
Saat dia meledak dan kehilangan kendali dia akan menjadi lebih mengerikan dari sang monster dan pahlawan, ini sebuah penemuan baru yang sangat akan ditakuti. Awalnya Zyred mengira kalau Fauzan-lah yang paling kuat di dunia ini. Namun, setelah Rani mendapatkan Elentry membuatnya menyangkal itu.
Menghembuskan napas dia berdiri dan ingin mencari ibu dari Alia ini, sedangkan Rani masih menatap tajam ke arah langit yang sedang hujan. Sebuah gedung berdiri kokoh, dia lihat seseorang yang sedang duduk berduaan dengan pasangannya. Dia sekali lagi berdecak.
***
"Apa yang terjadi ?"
"Yah.. aku juga tidak tahu," jawab Jack. Dia memperhatikan Ryan dengan saksama, seseorang yang harusnya ditangkap sama sekali tidak ditangkap dan keanggotannya dipertanyakan. Sesaat kemudian, seorang gadis datang dan melewati Ryan dengan tatapan dingin.
Memakai topeng itu membuatnya tidak bisa dilihat oleh Rani.. gadis itu kembali masuk ke dalam mobilnya, hanya saja dia memperhatikan Ryan dari belakang memakai suatu gelang.
Sama sekali tidak meminta agar supir menjalankan mobilnya, gadis itu terdiam mengingat sebuah kenangan yang begitu indah baginya. Keluar dari mobil dia mengeluarkan grappling hook dan menarik Ryan ke hadapannya. Lelaki itu paham kalau dia mulai dicurigai, memakai pedang menancapkan ke tanah dan mencoba untuk lepas.
Lebih baik dia kabur saja, pikirannya begitu hanya saja ada empat Drone yang mengeluarkan rantai dan mengikat kedua kaki dan tangannya. Dia tidak bisa mengambil senjata atau apapun, pilihan yang lain dia memotong tangannya.
Hanya saja itu percuma jika Ryan tidak bisa kabur dan ditangkap lagi...
"Kau.. siapa ? Mengapa memiliki gelang itu ?" Tanya Rani dengan mata terbuka lebar. Membulat seperti sangat marah, Ryan terdiam tidak menjawab satu kata sekalipun dia hanya bisa terdiam saja dan menunggu semuanya terbongkar. Karena orang yang ditanya tidak menjawab Rani membuka topengnya.
Serentak dia begitu kaget dengan apa yang terjadi saat ini. Wajahnya itu, serta tatapan yang selalu ingin dia lihat selama ini. Dan untuk pertama kalinya dia tersenyum lagi saat melihat Ryan untuk pertama kalinya ketika dia sudah mengubur perasaan itu.
Gadis itu melepaskan Ryan dan memeluknya erat, dia tidak bisa menghindari ini semua.
Ryan melepaskan pelukannya dan berbisik, "maaf.. tapi, lupakan aku.. maaf.."
"Eh ?"
"Ai ... Pedang angin! Munculkan!" Ryan memanggil. Keluar cahaya hijau cerah di depannya, dia menghunuskan pedangnya ke udara menghasilkan angin kencang membuat semua orang tidak bisa menahan angin itu. Termasuk Rani yang mulai tergeser didorong angin.
Saat terakhir kali melihat Ryan melambaikan tangannya gadis itu tidak menerimanya langsung menghentakkan kakinya, mengeluarkan kapak sebelumnya dan dia melemparkannya pada Ryan sekuat tenaga. Ryan tidak menyadarinya kakinya terpotong oleh kapak itu.
Dia terjatuh bertekuk lutut, hanya saja walau dia harus menahan sakit tetap mengarahkan ujung pedangnya ke tanah dan angin keluar dari sana mendorongnya ke langit. Seperti terbang.. melihat Ryan pergi lagi, Rani tidak menerimanya dan mengejarnya.
Dengan luka yang cukup untuk menghabiskan banyak darah Ryan terbang di langit, dia ingin ke tempat persembunyian Adly dan Zaky hanya saja dengan gadis yang mengikutinya dia tidak bisa menuju tempat mereka. Dia begitu bingung karena kekuatannya Rani itu tidaklah bisa dikalahkan oleh dirinya yang masih lemah.
Dia berbalik dan membuka topengnya, menatap Rani yang mengejarnya.. gadis itu berhenti..
