Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
37. Adly


"matilah kau!" Teriak Adly menghantam tanah dengan tangannya.


Zian hanya menatapnya dengan sinis sambil terpikir kalau rekannya ini sangat membuatnya jengkel, membahayakan dirinya agar serangan mengenai musuh. Sesaat kemudian karena senjata mereka belum secanggih seperti di masa depan, Adly tanpa pelindung terlempar jauh.


Bahkan setelah menerima serangan senapan jarak jauh juga sama sekali tidak mempan, Zian menatap monster itu cukup lama. Tengah berpikir sembari melihat Adly yang melakukan hal bodoh, dia paham kalau sedang mencoba mengatasi masalah ini dengan kemampuan bertarungnya.


"Tapi, gunakan otakmu sesekali!" Kata Zian kesal melihatnya. Dalam hitungan detik seseorang datang dengan cepat muncul sebuah asap pekat, dia masuk ke dalamnya dan puluhan suara tembakan terdengar oleh mereka berdua. Tau-tau udah selesai saja.


Adly merasa tidak berguna dan Zian merasa ingin membunuhnya ketua itu, mereka diberikan waktu hanya kurang dari lima menit untuk menghabisi monster sebanyak itu sekaligus. Mana ada yang bisa melakukannya hanya dengan sniper dan pisau saja, juga satu pistol dengan 50 peluru saja.


***


Kini mereka sedang makan siang di meja yang sama saling berhadapan. Tapi, seluruh mata melihat nrgrja berdua dengan heran. Seseorang yang kelihatan seperti penjahat sedang duduk dan makan dengan tidak sopan, begitu juga dengan orang yang ada di hadapannya yang sedang memainkan makanannya. Mereka sama-sama dari keluarga miskin, walau seperti itu dulunya masih ada pandangan terhadap keluarga apakah terbiayai atau tidak.


Seseorang yang datang pada mereka sebelumnya atau guru dari mereka berdua datang dan duduk disebelah Adly, Fauzan juga merasa heran kenapa si pria ini bisa melakukannya. Bahkan membuatnya heran adalah pistol bisa menembakan peluru dengan gencar, itu mustahil baginya.


Hendak ingin bertanya tapi mengurungkan niatnya karena orang yang kelihatan banyak bicara juga terdiam, entah kenapa rasanya pria yang sedang bersama mereka itu sangat berbeda. Aura disekitarnya begitu berbeda, mungkin ini efek intimidasi tapi Fauzan tidak memikirkan itu.


Kalaupun komandan sekalipun, sistem takkan membiarkan siapapun memakai kekuatan Elentry tanpa alasan yang jelas. Elentry adalah sebuah kekuatan di mana pengguna memiliki semacam kekuatan super, seperti layaknya superhero mereka memiliki kemampuan unik yang berbeda-beda.


Nantinya kemampuan itu membentuk sebuah mahkluk memperlihatkan kekuatan mereka, terlihat dari hewan apa yang terbentuk seiring dengan berjalannya waktu. Semakin baik digunakan dan berkembang tentunya kekuatan itu akan menjelma jadi hewan yang lebih kuat, paling lemah adalah ular tapi memiliki kelebihan tertentu dalam racun.


Adly bertanya, "apa yang sebelumnya dari kekuatan Elentry ?"


"Ya begitulah.."


".. hah..?"


"Pak, kalau begitu kami takkan bisa menang. Anda memakai kekuatan itu sedangkan kami belum diperbolehkan untuk menggunakannya."


"Terlebih lagi kekuatannya itu berbentuk kadal."


"Berisik! Kau kepala batu!"


"Apa katamu !?"


"Kalian berdua diamlah," kata pria itu. Mereka berdua langsung menunduk dan saling memalingkan wajahnya, tidak lama kemudian dia pergi meninggalkan kedua remaja itu seorang diri. Adly merasa heran awalanya tapi sekarang terbayar, mana mungkin ada yang begituan sampai menghabisi banyak musuh sekaligus.


Menghabiskan malamnya Adly melihat sekitarnya kalau banyak orang yang menatapnya, Fauzan sadar dengan tatapan Adly kemudian mengetuk meja.


"Kita tidak usah memperhatikan mereka karena keluarga kita sama sekali tidak berada di mata mereka."


"Aku paham tapi ya bagaimana mengatakannya ?.. aku ini tidak punya keluarga."


"Hee.. bagaimana kalau kamu jadi adikku saja ? Aku ingin punya saudara yang punya sikap buruk."


