Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
27. Ryan


Sore harinya Ryan hanya merenung saja melihat ke atas langit dengan wajah yang sangatlah murung, dia hanya sedang bermain dengan pikirannya. Disisinya ada Vina yang sedang heran padanya, dia terpikir kalau ada yang aneh dengan Ryan saat ini.


Melupakan hal itu dia mengambil ponselnya melihat ada sebuah notifikasi. Saat membukanya dia sontak kaget dan refleks menjatuhkan ponselnya, Ryan menoleh ke arahnya kalau Vina seperti sedang kaget akan sesuatu. Bersamaan dengan tatapan sedih Vina padanya dia terpikir kalau Vina baru sadar, malam ini dia harus pergi meninggalkan Ryan sendirian.


Vian menyenderkan kepalanya ke pundak Ryan dengan sengaja sambil tersenyum seperti biasanya, "kamu diem ternyata lagi mikir. Aku kira kamu Kesambet apa gitu.."


"Masih aja kamu beranggapan gini. Tapi ya mungkin sebaiknya kamu pulang saja, deh."


"Aku tahu itu, tapi.. bentar lagi.."


"Lima menit saja."


"Dikit sekali sih, Ryan ah! Pelit.. banget...!" Jawab Vina dengan air mata yang mengalir. Tangannya meraih pipinya Ryan, Ryan terkaget dengan apa yang dilakukan olehnya. Tidak lama wajah mereka sedikit menjauh, lelaki itu memalingkan wajahnya dengan sembari mengelap bibirnya.


Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, teras itu akan menjadi tempat terakhirnya bersama Ryan saat ini. Dia masuk ke dalam mengambil sepatu miliknya, Ryan heran kenapa Vina tidak membawa baju miliknya. Sedang duduk di teras rumah Ryan menguap.. mengambil kesempatan saat mata Ryan tertutup, Vina datang padanya.


Dia mendekatkan wajahnya ke depan kening Ryan kemudian memberikan kecupan hangat bagi Ryan pribadi, "semoga kita bisa ketemu lagi... Entah di mana itu, aku ingin sama kamu."


"Kuharap itu juga, nah pergilah! Cewek bawel!" Usir Ryan dengan senyum jahil. Vina tersenyum dengan tawa kecilnya dia pergi keluar dari rumah, keberadaannya menghilang. Dalam beberapa detik rumah menjadi sepi kembali, Ryan menatap langit sambil terpikir apa yang akan dilalui olehnya di alam sana nanti. Dia tidak tahu apapun.


Menghembuskan napas dia melihat gerbang rumah yang sudah tertutup sepenuhnya. Mengambil ponselnya, dia lihat kalau lokasi handphone Vina susah menjauh dari rumah namun ada hal aneh karena kecepatan Vina begitu cepat saat berpindah dari rumah ini, Ryan beranggapan kalau dia naik taksi nampaknya untuk menuju rumahnya.


Dia hendak masuk ke dalam tapi tiba-tiba, "buset!" Umpat Ryan kaget. Muncul sebuah kotak dari langit, dia melihat ke langit kalau ada helikopter yang sedang lewat dan seseorang yang memakai sesuatu yang bisa membuatnya terbang. Ryan menghela napasnya, "bukan paket kilat lagi inimah, paket bikin copot jantung aja. Lalu kira-kira isinya apaan dah ?"


Dia membuka kotak itu yang bersisi bom, menurutnya lalu setelah kotak terbuka ada sesuatu yang membuatnya aneh. Itu semacam kalung yang aneh, bentuknya abstrak dan sekarang karena tidak penting dia melemparkannya ke dalam laci. Walau heran dengan siapa pengirimnya.


"Ya.. aku mau mati juga gak usah pikirin. Emang sih bikin penasaran tapi...! Kau jangan kambuh di sini lah!" Keluh Ryan merasakan sakitnya tiba-tiba datang tanpa permisi apalagi bawa obat, dia berdiri sambil lemas dan masuk ke kamarnya. Saat itulah neraka baginya dimulai.


***


Rani keluar dari rumah untuk mencari udara segar serta ingin berjalan-jalan saja, saat itu juga dia bertemu dengan Vina yang sedang berjalan sembari menunduk. Rani menyapanya kemudian mereka saling melihat, Vina agak takut padanya karena mau bagaimanapun juga kedua orang tuanya akan melakukan hal gila padanya.


