Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 96 : Zaky Bersama Perasaannya Pada Gadis


Zaky menatap wajah Rani yang dia lupakan setelah beberapa lama, wajahnya pucat seperti mayat dengan keadaan yang masih koma tidak sadarkan diri. Entah kapan dia akan bangun dari tidur panjangnya ini, tetapi Ryan sama sekali tidak ada niatan untuk membangunkannya.


Bingung bagi Zaky untuk mendapatkan cara membangunkannya segala cara sudah dilakukannya, tetapi tidak bisa karena ini koma yang disengaja bukan ketidaksengajaan. Menghembuskan napas dia telah memindahkan Rani ke rumahnya bersama ayah serta ibunya, karena tempat mereka sudah kotor akibat penyerangan dari mayat hidup.


Setiap dia duduk menatap wajah gadis ini, dia merasakan sesuatu yang aneh dan pikiran yang begitu aneh. Sesekali dia berkhayal tentang dua bangun dan bersamanya, ataupun selalu teringat saat-saat mereka bertengkar dan bekerja di tempat yang sama.


"Kuharap kamu bisa bangun," ucapnya sembari menunduk. Tidak lama keheningan merajalela di ruangan, dan air matanya tanpa sadar terjatuh setetes demi setetes.


"Permisi.."


"Ah!"


"Ada apa ?" Seseorang masuk yaitu asistennya Zaky membawa sebuah dokumen. Buru-buru Zaky mengusap air matanya, dia menoleh pada asistennya membawakan dokumen yang diminta olehnya tadi. Mengambilnya dengan tangan kiri Zaky membuka dokumen tersebut dan mendapati kebenaran kalau Alia serta Ryan adalah saudara alias adik kakak.


Menguatkan bukti kalau ada manusia yang punya darah spesial, mereka berdua bisa menjadi manusia karena punya darah ayah mereka. Berarti ayahnya bisa menyelamatkan banyak nyawa, untuk zombi yang punya suhu tubuh mereka bisa menjadikan mereka manusia kembali dengan mudah.


Tetapi untuk zombi yang sepenuhnya zombi mereka akan kesusahan, dan kalau ada darah ayahnya merejya bisa membuat alat yang lebih baik. Proyek ini telah dirahasiakan dari semua orang termasuk Fauzan, walaupun perlahan dia tahu kalau Zaky bisa membuat alat yang bisa mengubah Alia dan Ryan menjadi normal lagi.


Tetapi kebetulan karena mereka memiliki darah ayahnya, jadi itu kemungkinan... Dan untuk yang lainnya dia pernah mencoba tetapi sama sekali tidak berhasil dan jantungnya malah meledak.


"Ledakan jantung ya ?" Gumamnya. Dia membaca lembaran kertasnya lagi, dan mendapatkan banyak sekali informasi tentang ayah Ryan yang sudah menikah beberapa kali. Lalu, dia punya 4 anak saat ini termasuk Ryan dan Alia entah dua lagi entah berada di mana tetapi saat ini Zaky sudah membentuk tim untuk mencari mereka.


Zaky menatap kertas itu dan berkata, "dia sudah berapa kali menikah sih ?"


"6 kali."


"Uwahh.."


"Kalau anda ingin menikah dengan banyak gadis, saya mengharapkan kalau Anda takkan mencampakkannya."


"Kenapa kau berpi--- tidak, aku takkan melakukannya!" Zaky tersenyum masam. Dia terpikirkan tentang para gadis yang suka padanya, tetapi dia sama sekali tidak memikirkan menikah saat ini karena banyak sekali pekerjaan yang harus diurus olehnya saat ini.


Berdiri dari kursinya dia akan langsung mendatangi tempat tinggal ayahnya Ryan sendirian, menitipkan Rani pada asistennya dia berjalan keluar dari rumah dan menggunakan motor melaju kencang menuju alamat tujuannya. Memikirkan tentang bagaimana cara untuk melalui ini semua termasuk tentang perasaannya pada Rani yang tiba-tiba muncul.


"Cinta memang menakutkan," ucapnya. Sebelum Rani koma dia selalu saja tidak peduli, tetapi ketika dia koma tiba-tiba entah kenapa merasa rindu tentang bagaimana gadis itu memarahinya tanpa alasan yang jelas ataupun hal lainnya. Padahal yang dilihatnya adalah sosok perempuan penuh amarah dan selalu memukulnya.


