Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
64. Widya


Kembali ke posisi bertahan aku tetap mencoba untuk tidak diserang lagi, sudah cukup aku menahan sakit untuk tangan, kaki, mata, dan telingaku. Kini tidak boleh ada lagi serangannya yang mengenai ku, kalaupun aku berhasil lari mungkin tidak akan terselamatkan. Yah setidaknya mungkin aku bisa membuat diriku berguna.


Sedikit aku mengharapkan bisa melahirkan anak yang ada didalam kandunganku ini, ya itu yang aku pikirkan. Walau hanya umur kehamilanku 2 Minggu saja, tentu itu membuatku senang dan ya mungkin Adly belum mengetahui soal keadaanku ini.


Kekuatanku melemah, aku lemas melepaskan pedangku menunggu Rani mengangkat kapaknya lebih tinggi hendak menyerang kembali. Namun, kagetnya aku ketika lihat cahaya keluar dari cincin yang aku pakai.


Cahaya itu semakin membesar perdetiknya, menghempaskan Rani jauh ke belakang dan membuat dinding pelindung mengelilingiku. Seperti sebuah sangkar yang mengurung burung.


Seketika ada sebuah suara keluar dari cincin membuatku tidak kaget main, "tunggu! Cobalah bertahan sedikit lagi! Aku akan sampai padamu!"


"Adly ?" Aku memanggil namanya. Menghembuskan napas, aku sadar kalau ini hanya sebuah rekaman hanya untuk menenangkan diriku. Walau mungkin ada kemungkinan dia akan datang padaku, aku meragukan soal itu. Alia sudah dikirim ke rumah kakeknya harusnya dia tidak akan bisa memberitahu ayahnya, jikalau sudah beberapa hari mungkin saja bisa.


Temanku yang entah masih bisa aku anggap teman atau bukan masih memukul pelindung ini, tidak hancur walau itu senjata yang agak mustahil untuk dihancurkan. Pelindung ini memiliki dua lapis, aku menyadari kenapa Adly memiliki pelindung yang lemah semenjak kami menikah.


Dia membuat cincin ini memiliki ini, aku bahkan tidak bisa menembaknya sama sekali. Walaupun awalnya dia hanya mengatakan kalau dirinya harus mempunyai istri dan berkeluarga, karena itu kewajiban dia malah memperdulikan diriku seperti ini. Bukannya itu keterlaluan ? Ini menambah rasa sayangku padanya.


Lapisan pertama hancur, aku tinggal menunggu kematian ku saja datang... Namun..


"Ahh!" Teriak Adly. Dia datang ke hadapanku menendang kapak itu hingga hancur, terkejutnya aku dengan kemarahannya yang meledak-ledak. Seketika tubuhnya terlihat mengeluarkan petir, aku merasa kalau perutku sakit dan linu sekali rasanya.


Membaringkan tubuhku aku terkapar dan merasai rasa sakit, sembari memperhatikan suamiku yang sedang marah. Dia menyerang.. kembali merasai sakit aku tidak bisa memperhatikan pertarungan mereka, aku langsung menutup kelopak mataku pelan.


Aku enggan untuk keguguran di tempat seperti ini, bahkan di manapun aku berada aku tidak ingin kehilanganmu anakku. Apalagi Adly ada di sini.. kalau dia tahu aku sedang mengandung anak kami, dia mungkin akan mendahulukan diriku. Suaraku tidak keluar, tidak berguna.


***


Membereskan buku, aku merasa sangat pusing rasanya seperti ingin pingsan saja. Namun karena saatnya untuk pulang dan ini bukan hari piket ku, aku pulang bersama yang lainnya. Sedangkan beberapa hari terakhir aku sering pusing entah kenapa, ayah mengatakan ini adalah sebuah penyakit tapi penyakit apa itu. Heran sekali aku.


Berjalan di luar sekolah aku merasakan sangat sakit, sembari merasakannya aku tetap berjalan menyusuri jalanan. Melihat sebuah gang, aku lihat seseorang datang padaku entah kenapa kepalaku begitu pusing membuatku tidak bisa berpikir apapun.


Lelaki ini menarik tanganku, aku dibawa olehnya dan dia mengambil tasku hendak ingin mengejarnya kakiku lemas tidak ingin bergerak secenti sekalipun.


"Mau kemana kau!" Seseorang berteriak. Dia melompat dari atas gedung, aku sempat berpikir dia gila atau semacamnya hanya saja dia menjadikan pencuri itu sebagai pijakan membuatku sedikit ketakutan. Ketika melihat darah yang mengalir dari kepalanya, tidak.. bukan kepala lagi.


