Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
62. Keluarga Adly


Widya tidak bisa membiarkan satupun peluru lolos, dia tahu kalau peluru ini bisa meledak jika terkena pada sesuatu yang panas. Jika saja satu saja jatuh ke bawah dan terkena pada satu mobil atau kendaraan sekalipun, akan membuat ledakan Hinga bisa menewaskan banyak orang.


Tetap dia menebas dan membelah peluru yang datang padanya, dengan mengandalkan penglihatan yang kabur dia terus melakukannya. Namun, satu meleset dari pedangnya dan mengenai kakinya.


Rani menghentikan tembakannya, dia menghampiri Widya dan menendang pedangnya. Pedang itu tergelincir jauh. Dia mengangkat kakinya dan menginjak kepalanya, dia menekan kakinya hingga membuat darah keluar dari hidungnya Widya yang tidak bisa melawan.


Rani tersenyum manis dan semakin memperkuat injakannya, "ah ah.. sayang sekali, Adly nampaknya salah memberikan kekuatannya. Terlebih lagi, berapa banyak daging yang kau makan ? Bagaimana memakan daging orang yang kau cintai, Widya Ardianty ?"


"Diam! Kau.. akan ku--!"


"Hah apa ?" Rani menambah kekuatannya. Sedangkan Widya mengingat saat-saat itu, dia masih memeluk Adly yang baru diketahui olehnya masih hidup membuatnya lega. Dia tidak bisa menjauh lagi darinya, setelah melihat berita itu dia sangat syok bahkan tidak tahu mau pulang kemana.


Selepas mendapati Adly masih hidup, dia sangat senang namun tidak begitu senang setelah Adly menyebutkan siapa dirinya sebenarnya. Membuat gadis itu terdiam, kalau tidak memiliki kekuatan apapun dia tidak akan bisa bersama Adly untuk waktu yang lama.


Sekalipun dia menikah, dia tidak akan terlalu punya waktu dan akan selalu merahasiakan banyak hal darinya. Karena tidak ingin hal semacam itu dalam rumah tangganya, dia meminta agar mendapatkan kekuatan Elentry yang disebutkan oleh lakinya.


Mereka membeli rumah, rumah kecil memiliki tiga kamar dan seperti biasanya rumah pada umumnya. Mereka masuk ke kamarnya bersama Alia, anak itu memasuki kamar langsung melompat ke kasur dan menidurkan tubuhnya.


Sedangkan Adly dan Widya berada di ranjang yang sama. Mereka berdua kelihatan membicarakan hal serius, Adly membicarakan banyak hal tentang Elentry dan tanggung jawab untuk tidak menggunakannya untuk kekerasan dan lainnya. Widya sanggup melakukannya, Adly belum menyebutkan Widya harus melakukan apa.


Lelaki itu mengambil sebuah pisau, menatap Widya agak cemas. Widya memejamkan matanya, dia mengira kalau dia akan menebasnya atau apapun itu. Namun, setelah beberapa menit dia tidak merasakan apapun dan membuka matanya serentak kaget dengan apa yang terjadi.


Tangan kanan Adly dipotong olehnya sendiri, mengambil dagingnya sebesar penghapus pensil memberikannya pada gadis di sampingnya.


Widya menutup mulutnya dan dia tidak bisa menahan lagi untuk bertanya, "kenapa aku harus memakan daging kamu ?!"


"Apa kamu tahu kalau aku yang paling rendah kekuatannya ?"


"Jangan membahas itu sekarang."


"Karena aku yang paling lemah, aku bisa meregenerasi tubuhku dengan cepat tidak seperti manusia pada umumnya. Kami pengguna Elentry bisa membuat seseorang memiliki kekuatan kami, asalkan meminum darah.. aku menjadi kuat seperti sekarang karena memakan dagingku sendiri, meregenerasinya dan seterusnya."


"Kenapa kamu sampai melakukannya sejauh itu ?" Tanya Widya dengan cemas. Dia menatap tangannya yang mulai mengeluarkan benang, menjahit dirinya sendiri dan memulai membentuk daging kembali. Seperti cacing yang sedang menggabungkan diri.


Widya mendekati Adly, dia sedikit agak takut dan gentar menghadapi apa yang ada di tangan lelakinya. Dia mengambil gumpalan lembut yang terdiri atas urat-urat pada tubuh manusia, masih ada kulitnya juga.