Vina menepuk pundak Rani menunjuk sebuah cafe yang sedang buka, tempat itu menyediakan teh hijau kesukaan Rani biasanya. Mereka juga pergi ke tempat itu untuk minum sebentar, walau Rani agak enggan mau bicara dengan Vina.


Setelah mereka memesan minuman, mereka meneguknya merasakan kalau minuman yang mereka minum tidak seperti biasanya. Saat melihat orang yang membuat minuman itu ternyata orang lain. Rani langsung berkomentar, "semua ada penggantinya ya ? Lalu... Vina, apa kamu sangat serius ? Aku akan mengambil nyawamu."


"Aku gak masalah, lagi pula kalau sebaliknya kamu yang mati. Aku akan terus dihantui perasaan itu, kau tau bukan ? Kalau didoktrin itu tidaklah enak dan tidak bisa lepas begitu saja, dari kecil aku diprogram untuk saat-saat begini."


"Perkataan kamu seperti biasanya berat untuk dicerna tapi wajahmu tetap tersenyum. Aku salut pada kamu," balas Rani dengan menunduk. Vina mengelus rambutnya sedikit membuatnya sadar kalau Vina sudah memilih jalannya, alur cerita takkan bisa diubah kecuali ada keajaiban.


Rani meneguk coklat panasnya kemudian melihat kalau kue yang ada di depannya itu kelihatan susah basi, dia berpikir kalau pengganti itu sungguh tidak bagus tapi dia mengambil salah satu kue itu dan mengigitnya lalu mengunyahnya. Merasai dengan lidahnya kalau rasanya jadi lebih enak, itu sangat membuat Rani terkejut.


Dari luar kelihatan sangatlah buruk tapi setelah dirasakan tidaklah terlalu buruk atau lebih baik malah sebaliknya, jadi sekarang dia menyukainya dan pengganti tidak terlalu buruk baginya. Tetapi ini bukan soal seperti makanan atau hal ringan begini, tetapi hal semacam nyawa itu tidaklah ringan.


Vina memperhatikan Rani karena wajahnya tampak murung tidak seperti dirinya yang biasa, "kamu kenapa ? Agak aneh gak seperti biasanya deh."


"Aku hanya berpikir, apa yang harus aku lakukan nantinya.. setelah kamu meninggal karena aku."


"Jangan memikirkan apapun, aku gak wariskan apapun kok."


"Tapi..! Bisakah kamu mau aku lakukan sesuatu untukmu ?!" Tanya Rani dengan sedikit memaksa pada Vina yang sedang melahap kue. Setelah menelan kue yang dikunyah olehnya, Vina memukul meja dengan tatapan mata yang sangat tajam pada Rani yang sedang tertunduk diam.


Vina membicarakan soal bangaimana soal hubungan mereka yang jadi sahabat selama ini, mereka bicara mengobrol banyak hal, sering bersama, dan sebagainya. Hanya saja yang ingin dikatakan Vina hanyalah satu hal saja, tidaklah terlalu berat baginya mau Rani yang sekarang atau nanti.


"Aku sahabatmu ingat itu, tapi kalau kamu bersikeras mau aku titipkan pesan ke kamu. Aku hanya ingin kamu mencari pengganti Ryan sebagai orang yang kamu cintai, tapi jangan lupakan dia hanya itu saja."


"Baiklah, kalau itu saja mungkin aku bisa melakukannya. Kuharap," kata Rani dengan senyum sayu miliknya. Sangat jarang sekali Vina melihat Rani tersenyum begitu, seorang sahabatnya juga hanya pernah tiga kali melihat senyumannya ini. Saat pertama yaitu kakeknya saat meninggal, kedua saat dia tahu kalau dia punya penyakit heartlosive juga, dan ditambah saat ini juga.


Vina tidak bisa melakukan hal lain lagi selain memberikan dukungan dengan ucapan semata, hanya itu yang bisa dilakukan olehnya dan sekarang dia menghela napasnya dengan durasi lama. Kedua gadis itu saling mempunyai perasaan sama pada seseorang, tapi disisi lain orang itu akan mati dan mereka akan ditinggalkan hanya menyisakan satu diantara mereka bertiga.


Orang itu tidak akan terlalu banyak merasakan sedih dimasa depan, itu yang diharapakan Vina saat berada depannya Rani...