Rani menunduk sambil menatap ke bawah kota dengan tatapan penuh sedih, "Kenapa kamu tidak menemui aku ?!"
"... Hanya sekali ini saja! Bisakah kau bersamaku ?! Aku akan melakukan apapun! Apapun itu!"
"Aku dengar kamu mau mengambil Alia dari mereka berdua, apa itu benar ?"
"Ya memang... Tapi, aku membutuhkanya untuk membuat penawar heartlosive."
"Kalaupun kau akan membunuhnya ?"
"Ya akan aku lakukan."
"Kalau begitu aku saja, aku tidak punya siapapun lagi.. anak itu masih kecil dan kedua orang tuanya sangat sayang pada anaknya, apa kau tega ? Kalaupun kota menikah dan mempunyai seorang anak.. apa kau akan mengorbankan dia demi diriku ?"
"Ya! Akan aku lakukan!!" Rani menjawab tanpa ragu. Sebaliknya Ryan merasa kalau gadis ini seperti bukan Rani yang dikenal, dia mulai membicarakan banyak hal dan seperti tergila-gila dengan Ryan membuatnya sedikit takut. Saat ini gadis yang ada di hadapannya ini tidak waras.
Saking banyak cinta yang dimiliki seseorang akan menjadi kejadian tidak terduga, Ryan menghela napas kalau kasih sayang bisa jadi mengerikan seperti ini. Memikirkan kalau bersama Rani bukannya menjadi normal, dia hanya akan bertambah tidak waras nantinya.
Satu-satunya cara hanyalah membuatnya tahu dan merasakan kalau perasaan juga bisa berubah seiring dengan waktu, dan persamaan jika keduanya saling menyukai tidak ada salahnya untuk terus bersama. Jikalau hanya salah satu yang menyukai bisa saja dia akan menumbuhkan rasa sayang, namun Rani berbeda.
Dia hanya terpaku pada Ryan saja seperti hanya dirinya saja lelaki yang ada di dunia ini, gadis itu menatapnya dengan senyum dan datang padanya. Memeluknya dengan erat, entah penuh dengan kasih sayang atau cinta. Dia tidak tahu.
"Aku akan beri kamu apapun.. asalkan menikah denganku.. yah."
"Percuma.. jika kita menikah, kau tahu bukan kalau tujuan menikah itu untuk mempunyai keturunan dan berkeluarga ? Aku yakin ingin berkeluarga denganmu, hanya saja bisakah kau jadi Rani yang dulu lagi ?"
"Ehh ? Padahal aku belum berubah, lihat!" Rani menempelkan bibirnya ke bibir Ryan. Lelaki itu melepaskannya, dia mengambil tangannya dan melemparnya ke bawah sambil berharap kalau otaknya akan lurus lagi.
Dia menarik panas panjang seketika keluar asap dari mulutnya dan kakinya yang meneteskan darah mulai berhenti, mulai beregenerasi kembali dengan cepat. Ryan menarik napas panjang, dia membuka mulutnya. Segera... Keluar semburan api hijau..
Api itu mengenai Rani yang sedang terjatuh, gadis itu mulai menghirup api yang membara itu dan menutup matanya. Dia mulai bermimpi... Api ini bukan untuk menyerang, bisa digunakan untuk racun ataupun hak semalam ini membuat halusinasi bagi korban.
Ryan tidak memahami kenapa sahabatnya itu bisa secinta ini padanya, tidaklah aneh untuk mencintai seseorang hanya saja itu keterlaluan. Dia sangat marah ketika dia menjawab tanpa ragu akan mengorbankan anaknya demi dirinya, itu sangatlah bukan seperti dirinya.
Sesuatu telah mengubah dirinya, sekalipun Rani bisa menerimanya dengan dunia itu.. Ryan sedikit mengharapkan kalau Vina dan dirinya bisa pergi dari negara ini. Selangkah lagi.. dia ingin hidup bersama gadis lain, bukan Rani yang baru saja dia lempar.
"Oh ya mengingat dia aku lempar, apa baik-baik saja ? Eh ?! Dia kan gak sadar jatuh dong!' Ryan tersadar. Dia melesat ke bawah menangkapnya langsung dan sedikit lagi saja, gadis yang ada di tangannya itu bisa hancur mengenai tanah. Untung saja dia bisa menangkapnya dengan tepat dan cepat, Ryan menghela napas dan turun sambil memperhatikan wajahnya.