Widya tahu kalau yang diharuskan adalah darah, tapi Adly memikirkan kalau ini lebih baik dan akan melebihi semuanya. Bahkan kekuatan Widya nantinya akan melebihi dirinya, jika membagikan darah ke yang lain akan membuatnya memiliki kekuatan yang sama persis. Namun, ini akan berbeda karena dia akan mendapatkan kekuatan yang sangat berbeda.


Dia mengambil daging itu dan memasukannya ke dalam mulutnya, segera ingin muntah dia menutup mulutnya merasakan asam dan bau kawat. Sangat alot dan dipenuhi dengan rasa asam, bau seperti besi memenuhi mulutnya.


***


"A-apa ?!" Rani melompat menjauh. Keluar duri menusuk ke atas, untungnya Rani segera menjauh dan tidak terkena serangan itu. Dia lihat Widya bangkit sembari memegang pedangnya, Rani tidak paham karena pedangnya harusnya tidak ada di tangannya.


Melihat sesuatu yang aneh, benda-benda mulai mengapung dan terlihat seperti berputar searah jarum jam. Mereka melesat menghempas ke Rani, Rani mengambil kapaknya menghancurkan setiap benda yang mengapung.


Ada bom asap datang ke hadapan Rani, sontak Rani kaget dan menyimpan kapak di depan mukanya. sekejap mata pedang membentur kapak itu, hanya saja kelautan Widya bertambah dan kapak itu mulai retak buat Rani tambah kesal.


Widya menebas beberapa kali dan hancurlah kapak itu, gadis yang menghadapinya mengeluarkan sebuah jarum melemparkannya ke Widya. Widya menjauh karena dia tahu apa itu, jarum bukan sembarang jarum semata melainkan ada racun diujungnya.


Rani tersenyum kecil, "tampaknya kau sangat marah ya, Widya ?"


"Kan kugunakan titipan dari Adly untuk melindungi anak kami!"


"Padahal, pengorbanan satu orang bisa menyelamatkan ribuan.. tidak, bahkan ratusan juta nyawa kenapa kau tidak setuju ? Apa kau ingin manusia musnah ?"


"Aku memilih mereka berdua!" Widya berlari menerjang Rani kembali. Mereka beradu pedang, memegang pegangan Widya berusaha menebas lehernya agar bisa cepat menyelesaikan ini. Drone berdatangan menembakan sinar laser, Widya menghindar sambil melupakan dia ada di mana.


Seketika bangunan yang sedang mereka injak ini, lantainya terbelah namun Rani tidak mempedulikannya sama sekali. Gadis itu masih tersenyum, menjentikkan jarinya ada banyak sekali orang datang. Semua anggota Belati Putih berada di sini, tidak ada satupun dari grup pembantai.


"Tidak aku sangka kau akan jadi begini!" Widya menatapnya tajam. Rani tersenyum, "ahh! Seram, beginikah melihat seorang gadis yang jatuh cinta dan sayang pada anaknya ?"


"Kenapa kau tidak paham ?! Bagaimana jika aku memiliki anak juga!"


"Hah ? Heh, aku tidak akan memiliki anak.. mau bagiamana sekalipun, aku tidak menginginkannya."


"Rani, kenapa kau jadi begini sih ?" Tanya Widya dalam hatinya. Mempersiapkan pedangnya, keluar banyak kelopak bunga dari bilahnya melesat ke arah pasukan besar itu seperti tembakan gatling. Kelopak-kelopak bunga itu terus menembak seperti senapan beruntun.


***


Alia berlari mencari tempat di mana dia pernah mengingat ayahnya membawa dirinya ke tempat mereka sering bermain game, dia melihat sekitar dan sebuah rumah kecil. Seperti kos-kosan, dia mendatanginya mengetuk pintu dengan panik dipenuhi air mata dia basah kuyup.


Karena tidak ada jawaban, dia menendang pintu beberapa kali dan mendobraknya dengan sepenuh kekuatannya. Sontak keempat orang yang ada di dalamnya kaget, mereka melihat Alia yang sedang menangis ayahnya langsung datang padanya.


Adly membangunkan Alia dan bertanya, "Ada apa ?! Kenapa kamu panik ?"


"Ibu!..ibu..!"


"Widya ? Ibu kenapa ?!"


"Dia diserang kak Rani dan Sarah!" Alia berteriak. Zaky bersama Fauzan ikut kaget, dia berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan konsol game. Ezra melihat kesempatan, dia malah memainkan game dan membunuh mereka bertiga saat afk membuatnya senang. Dia mendapatkan 6 kill berturut-turut. Zaky mengepalkan tangannya, dia menendang pintu dan harus segera pergi.