
Ezra membuka matanya lebar melihat apa yang dilakukan oleh Fauzan kepada kakaknya, sebuah pedang biru menancap ke tubuh kakaknya. Seketika pedangnya itu bercahaya, tanpa mengatakan apapun Ezra melesat pada Fauzan dan memukulnya hingga terpental beberapa meter.
Adiknya merangkul kakaknya dia menangis sambil mencoba membangunkan kakak perempuan satu-satunya, sambil berlinang air mata dia terus menggoyangkan tubuh kakaknya. Namun, sama sekali tidak ada jawaban.
Zyred tersenyum, "nih ambil Sarah! Anak tidak berguna!"
"Sarah!" Teriak Fauzan sambil menangkapnya. Lelaki itu melemparkan Sarah, lelakinya langsung menangkapnya. Tanpa keadaan sadar Sarah sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, dengan mata kosong dia membunuh sahabat dan kakak dari sahabatnya. Demi menyelamatkan satu orang saja.
Sedangkan Ezra yang sudah tahu kalau kakak dan teman baiknya sudah tidak tertolong lagi, dia melemparkan mayat itu dan gelang di kedua tangannya membentuk sebuah gauntlet. Sarung tangan itu berapi-api.
Tatapan mata Ezra begitu dipenuhi dengan amarah, sedangkan Fauzan sendiri tidak memiliki cahaya sedikitpun pada matanya. Hanya saja saat Zaky sedang menahan sakit, Adly seperti tidak waras menusuk dadanya sendiri dengan pedangnya.
Kemudian, ada rantai keluar dari tanah serta seperti mengamuk mengobrak-abrik desa hingga membuat warganya jadi korban. Sesaat itu juga Earbuds di telinga Zaky memperingatkan tentang frame ke-tujuh membuatnya sontak kaget.
Pertama kalinya dia melihat kekuatan Elentry frame 7 membuatnya ketakutan. Ayahnya tersenyum melihat anaknya ketakutan, "lalu bagaimana ya agar dia bisa membuka frame ke-delapan ? Hmm.. kalau dia punya kekasih atau anak, mungkin bisa sih.."
"Kenapa yah, melakukan ini ?!"
"Ayah ?.. kau memanggilku dengan sebutan ayah ?"
"Jawab saja, aku mohon!"
"Hanya untuk bersenang-senang saja, apa itu salah ?"
"Tak bisa dimaafkan, tidak bisa, akan aku bunuh kau!" Zaky berdiri mengabaikan rasa sakitnya. Keluar sebuah pedang dari tanah, dia mengambilnya dengan tangan gemetaran. Pedang hitam itu sangat berat, namun entah kenapa Zaky bisa mengangkatnya.
Saat itu juga dia ikut-ikutan membuka frame 7 membuatnya kehilangan kendali dan kesadaran, menghancurkan apapun di depannya. Sedangkan dua orang lagi sedang bertarung, gauntlet dan pedang siapakah yang akan menang ? Dengan dipenuhi amarah Ezra terus-menerus memukul bertubi-tubi tanpa berganti, saat melihat celah Fauzan bisa menusuk tangannya.
Zaky menghancurkan semua benda disekitarnya begitu juga tanah, sedangkan Adly membunuh siapapun yang dilihatnya. Sebuah desa diterjang rantai seperti tsunami, mereka tertusuk, dan tertimbun bangunan juga. Tidak ada yang bisa selamat, dari semua itu hanya suara bayi saya yang terdengar.
Saat itu juga Zyred menghilang menggunakan teleport. Dengan pingsannya Ezra karena serangannya itu Fauzan mendengar suara bayi, tanpa berpikir dia mendatangi suara hati tersebut.
"Maaf.. maaf.. maaf..." Ucap Fauzan berulang kali. Sepanjang jalan dia hanya mengucapkan itu, tanpa di sadari olehnya kalau Adly dan Zaky yang tengah kehilangan dirinya berhadapan. Mereka langsung menyerang tanpa belas kasihan.
Dengan pedang yang katanya dibuat dari besi yang sangat kuat itu saling berbenturan, dilapisi dengan cahaya hitam dan merah. Mereka berdua saling menatap, mulut Adly mengeluarkan air liur sambil tersenyum lebar. Lelaki yang sedang di hadapannya hanya tersenyum saja.
Daratan di sekitar mereka mulai hancur karena mereka mengeluarkan kekuatan itu, siapa sangka kalau kekuatan yang layaknya sihir ini bisa menjadi hal yang tidak waras. Mereka seakan dikendalikan oleh kekuatan itu.
