
Adly melompat ke belakang menghindari pukulan dari ekornya naga terus saja seperti cacing yang kepanasan ekornya itu. Melihat ke belakang Adly menatap Ezra, robot cumi sebelumnya memecah tubuhnya menjadi banyak.
Sekitar 32 robot yang sedang di hadapi Ezra saat ini agak cemas pada, Adly mengesampingkan kecemasannya itu dan mengalihkan pandangan pada naga sebagai musuhnya. Dia sudah berusaha mengalahkannya, tapi tubuhnya itu sama sekali bukan tandingan pedang besi.
"Heh! Aku tidak pernah akan membayangkan akan membuka frame empat, tapi ya.. aku tidak ingin terlalu menghabiskan banyak waktu untuk bermain denganmu! Maaf saja. Kau harus mati di sini!"
Tubuhnya mulai bercahaya dan jubah serta baju besi itu menghilang dalam cahaya itu, melilit sebuah rantai pada kedua tangan dan pisau berukuran besar. Dalam beberapa saat, dia tersenyum jahat menyeringai seperti orang gila mengeluarkan air liur.
Ezra menyadari nafsu membunuh dari belakangnya, dia menengok ke belakang dan memelas melihat Adly membukanya tanpa ragu. Padahal, terakhir kali dia kehilangan kendali dan hampir membunuhnya saat itu.
"Nah, kadal ayo bermain!" Ucapnya. Dia melesat ke hadapannya, seperti biasa menerbangkan debu dan sekarang tanpa permisi memukul dagu naga. Kepalanya terangkat ke atas, rantai yang ada di tangannya terbang dan mengikat kepalanya sampai tidak bila menggerakkannya.
Adly menariknya ke arah kakinya menginjak kepalanya sekuat tenaga, bocor mengeluarkan darah sayap naga itu tidak bisa diam dan mencoba untuk melarikan diri seperti sedang kesakitan. Sedikit penasaran Ezra memerhatikan pertarungan itu, kenapa naga itu tidak melawan menggunakan kakinya.
Setelah di perhatikan lebih saksama, dia melihat kalau keempat kaki naga itu terikat oleh rantai yang mengeluarkan darah yang bercucuran. Mukanya masam, dia mulai mengenang masa lalu yang buruk baginya ketika menghadapi Adly frame empat. Sesungguhnya dari seorang psikopat itu yang ada dalam pikirannya saat ini.
Kristal keluar dari tangan Adly dengan ukuran kecil atau serpihan kecil, benda itu menusuk semua tubuh naga ini dengan cepat. Dimulai dari ujung ekor sampai kepalanya, semuanya terpotong dan tercabik sempurna meninggalkan debu saja.
Matanya melirik pada tempatnya Ezra yang masih bertarung dengan gaya petarung tangan kosong, dia tersenyum lalu mendatanginya dengan berjalan seperti tenang tidak ada apapun. Kedua pisau itu mengapung mengelilingi tuannya, seperti ekor kalajengking menusuk salah satu robot.
Ezra tersenyum kecut dengan sedikit paksaan, "kenapa kau tidak melawan mereka semua ? Sekali serang pasti bisa!"
"Kenapa tidak kau saja, bukannya kau bisa membuka frame 03 saja ?"
"Mustahil! Level frame milikku cuman sampai tiga!"
"Begitu ya ? Fauzan punya lima sedangkan Zaky...."
"Bahas itu nanti! Lakukan apapun pada mereka terlebih dahulu!" Ezra berteriak. Mendengar teriakannya itu Adly menghela napas, dia menghentakkan kakinya ke tanah mengeluarkan rantai dari rantai seperti sebuah ombak menerjang mereka semua.
Melihat hal semacam ini sangat gila bagi Ezra, dia tahu kalau mereka manusia pasti susah meminta langsung akan dihabisi saja. Teknik ini berfokus pada penderitaan, bukan pada kerusakan pada tubuh korban membuatnya akan menderita dan perlahan-lahan mati.
Bayangkan jika ombak besar menerjangmu tapi tidak sampai membunuhmu, kau akan menderita di dalamnya dan akan mati perlahan sambil merasakan sakit. Hanya saja, Ezra membisu ketika melihatnya menyiksa robot-robot ini yang bahkan tidak bisa merasakan sakit seperti mahkluk hidup.
Yang paling menyeramkan hanyalah banyak sekali hal-hal kejam yang akan dilakukan Adly pada musuhnya dalam frame empat ini, biasanya disebut orang-orang dengan sebutan Mode Pembantai yang agak aneh jujur saja. Lelaki itu menghela napas, dia mendekati seseorang yang sedang memperhatikan musuhnya yang sedang dilahap dengan senyum terukir di wajahnya itu.