"Kalau begitu, mohon bantuannya, kak Tedy!"


"Hah ?!" Ujar Adly heran dan kaget. Apa maksudnya dengan panggilannya itu, membuatnya jengkel tapi melupakannya. Dalam beberapa waktu Fauzan kelihatan memiliki sikap yang membuatnya kelihatan menarik, tapi ada juga hal semacam ini. Walau Adly tahu dari orang lain sekarang dia mengalaminya sendiri.


Berbeda dengan Fauzan yang tidak pernah mengenal rekan barunya sama sekali, informasi soal dirinya itu tidak ada atau musnah. Dari masa lalu tidak diungkapkan, memiliki banyak musuh di manapun berada, dan selalu saja mendapat perlakukan buruk.


Sekilas Fauzan ingin tahu soal rekannya ini karena mau tidak mau nantinya dia akan jadi rekannya dengan jangka waktu yang lama, dia terpikir untuk membangun pertemanan diantara mereka.


Pria itu menatap pada mereka berdua yang sedang bicara, "mereka kelihatan akur, bukan ?"


"Ya memang."


"Apa kita katakan saja pada mereka yang sebenarnya ? Soal kekuatan mereka ?"


"Dragon ya ? Elentry mereka memiliki bentuk naga terlebih lagi bisa bicara. Walau bentuk awal mereka seperti kadal karena pengguna masih pemula, mungkin di masa yang akan datang mereka akan jadi yang terkuat."


"Tidak, akan ada empat orang yang terkuat termasuk mereka berdua."


"Apa Anda melihat masa depan lagi ?" Tanya orang disebelahnya. Pria itu mengangguk kemudian pergi begitu saja, sedang orang yang sedang bicara dengannya sebelumnya terdiam menatap mereka berdua bicara.


Beberapa menit kemudian mereka keluar dari kantin dan keluar dari markas, Adly meregangkan tangannya sambil memikirkan apa yang dikatakan Fauzan sebelumnya. Beruang ? Hanya karena pas SMP Adly memiliki badan gemuk, dia menyebutnya beruang membuatnya agak heran bukannya kesal.


Menghembuskan napas dia menoleh kepadanya dan memikirkannya lagi, dia lebih terpikir lebih menyukai naga saja. Tapi.. mungkin beruang juga hebat, punya gigi dan taring sih.


Fauzan menatap langit, "besok kita gunakan saja Elentry kita."


"Bukannya itu akan membuat kita tidak akan mendapatkan nilai ? Atau nol."


"Musuh ada puluhan bahkan ada pemimpinnya, itu monster yang membuat bencana, loh. Kejadian saat penyerangan itu..."


"Raksasa ya, ukuran mereka 3 meter dan ya itu cukup aneh buatku.. tapi, kenapa kita harus memakai kekuatan itu ? Kalau ada apa-apa guru akan menyelamatkan kita."


"Memang benar, tapi apa bisa kita terus berpikir begitu ? Bisa saja ini hanya sebuah ujian, dia ingin agar kita bisa mengambil keputusan sulit sekalipun itu melanggar aturan demi menyelamatkan orang banyak."


"Ya karena pekerjaan kita begini kurasa bisa saja," Karan Adly seraya tersenyum dan menggaruk kepalanya. Saat sedang dalam keadaan baik, mereka sama sekali tidak bertengkar seperti biasanya karena saat pertama kali bertemu sama sekali tidak terlihat keakraban diantara mereka.


Yang satu menganggap orang lainnya bodoh dan tidak punya pikiran, yang kedua terlalu ceroboh dan membuat banyak masalah juga dia memiliki pikiran terbuka. Setelah melihatnya langsung pria itu tahu kalau masa depan akan cerah ditangan mereka berempat, walau dia tahu kalau keberadaan mereka juga mengancam umat manusia tapi karena itulah dia ingin agar mereka menjadi senjata umat manusia.


Dia ingin agar mereka menggunakan kekuatan mereka tanpa diperintah oleh atasan. Karena tidak berguna bila, mereka akan membunuh banyak orang bila diperintah dan tidak bisa membantah. Pria itu tidak menyukainya.. dia juga sudah melihat masa depan yang jauh dari masanya, seorang dengan kecerdasan tinggi memimpin pasukan hebat dan orang satunya adalah senjatanya.


Dijuluki sebagai pahlawan dan monster, walau julukan itu sangat dan begitu sangat alay.. lebay.. gak jelas lagi..