Nafsu membunuh Adly terus berfokus pada Zaky yang ada di hadapannya, seperti hewan buas dua terus mengeluarkan air liur. Bersamaan dengan adu pedang itu, cuaca semakin memburuk dengan badai yang melanda. Semuanya tidak ada yang bisa membuat seseorang tersenyum, saat Fauzan sampai depan bayi itu.
"Maaf.. maaf.. maaf.." Fauzan terus mengulang kata itu. Dia mengambil pedangnya, menusuk anak itu dengan sekali tusukan menjerit tapi Fauzan tidak seperti memiliki kemanusiaan. Sekarang keempatnya merasakan sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan, sebagai seorang remaja yang belum matang.
***
Mereka betiga sedang duduk di sofa sambil menonton televisi, sedangkan seorang pasangan berdua-duaan di balkon. Ezra menatap pasangan itu dengan tatapan yang begitu sinis, tidak disangka kalau mereka berpacaran. Padahal anak cengeng.
Ezra bertanya, "Zaky, apa kau tahu kenapa Sarah mau dengan Fauzan ?"
"Suka."
"Itu saja jawaban mu ? Baiklah, kalau kamu Adly ? Bagaimana tanggapanmu ?"
"Sarah itu pemalu, sikapnya terlalu lucu, dia bisa buat lelakinya setia, dan tentu dia cantik.. aku juga mau berhubungan dengannya kalau bukan sahabatku yang jadi kekasihnya, sudah aku serobot."
"Aku tanya kenapa Sarah mau dengan Fauzan. Bukan kenapa Fauzan mau bersama Sarah, apa otakmu miring ?" Tanya Ezra sambil memiringkan kepalanya. Saat Adly melihatnya dan memikirkan perkataannya barusan, dia tahu yang harusnya otak miring adalah dia sendiri.
Saat mereka berdua sedang berbincang-bincang ayah Zaky datang. Mereka semua terlihat memperhatikan dirinya, karena dia memakai armor lengkap dan terlihat seperti ingin bertarung. Seketika dia menghilang dan Sarah juga sama.
Saat Fauzan ingin menyender padanya, dia malah membenturkan kepalanya ke dinding. "Aww..! Sarah ?? Kamu kemana ?!"
"Uwaa!!" Teriak mereka berempat. Seketika ada sebuah lubang putih di bawah mereka, saat terjatuh Zaky tahu kalau ini teleport. Mereka semua sampai di sebuah tempat, ini adalah kampung halaman Ezra yang jaraknya cukup jauh dari kota. Saat Fauzan melihat Sarah sedang terbaring di depan Zyred, dia lega karenanya.
Hanya saja saat mereka melihat pakaian mereka, mereka semua memakai peralatan tempur lengkap begitu juga dengan pakaian mereka. Saat tahu kalau mungkin ini adalah latihan, Fauzan mengambil pedangnya. Hanya saja saat hendak ingin memulai, kaki orang itu menginjak tangan Sarah.
Sontak Fauzan kaget begitu juga dengan teman-temannya, mengambil pedang dari punggungnya Zyred seperti ingin menusuknya sungguhan. Tanpa panjang lebar Fauzan melesat dengan kecepatan yang menerbangkan debu, seketika pedangnya itu melemparkan pedangnya Zyred lalu memukulnya hingga jatuh.
Namun, seketika saat Fauzan ingin melihat keadaan Sarah dia malah terlempar jauh seperti ada angin yang berhembus kencang. Saat melihat kalau ada pisau yang berterbangan Fauzan melihat Adly, Adly sedang mengangkat tangannya dan beberapa bilah pisau itu melesat pada Zyred dengan kecepatan penuh.
Dengan pedang tipis itu dia menangkis semua yang datang padanya, tapi.. saat semua pisau sudah ditangkis Zyred tiba-tiba berada di belakangnya Adly dan dia menusukan suatu jarum pada tangannya. Seketika tubuhnya Adly melemas, dia terjatuh ke tanah dan tubuhnya meronta-ronta seperti hewan yang sedang disembelih.
Zaky bertanya, "ayah! Apa yang kau lakukan ?!"
"Latihan ? Bukan, kalian sudah cukup buat diambil lagi."
"Apa maksudmu ?"
"Mana akan aku beri tahu kalau aku ingin membunuh kalian, bukan ?" Ujar Zyred sambil tersenyum. Sesaat kemudian Adly tertawa terbahak-bahak dan dia berdiri dari tempat duduknya, ada sesuatu keluar dari tubuhnya seperti partikel merah dan putih membuat Zaky heran dengan apa yang terjadi saat ini.