Langsung pergi tanpa mengatakan apapun rekannya terdiam, dia menatap lubang hitam yang menghisap mobil di hadapannya sontak dia kaget dan segera menjauh dari tempat itu. Menatapnya dari jauh kalau bola hitam itu menghilang beberapa menit setelahnya, tetapi mobil tersebut meledak karena tubuhnya dilahap setengah.


"Uwahh.. benar-benar ketua bisa diandalkan," ucapnya dengan senyum masamnya. Dengan kencang dia terus membasmi semuanya dengan bola hitam tetapi menghancurkan sekitar, tanpa peduli dengan kerusakan yang ada dia dalam beberapa menit sampai di depan rumah ayahnya Ryan yang sangat mewah sekali rumahnya.


Memarkirkan motornya depan rumahnya dia melihat satpam datang padanya..


"Buka pintunya, aku mau bicara dengan pemilik rumah ini."


"Kalau mau masuk harus ada izin dulu dari---!"


"Lama," kata Zaky memelas. Dia menghancurkan pagar dengan pedang hitamnya, lalu masuk ke dalam halaman rumah seperti perampok dengan pedang terangkat dan satpam juga tidak berani setelah melihat logo serta baju yang dipakainya. Mana mungkin dia mau mencari masalah dengan ketua Belati Putih.


Zaky membuka pintu melihat kalau ada banyak sekali orang yang ketakutan terhadapnya, tidak peduli dengan tatapan orang dia berjalan menuju sofa dan duduk.


"Mana pemilik rumah ini ?!" Tanya dia setengah berteriak. Semuanya terdiam, tidak ada yang ingin bicara sepatah kata sekalipun tidak lama kemudian orang yang dimaksud Zaky datang dan menatapnya dengan tatapan tajam. Zaky berdiri menatap wajahnya kalau memang benar ini orangnya, dia sama seperti yang ada di foto dalam dokumen.


Memikirkan sifatnya bagaimana Zaky tidak ingin banyak bicara dan akan langsung saja, dia takkan bicara melainkan membawanya pergi seperti penculikan. Mencari jalan pintas di dekat jalan pintas, dia mengikatnya lalu pergi dengan teleport ke gedung Belati Putih membawa seseorang.


Mulutnya telah ditutup dengan kain dan tubuhnya diikat rantai, Zaky menyeretnya menuju tempatnya Ryan dan lelaki itu berbalik badan melihat seseorang yang sangat dibencinya. Matanya sinis menatap, tidak lama kemudian Zaky melemparkannya ke dihadapan Ryan yang sangat marah.


"Kita akan bicara, bawa dia dan panggil Fauzan.. kita akan bicara delapan mata."


"Kenapa orang ini ada di sini, ketua Zaky ?"


"Dia pahlawan dunia, kau tahu... Bawa cepat.." Zaky pergi menuju lift. Dengan senyuman dia terlihat senang sedangkan Ryan menunduk depan ayahnya, dia mengingat tentang perilaku busuknya.


"Akan kubunuh kau setelah pembicaraan ini selesai," bisiknya pada ayahnya. Ayahnya terdiam menatap anaknya dengan benci, tidak lama diseret olehnya menuju tangga membiarkan pinggangnya sakit terkena anak tangga terus menerus. Dan semua orang menatapnya dengan penuh ketakutan.


Semua orang tahu kalau semua anggota Belati Putih tidak ada yang sehat, mereka menyiksa orang seakan kesenangan dan bertarung setiap harinya seperti halnya mencuci muka pada pagi hari.


Beberapa menit kemudian Ryan bersama ayahnya sampai di lantai atas, dia memasuki ruangan Zaky melihat kalau ada dia sedang menyiapkan proyektor dan sedang memanggil Fauzan sembari memasang benda tersebut.


Menatap ayahnya, dia tidak paham kenapa bisa Zaky membawa ayahnya yang tidak ada kaitannya dengan semua ini dan kenapa harus ayahnya ? Padahal dia sangat benci padanya. Apalagi kalau dia tahu tentang anaknya Ryan, pasti ayahnya takkan membiarkannya hidup tenang. Menghembuskan napasnya Ryan mengambil kerah bajunya, dia membanting ayahnya pada lantai.