
Fauzan hanya mengigit jari ketika menatap Adly yang sedang bernafas di ranjang tempat operasi berada, dan jantungnya berdetak. Ini sebuah keajaiban dari kekuatan Elentry entah bagaimana bisa, tetapi bagaikan nyawa kedua kekuatan itu menghilang digantikan oleh detakan jantungnya.
Kini sahabatnya hanya manusia biasa yang tidak punya kemampuan apapun, matanya telah buta, dan pendengarannya rusak. Harus memakai pengeras suara agar bisa mendengar normal, itu membuatnya sedih dan terpaksa kakinya harus dipotong.
Semua anggota Belati Putih merasakan sedih apalagi unit Pembantai kehilangan ketua mereka, kini yang memegang adalah wakilnya alias Fauzan yang saat ini diprediksi kalau Regu pembantai akan hancur karena mereka takkan bisa berdiri tanpa Adly sama sekali.
Anantara Fauzan dan Adly mereka berdua memiliki kemampuan yang tidak sama, seakan sniper Fauzan hanya akan memfokuskan pada satu musuh saja dan menghabisinya satu kali serangan. Sedangkan Adly seperti senapan serbu yang menembak terus menerus, dan mengenai yang lainnya perlahan-lahan membunuh musuhnya.
Begitu juga dengan regu Pembantai yang memiliki 14 orang yang menjunjung tinggi perintah dari Adly saja, itulah yang dipikirkan Fauzan saat ini karena dengan tumbangnya Adly membuat keseimbangan Belati Putih menjadi lebih buruk dari semenjak Zyred berkhianat dan menjadi mimpi buruk.
Disaat dia sedang berpikir keras pintu terbuka dan Zaky datang padanya, "makanlah sedikit.. kau belum makan sedikitpun dari kemarin."
Bagaimana aku bisa makan ketika melihat Adly seperti ini.."
"Dia selalu membuat kita cemas,... Saat kulihat jantungnya tidak berdetak lagi dan dia sama sekali tidak bernafas membuatku ketakutan, namun... Dalam beberapa detik dia membuatku kaget dengan hidup kembali."
"Walau kehilangan kekuatannya..."
"Ya begitulah, dan... Presiden yang baru memerintahkan Widya untuk turun menggantikannya pada garis depan pasukan."
"Pasukan ? Padukan apa maksudmu ?" Tanya Fauzan merasa bingung. Menghela napas Zaky mengambil sebuah surat dari kantongnya, dia memberikan surat itu pada orang yang telah bertanya dan dia membukanya membacanya dengan penuh keseriusan terlihat pada ekspresinya.
Presiden yang baru memerintahkan kepada Belati Putih untuk membawa pasukan mereka yang sudah bisa diandalkan untuk memasuki pertempuran, dan menghabisi semua zombi sekaligus. Memakai umpan agar mayat hidup itu berkumpul dan mereka harus bisa menghabisinya.
"Umpannya adalah..."
"Warga yang terluka dan mengeluarkan bau darah."
"Ya.. bagaimana menurutmu ?" Tanya Zaky dengan tatapan sinis pada surat itu. Fauzan tidak tahu harus menjawab apa, tetapi ini taktik yang bisa dibilang bagus walaupun sangat berbahaya dan akan bisa berhasil kecuali kalau ada zombi baru muncul. Mereka akan dibantai habis kalau yang datang itu setengah binatang.
Seperti halnya kemarin ada zombi anjing, zombi belalang, dan banyak lagi lainnya. Dia tidak bisa membiarkan rencana bodoh ini berlanjut apalagi dia sudah berjanji untuk tidak membiarkan Widya pada pertarungan, apapun itu alasannya Adly akan marah padanya. Dia tidak ingin itu sampai terjadi.
Dia tersenyum, "bagaimana yah kalau Adly sampai tahu istrinya terjun ke medan perang ?"
"Dia pasti akan mengejar walaupun tidak punya kekuatan apapun."
"Jadi, mana mungkin aku biarkan ini sampai terjadi, bukan ?"
"Ah, ya benar tentu saja! Walaupun Belati Putih semuanya akan dicabut olehnya. Awalnya juga kita berdiri sendiri tanpa bantuan pemerintah, kenapa kita harus patuh padanya ?!"
"Adly!" Kata mereka kaget. Mata lelaki ini mencari-cari mereka, segera Fauzan memanggil mereka lewat telepon dan tanpa sadar kalau mereka bertiga sudah memasuki ruangan. Melihat Widya yang datang dan mengelus rambut suaminya Fauzan menatap ponselnya.
