasap mengeluarkan darah dari mulutnya, dia mulai bereaksi ketika ada musuh di hadapannya ini.


Tiba-tiba dia melesat tanpa perintah Adly dan muncul di hadapan Fauzan, membuka mulutnya lebar-lebar ingin memakannya. Menghindari itu dia menebas lehernya, tapi sama sekali tidak mati dan mereka terus bertarung begitu dahsyat.


Keluar benang dari tanah dan mengikat Fauzan dengan erat, White memotong tangannya sendiri dan tangannya itu berubah jadi pedang. Tangannya yang terpotong juga beregenerasi, begitu kuatnya mahkluk ini begitu yang dipikirkan mereka berdua ketika menyaksikan tontonan ini dari dekat.


Ezra datang dengan tergesa-gesa, "ada apa ini ?! Tiba-tiba aku dengar suara teriakan."


"Lihatlah itu...!" Zaky menunjuk ke mereka berdua yang sedang bertarung. Melihat benang itu bisa putus membuat Zaky begitu heran, kekuatan Fauzan berubah drastis sekali dari nol ke satu. Dia paham sekarang, Fauzan memakai frame satu membuatnya akan sulit untuk dikalahkan.


White tidak menyerah, walaupun tangannya putus dan kepalanya juga sama dia beregenerasi lagi dan menyerang lagi.


"Aku sedang berpikir dalam pikiranku tentang berpikir siapa yang akan memikirkan mereka berdua memang, itu yang aku pikirkan!"


"Singkat!" Bentak Ezra agak jengkel. Orang yang mengucapkannya tersenyum masam, kemudian pandangan mereka kembali dicuri oleh mereka berdua yang sedang bertarung saat ini. Tidak ada yang menyangka kalau White bisa dikalahkan dengan tangan kosong.


Kini Fauzan tidak bisa diremehkan soal kekuatannya dan sekarang mungkin melepaskan alat pengendali itu dari kepalanya, tapi bagaimana ! Jika mereka menyerang dengan sembarangan, maka bisa saja serangan itu terkena padanya dan kepalanya akan terluka hingga mati.


Memutar otak Zaky memikirkan keadaan ini, begitu juga dengan Adly yang terus memikirkan cara agar bisa lepas dari ini. Ditambah dengan adanya White yang mulai bisa kalah sebentar lagi.