Tiba-tiba sebuah tepukan tangan terdengar seperti sedang menghina mereka berdua, saat melihat ke arah suara wajah itu sangat tidak ingin dilihat mereka berdua. Mengingat kejadian itu membuat mual bagi keduanya.
"Yo! Bagaimana kabar kalian ? Sehat ? Woah, tentu saja sakit ya! Lihatlah Adly mulutmu itu ngiler,loh!"
"Diam kau...!"
"Diam kau! Akan ku bunuh kau sekarang.. aku akan memelukmu..!"
"..." Ezra dan Zyred terdiam.
"Memelukmu dan memakanmu dari atas! Tidak ada yang lebih hebat lagi dari itu!" Dia mulai bergerak. Sebuah pukulan mendarat dengan sempurna ke dadanya, pria itu terhempas cukup jauh dan menabrak sebuah gedung sampai runtuh. Namun, orang seperti dirinya takkan mati hanya karena serangan sepele seperti itu.
Mereka bergerak bersamaan dan langsung saling beradu pukul, keseimbangan terlihat diantara mereka berdua. Hanya Ezra saja yang kebingungan, dia hanya melihat cahaya mengkilap saja dan kilatan di setiap detiknya. Padahal mereka sedang bertempur.
Tiba-tiba muncul pilihan pisau mengarah pada Adly, para pisau itu mengelilingi tubuhnya dengan cepat membuat perlindungan. Hendak Zyred mendekat satu langkah saja pisau itu langsung menembak ke arahnya tanpa peringatan apapun.
Adly mengambil salah satu pisau dan melemparkannya langsung padanya, dia menebas pisau itu dengan pedangnya.
Zyred tersenyum memperhatikan mereka berdua dengan senyuman itu, "kalian sudah berkembang ya! Baguslah! Kalau begitu kau pasti bisa mengalahkan ku!"
"Akan ku habisi kau!" Adly berteriak. Mereka berdua memegang senjata, dengan pisau pendek itu Adly mencoba menebas lehernya agar segera mati. Menghibur diri dengan teriakannya tidak terlalu bagus, orang ini takkan bisa merasakan sakit fisik atau mental sekalipun. Harus dibunuh.
Mencoba untuk mengunci pergerakannya Adly kewalahan dengan kecepatannya yang luar biasa dan selalu saja menghindari serangan, melihat satu celah dia menyabet tangannya dengan tali. Menghentakkan kakinya mengeluarkan sebuah pisau dari tanah menusuk kedua kakinya.
Mengambil kesempatan saat dia tidak bisa berdiri, Adly ingin menusuk kepalanya namun, Zaky datang dan menendang ayahnya menjauh.
Dia mengangkat tangannya mengarahkan telapak tangan pada ayahnya, keluar cahaya hitam dan listrik hitam mulai keluar. Menembakan sebuah peluru kecil dan menghancurkan sekitarnya.
Zyred menyeringai jahat, "Frame nol!"
"Apa ?!"
"Lubang hitam itu menghilang begitu saja!"
"Ah, nampaknya akan seru nih!" Adly tersenyum dan meneteskan air liur. Mulutnya penuh dengan busa, dia mengeluarkan tatapan penuh dengan hawa membunuh dan bercahaya merah gelap. Seketika, hari jadi malam dan awan mulai berkumpul di satu tempat.
Sekarang Zyred memahami ini, Adly bertambah kuat dengan membunuh dan melahap daging seseorang. Mau dirinya sendiri atau siapapun, bukanlah hal yang aneh bila dia kelaparan dan memakan dirinya sendiri.
Melupakan dulu soal pemahamannya soal Adly, lelaki itu datang dan menghempaskan tubuhnya seperti sebelumnya. Dikarenakan sekarang dia serius langsung mengeluarkan teknik penghancur, dengan teknik ini bisa menghancurkan sebuah desa besar sekalipun juga itu.
Pusaran angin terlihat memiliki petir yang terus menyambar ke segala arah, tempat ini bukanlah menghancurkan melainkan melumatkan. Kecil kemungkinannya orang bisa selamat setelah masuk pusaran angin itu, karena di dalamnya itu ada banyak sekali pisau dan senjata lainnya yang bisa memotong badan.
Zyred tersenyum dan menghela napas, dia tidak menyangka kalau mereka bisa seperti ini sekarang... Membuatnya bangga, sebagai ayah ? Ya mungkin saja sebagai pengurus dan guru juga.