"Pulsaku habis," ujarnya dengan senyuman kecut. Tidak lama Widya menarik tangan Adly dan memberikan kecupan pada tangan, sedangkan Alia bersama adiknya duduk di samping ayahnya dan menatap wajahnya sedari tadi.
Widya menatap Fauzan, "aku akan pergi dan membasmi mereka."
"Kami tidak bisa membiarkanmu, apa kau tidak bisa melihat keadaan Adly saat ini ?"
"Memang.. aku memikirkannya, tetap saja dia selalu berkata ingin melindungiku dan semua orang termasuk temannya sendiri.. sekarang..'
"Kami paham perasaanmu hanya saja, mana mungkin kamu bisa langsung membunuh semua zombi itu sekaligus ?" Tanya Zaky dengan mata sinis. Melihat ini Fauzan juga sependapat dengannya karena hal itu begitu buruk, pada akhirnya nanti Widya akan mati dan suaminya akan sendirian.
Menghela napas Fauzan mendengarkan perkataan dari gadis di hadapannya, tentang kewajibannya untuk melawan mereka menggantikan Adly yang telah memberikan kekuatannya. Bagi Fauzan ini cukup aneh baginya, dan dilihat dari wajah Widya saat ini mungkin presiden ataupun seseorang yang punya otoritas tinggi berkata seperti itu padanya.
Tidak mempedulikannya dia mengambil ponsel Adly dan membuka sebuah notepad, membacanya sendiri Fauzan sedikit malu ketika membaca setiap kata yang ada di sini.
"Tanggal 23 Agustus, hari ini aku begitu senang ketika mendapatkan kekasih untuk pertama kalinya.."
"Apa yang kau baca ?" Tanya Zaky heran. Tidak memperdulikan perkataan temanya Fauzan terus meneruskan bacaannya sampai akhir, buku harian miliknya yang ditulis oleh Adly sendiri. Mendengarkan perkataan Fauzan, gadis ini sama sekali tidak percaya dengan kata-kata itu dan mengambil handphone dari tangannya.
Membacanya sendiri dia percaya kalau ini memang tulisan dari suaminya, lalu, dia mengetahui tentang keinginan dari lelaki itu sebenarnya dan tugas yang diberikan padanya. Dia menoleh ke belakang kalau Fidya sedang memeluk ayahnya sedangkan Alia mencoba menjauhkannya, berkata kalau ayah akan keberatan kalau ditindih olehnya. Namun, tidak lama Adly buka mulut dan berkata.
"Aku hanya ingin kamu mengurus anak kita saja, lindungi mereka... Itu yang aku mau dan mataku... Semuanya gelap.."
"Adly.. apa kamu sadar ?" Tanya Widya sembari mendekatinya. Gadis ini duduk di kursi dan membiarkan tangan Adly meraba-raba wajahnya, matanya terbuka tetapi tidak bisa melihat apapun lagu. Melihat ini mereka berdua keluar ruangan meninggalkan keluarga kecil tersebut, dan diluar ruangan Zaky membisu.
Tidak lama setelahnya dia pergi dan pamitan pada Fauzan sembari pergi menjauh, sedikit tersenyum orang yang ditinggalkan duduk di kursi dan memikirkan cara untuk mengumpulkan zombi yang masih ada kemungkinannya jadi manusia. Itu yang dipikirkannya.
Mereka sama saja seperti zombi pada umumnya, tidak ada hal yang membedakan dari mereka semua kecuali suhu tubuh. Pada pagi hari mereka mengeluarkan napas, dan mengeluarkan darah yang masih berwarna ketika tertebas ataupun tertembak.
"Walaupun begitu,.. mereka sudah menelitinya tetapi tetap saja kami harus membunuh mereka," ucapnya sembari tersenyum. Kalaupun ada caranya dia hanya harus mengumpulkan semua zombi dan membunuh mereka yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi, tetapi bagaimana caranya ? Itu adalah pertanyaannya.
Hanya saja dia harus mempertimbangkan tentang rencana dari presiden baru ini, hanya saja itu akan memperburuk keadaan jika akan ada banyak sekali korban. Dan lokasinya adalah gedung sekolah SMA yang digunakan untuk menampung orang-orang yang terluka, karena gedung rumah sakit penuh.
Dan juga ada banyak anak-anak remaja yang masih belajar, mereka disuruh belajar walaupun bisa saja esoknya mereka mati...