Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
45. Vina


Vina menghembuskan napas melihat ke langit menatapnya dengan mata sedih, dia teringat saat-saat bersama di taman hiburan. Walaupun hanya sebentar dia bisa bersama orang yang dicintainya, hanya saja tidak terlalu lama hingga tubuhnya dikuburkan dan penghargaan kematian sudah diberikan. Batu nisan yang ada di atas kuburan sana saja sebagai trofi untuk orang mati.


Guru menjelaskan soal materi hari ini, Vina sama sekali tidak mendengarkannya. Dia hanya ingin segera pulang ke rumah. Jujur saja entah kenapa dia lebih nyaman saat bersama ibunya Rani, daripada dengan orang tuanya yang sebelumnya.


Dia tak pernah terpikir kalau orang itu adalah Rani, dari kecil hingga remaja dia berpikir dan bertanya soal siapa orang itu. Tapi, saat terus bertanya seperti itu dalam hatinya padahal orang itu ada di dekatnya. Mereka selalu bersama dan menganggap satu sama lain berharga.


Vina menghela napas, "kenapa selalu saja aku kena sial sih."


"Vina, kamu ngapain ? Tugas sudah ?" Tanya guru yang sadar kalau Vina melamun. Gadis itu mengambil buku ini bawah meja, dia berdiri dan memberikan buku itu pada guru dengan menghampirinya ke depan kelas. Padahal guru baru saja menjelaskan materi, tapi anak ini bisa menjawabnya dengan cepat bahkan semua jawabannya benar tidak ada yang keliru.


Guru tersenyum masam memintanya untuk istirahat duluan. Vina berwajah heran, kemudian dia pergi dengan rasa heran yang meronta-ronta. Gurunya tidak paham lagi karena bisa saja itu anak bisa melompati kelas, maksudnya bukan lompat melewati satu ruang kelas, ya.


Padahal sebelumnya sebelum Ryan meninggal gadis itu bersikap biasa saja, setahu gurunya walau hanya dugaan saja tapi dia tahu kalau Vina selalu berpura-pura menjadi anak biasa dengan ilmu yang biasa. Bahkan setiap ujian juga mendapatkan nilai pas KKM saja, belum pernah mendapat nilai paling bagus.


Di luar kelas dia tidak tahu harus melakukan apa pada akhirnya menuju kantin. Matanya melirik pada jam kalau waktu untuk istirahat begitu masih lama, dia menghampiri penjual dan memesan makanan camilan. Karena masih dimasak penjual itu memintanya untuk menunggu.


Penjual itu bertanya, "kamu sudah istirahat, bukannya waktu masih lama buat istirahat ?"


"Aku diminta untuk istirahat duluan."


"Begitu ya ?.. oh ya, ada yang ingin bapak tanyakan ke kamu."


"Apa itu ?"


"Kamu kenal Adly ?"


"Eh ? Iya, saya kenal dengannya. Emangnya ada apa ?"


"Apa kamu tahu kalau dia pernah sekolah di sini ? Tapi, katanya anggota Belati Putih adalah dia ? Maksudnya apa ?"


"Soal itu.. saya gak tahu pasti, maaf!" Kata Vina agak tersenyum masam. Setelah pembicaraan berakhir masakan matang, penjual itu memberikannya pada Vina dan gadis itu juga menerimanya dengan uang sebagai alat tukar. Dia menghampiri kursi, kemudian melihat kalau ada banyak bekas orang lain.


Menghela napas dia hendak memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, ada sesuatu yang menghentikannya. Suara gemuruh dan teriakan terdengar, dia pergi dari kantin sambil mengunyah makanan itu sembari pergi.


Mendengar suara itu dari kelas, dia membuka pintu dan melihat sosok besar raksasa. Dengan ukurannya yang besar, ada seperti mesin ada di punggungnya dan seperti mahkluk yang ada di film-film zombi itu ada di hadapan mereka.


Tidak bisa membiarkan ini Vina mengambil ponselnya dan mengeluarkan sinyal darurat, ini diberikan oleh Rani padanya. Agar kalau terjadi sesuatu yang gawat Vina bisa memanggil siapapun anggota Belati Putih yang ada di sekitar lokasinya, dan seseorang ada yang menerimanya.