Kepalanya sudah hancur berkeping-keping, darahnya bercucuran begitu juga dengan kaki remaja lelaki itu yang dipenuhi dengan darah. Aku berteriak dan muntah bersamaan, dia datang padaku membawa sebuah pisau dan aku hanya bisa roboh sambil ketakutan.


Dia menghembuskan napasnya kemudian memasukkan pisaunya ke dalam sakunya, "tenanglah aku bukan orang jahat, aku dari Belati Puti--! Bukan, maksudku kepolisian!"


"Eh ? Njir, aku pakai baju khusus prajurit, dong! Parah!" Dia menggaruk kepalanya. Aku lihat penampilannya, rambutnya putih platinum dengan pakaian serba putih. Membawa pedang di pinggang belakang, sebuah sepatu yang begitu bagus dan kelihatan berat. Memakai sarung tangan dan kalung merah cerah.


Pupil matanya merah terang, aku lihat dia memberikan tangannya padaku aku menerimanya dan bangun dengan bantuannya. Saat aku lihat mayat itu rasanya sangat mual sekali.. hanya saja aku merasa tambah pusing, hendak terjatuh remaja lelaki ini menangkapku dan kepalaku dipukul olehnya.


Dakam hitungan detik aku begitu pusing, Sesaat kemudian kehilangan kesadaranku...


Aku membuka mataku, "di mana ini ?"


"Kita di hotel."


"Kau apakan diriku ?!" Aku sontak bangun. Dia tersenyum jahil, "ini rumah sakit lah.. lihatlah! Mana ada yang namanya hotel dengan transfusi darah ? Bodoh ya ?"


Aku lihat sekitarku kalau ada fasilitas untuk rumah sakit, kembali menghembuskan napas aku lega jattja dia tidak melakukan hal-hal aneh padaku. Saat menoleh ke samping dia sudah tidak ada dan pintu ruangan ini sudah terbuka, dia tidak mengucapkan salam perpisahan padaku.


Padahal aku ingin berterimakasih padanya. Dalam beberapa saat pintu kembali terbuka, aku mengira akan melihatnya lagi namun ayahku yang datang bersama ibu dengan tergesa-gesa seperti orang tidak waras yang sedang dikejar setan. Ayah mau memeluk diriku, ibu langsung memukulnya menjauh.


Seperti biasanya mereka belum berubah sama sekali. "Kalian tahu dari mana aku berada di sini ?"


"Kami menerima telepon misterius! Dan dia mengatakan kalau dia menculik anakku alias kamu! Makanya ayah bawa uang yang dia katakan!" Jawab ayah. Aku merasa kalau perkataannya


"M-mungkin uang ini untuk biaya perawatanku di sini dan mana mungkin penculik meminta tebusan di rumah sakit ? Kecuali gila."


"Yah.. bukan begitu, ada seorang remaja yang bercanda dalam telepon menculik kamu padahal dia hanya ingin mengatakan kalau kamu pingsan dan dibawa olehnya ke rumah sakit ini, dia hanya bercanda! Dan jangan bawa uang betulan!"


"Yah soalnya, aku khawatir anak kita kenapa-kenapa!" Ayah hendak memelukku lagi. Ibu menendang dia menjauh, uhh.. sakit tuh. Hanya saja aku terpikir saat dia menolongku saat itu, kupikir rasanya aneh karena aku melupakan sesuatu bahkan aku tidak tahu siapa namanya.


Mengingat saat aku jatuh pingsan di sebuah gang, dia menolongku lalu membawaku ke sini membuatku agak heran. Entah kenapa.. aku seperti melupakan sesuatu, apa itu ? Aku hanya ingat kalau dia jatuh dari atas gedung lalu tiba-tiba berada di depanku menangkapku saat ingin jatuh pingsan.


Melupakannya sejenak dokter datang, dia nampaknya mau memeriksaku lagi. Kurasa sebaiknya aku tenang dulu... Mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi, nanti mungkin besoknya karena entah kenapa aku ingin bertemu dengannya kembali.


Beberapa menit kemudian, dokter selesai mengecek keadaanku dan dia mengatakan kalau penyakitku hilang. Aku begitu kaget ketika mendengar apa penyakitku, ayah dan ibu juga sama kagetnya bahkan mereka seperti ingin menangis.


(catatan : beberapa eps kedepannya akan jadi cerita Widya)