Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
83. Ezra


Kalau biasanya Adly pergi mengambil uang ke bank pada awal bulan saja, namun karena dia membutuhkan uang makanya dia mengambil uang. Saat namanya dipanggil Adly berdiri dari kursi dan menghampiri petugas bank.


"Dalam rekening ada saldo 176 juta, berapa yang ingin Anda tarik ?" Tanya petugas bank. Adly menghembuskan napas panjang, dia mengucapkan jumlah uang yang ingin ditariknya dan dipinta untuk menunggu sebentar.


Dia mengangguk dan melihat orang ini menghitung uang dengan sangat cepat. Yah dia sudah terbiasa, beberapa menit selesailah menghitung dan pegawai bank ini memberikan amplop tebal penuh dengan uang. Begitu juga Adly berat untuk menarik uang sebanyak ini sekaligus.


Dia melangkah menuju pintu depan melihat kalau satpam memberi hormat padanya, Adly tersenyum kecut dan keluar dari bank...


Satpam itu bertanya pada temannya, "Hey, kenapa Adly dari Belati Putih kemari ?"


"Mana aku tahu.. ya mengambil uang, bukan ?"


"Tapi, gajinya kecil ya ? Kalau tidak salah juga tentara di negara kita itu lebih besar, kan ?"


"Yah mereka semua mendapatkan gaji kecil seperti buruh.. kabar ini sudah tersebar, ada orang yang tidak sengaja menemukan data keuangan organisasi itu."


"Lalu bagaimana ?" Tanya satpam itu pada temannya. Temannya itu menjawab dan menceritakan tentang berita itu, memang benar adanya kalau itu tidak salah lagi dan memang Fauzan sudah mencoba untuk berbohong. Tapi, karena dia tidak pandai bohong membuat semua warga tahu soal mereka semua.


Kini, bagaikan pahlawan tanpa jasa mereka sudah melindungi negara bahkan dunia ini kata banyak orang. Karena.. ada banyak pasukan yang dikirimkan ke negara lain, keadatangan zombi itu tidak bisa jadi kabar angin saja. Semuanya sudah tahu.


Delapan bulan yang lalu terjadi hal yang aneh sekali pada dunia ini, para mayat mulai bangkit dan mereka meneror para penduduk. Hal ini membuat Belati Putih menunda niatan untuk menggantikan pemimpin itu.


Keadaan begitu kacau, karena itulah Ezra dikirim lagi ke berbagai negara untuk menghabisi zombi level ancaman yang lebih tinggi dan serius. Bahkan kalau keadaan tambah gawat, Zaky dan Adly harus turun tangan.


Hanya saja, Adly menolak untuk meninggalkan negara ini karena Widya masih hamil dan perlu perlindungan darinya...


"Gak mau! Pengen yang hijau!"


"Eh ?! Tapi gak ada.."


"Ayah, apa tidak ada beneran di pasar ?" Tanya Alia dengan senyum masam. Dia duduk di samping ibunya yang sudah kelihatan perutnya membesar, kandungannya sudah 8 bulan dan dua atau tiga Minggu lagi harusnya sudah waktunya.


Karena itu Adly tidak bisa pergi meninggalkannya jauh-jauh, menghela napas dia mengambil dompetnya dan menyimpannya di atas meja.


Adly menghela napas, "baiklah.. karena di negara kita enggak ada makanan seperti itu aku akan meminta anggota Belati Putih agar membelikannya dari negara tetangga, aku tidak bisa meninggalkan kota ini karena cemas padamu."


"Hump! Baguslah.. kalau begitu!"


"Tapi, mereka pasti tidak ingin uang.. apa yang harus aku berikan ?" Tanya dia pada Alia yang sedang duduk. Anaknya menggeleng dan tersenyum masam, melihat respon Alia juga sedikit membuatnya bingung karena ngidamnya si calon ibu ini merepotkan. Padahal mainan yang dimintanya.


"Yah.. mereka takkan pernah menolak kalau ingin darahku, mungkin satu atau kedua tanganku bisa jadi bayarannya kan ?" Ucapnya sambil tersenyum masam. Istrinya mendengar itu dan dia melihat kalau Adly mengambil pedangnya, dia berbalik badan menebas jarinya hingga putus.


Tidak tahan melihatnya Widya berdiri dan menarik tangan Adly, dia tidak bisa melihat suaminya sampai melakukan hal ini.