Seseorang berteriak dari luar jendela, "kalian semua menunduk!!"


Keluar dari punggungnya seperti tangan gurita lebih tepatnya tentakel, serentak orang itu kaget setengah mati karena bukan ancaman level 08 lagi melainkan 17 karena itu sudah tidak lagi dikatakan zombi lagi melainkan monster.


Tentakel itu menyerang orang itu, dia mengindari serangannya itu kemudian melihat kalau ada banyak orang. Dia tidak sempat untuk bisa memanggil bantuan, melihat orang-orang yang panik dia melemparkan sesuatu pada Vina. Yang bisa dilakukan olehnya hanyalah memberikan waktu pada mereka semua untuk lari saja.


Vina mengambilnya kemudian melihat benda seperti ponsel, dia menghela napas kemudian menggunakannya untuk memanggil seseorang. Yang terpikirkan olehnya hanyalah Adly saja, dia sekarang memanggilnya dengan panik.


Adly yang sedang tertidur pulas di pangkuan istrinya terbangun karena merasa kalau AI mengaktifkan peringatan. Dia bangun dan melihat kalau ada suatu sinyal darurat dari seseorang khusus padanya, melihat kalau yang mengirim ini rekannya dan melihat lokasinya membuatnya heran.


Dia menjawab, "ada apa ??"


"Ini aku! Vina!.. sekolah diserang raksasa zombi."


"Hah ?! T-tunggu, bagaimana bentuknya. Apa kami bisa menjelaskannya ?"


"Dia seperti memakai mesin dan ada banyak tangan gurita di punggungnya."


"Hah ?! Ancaman 17 ?!" Kata Adly kaget. Semua orang yang mendengar terkaget, Rani menghentikan kegiatan mereka dan memerintahkan mereka untuk cepat menuju sekolah. Tidak sempat melihat pesan, dia ternyata tidak menyadari kalau Vina memanggilnya barusan.


***


Orang itu sekarang terkapar di halaman dengan penuh luka, tangannya putus dan zombi itu memojokkan beberapa murid bersama dua guru. Sedang mengunyah tangan orang itu, saat tangannya yang penuh dengan besi itu hendak mencengkram seseorang ada pedang melesat dari atas menusuknya.


Dia kesakitan kemudian melihat ke atasnya, Adly memakai topengnya dan menghilang dalam sekejap. Tiba-tiba dia berada di depan muka zombi, ada tendangan mendarat di pipinya membuatnya terpental jauh.


Tidak hanya itu, dia menembaknya dengan gencar peluru itu menembakinya.. Adly sekarang panik dan jengkel karena jika kalau ada zombi yang memiliki ancaman seperti ini, maka dia bukan sendirian melainkan ada puluhan bahkan bisa seratus zombi yang dibawa olehnya. Karena dia adalah pemimpin.


Adly berteriak, "pergi keluar dari sekolah!! Kalian pasti menemukan anggota Belati Putih dan ikuti mereka!!"


"B-baiklah! Murid-murid cepat keluar!" Kata guru sambil menggiring murid-muridnya keluar. Hanya saja ada yang salah, salah satu murid itu saat sudah diluar kelas dia menerkam Vina yang tengah berlari dan saat itu juga dia sempat melawan tapi air liur menetes ke pipinya.


Semua orang berteriak karenanya, ada beberapa siswa mencoba menolongnya. Tetapi, seseorang datang dan menendang tubuh zombi itu hingga terpental beberapa meter. Dia membawa senjata serta memakai topeng putih, matanya melirik pada Vina yang sedang duduk menatapnya.


Mereka saling memandang kemudian Vina mengingat sesuatu. Lelaki itu memberikannya tanganya saat itu juga segera Vina menyadari ini siapa dan namanya siapa. Serentak dia menerima tangannya, dia melepaskan topeng itu dari wajah lelaki itu dengan rasa heran dan air mata mengalir.


Dia membukanya secara refleks topeng itu jatuh ke lantai dari tangan Vina, semua orang tidak tahu lagi harus mengatakan apa melihat wajah orang itu. Mereka melihatnya lagi..