"Eh ? Tenang saja, satu menit juga akan tumbuh lagi seperti biasanya."


"Gak mau! Aku maunya Adly yang berikan tapi.. gak mau ditinggalin juga.."


"Widya, maneh hayang naon sih ?" Tanya Adly sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Hah ? Kamu bilang apa gak paham!" Widya berwajah heran. Melupakan permintaannya itu Adly merasa lega, hanya saja sekarang bagaimana soal jarinya ini. Dia sedang memegang jari telunjuknya.


Membandingkannya sama sekali tidak berbeda, kecuali yang ini kelihatan ada goresan luka sedikit. Dia ingin memasukannya ke dalam mulutnya, hanya saja istrinya ini mendahuluinya


"A-A-A-Apa yang kamu lakukan ?!" Tanya Adly penuh kepanikan. Mengingat kalau dia menggunakan sedikit kekuatan Elentry waktu agar jarinya tumbuh cepat, jari itu pasti ada kekuatan waktunya dan Widya memakannya.


Adly bicara dalam hatinya, "tapi.. kenapa tulangnya juga ? Giginya kuat, pantas saja.. dia sudah naik ke frame 5 kah ?"


"Woi Adly bukan waktunya untuk itu!" Bentaknya pada diri sendiri. Dia melihat ke wajah istrinya. Bagi orang normal, melihat seorang istri dengan penuh darah di sekitar bibirnya berlumur darah, melihat ini Adly malah kelihatan bersemangat.


Widya bertanya memperhatikan wajah suaminya yang kelihatan seperti ingin itu, "kamu kenapa ? Bersabarlah sedikit.. dua bulan lagi!"


"B-baiklah.. aku akan bersabar dan ya, aku tidak keberatan untuk berbagi denganmu, sayang!" Adly memeluknya dari belakang. Gadis itu tersenyum dia sudah tahu kalau adly akan senang bila dia melakukan ini, tapi merasakan rasanya begitu membuatnya mual.


***


Di sebuah hutan Ezra sedang minum air menghilangkan penatnya, setelah beristirahat beberapa menit dia kembali melihat ke arah kota yang dipenuhi dengan zombi ini. Seperti yang ditakutkan oleh mereka semua, dunia sudah mulai akan hancur dan kalau bukan organisasi mereka yang membebaskan dunia dari bencana ini siapa lagi.


Kedua Gauntlet api itu mengeluarkan api dan dia berlari menuju para zombie yang sedang berkumpul, melompat ke atas dia menembakan peluru api dari jarinya.


Beberapa zombi ini tewas sekali tembak, mulai berdatangan yang lain. Dia mendarat dan mengambil granat dari tasnya, melemparkan ke kaki para zombie berlari bom itu meledak menghancurkan semua tubuhnya.


Hanya saja, dia melihat seseorang yang sedang melawan mereka para zombie dengan pedang dan dia kelihatan hanya membawa pedang saja..


"Ok akan aku bantu jika dia kewalahan!" Ucapnya dalam hati. Satu zombi menggeram kemudian berlari dengan cepat ke arahnya, dia menghindar ke samping dan memotong kedua tangannya lalu menendangnya ke tanah. Setelah zombi itu jatuh ke tanah dia menusuknya.


Teman zombi datang dia menebas lehernya dan menyabet tangan zombi, melemparnya kepada yang lain dan segera berlari ke arah mereka. Dia menebas keempat zombi sekaligus hingga tubuhnya terpotong.


Ada dua yang datang, sekali lagi pria itu melawan mereka semua dengan pedangnya. Pedangnya itu dilempar olehnya mengenai kepalanya, dan zombi yang lain dipukul olehnya hingga jatuh.


Tangannya menarik pedang dari kepalanya zombi dan langsung membelah tubuhnya dua, kembali pada zombi yang satunya. Dia mulai bangun dari tempatnya dan mau mengigit kakinya.


Pria itu tanpa belas kasihan menusuk lehernya dan memotong lehernya...


"Wah! Ryan, dia cukup bagus saja dan ya kurasa baguslah dia tidak ketakutan lagi.. pertama kalinya datang kemari dia keliatan ketakutan, sih!" Ucapnya sambil tersenyum. Dia melemparkan botol minum pada Ryan, Ryan yang menyadarinya menangkap dan melihat Ezra yang tengah melambaikan tangan padanya. Dibalas dengan senyuman oleh Ryan sendiri.