
Menyeret tubuh Zyred sambil memelas dia keluar dari kota mengamankan orang yang telah memberikannya banyak masalah, tak lama kemudian ia mendengar suara dentuman besar. Itu bukan injakan kaki raksasa, akan tetapi sebuah ledakan dari sesuatu membuatnya heran. Dia berbalik badan melihat ke kota kalau sambaran petir membelah tiga gedung sekaligus.
Dilihatnya dari jauh Zaky sedang kerepotan melawan seseorang yang bahkan membuatnya mau tidak mau menggunakan frame terakhirnya, walau Ryan tahu kalau Zaky hanya punya waktu beberapa jam untuk sadar. Dia bisa saja menolongnya tapi hanya akan membebaninya saja.
"Apa yang harus aku lakukan ?" Tanyanya dalam hati. Saat bertanya seperti itu, Kein mendekat memberikan senapan padanya bersama Jack di sampingnya mereka berdua tersenyum. Semua orang yang ada di depannya melakukan hal yang sama, Ryan pun ikut tersenyum memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.
Markas musuh, tempat yang berbahaya bahkan di sini terdapat banyak sekali hal-hal yang membahayakan nyawa mereka. Jikalau mereka manusia yang punya kekuatan Elentry juga, kesusahan untuk bertahan hidup di kota yang telah mati semacam ini. Apalagi dengan seisinya yang berbahaya.
"Kalau kalian takut mati jangan ikut denganku dan jangan membebaniku.."
"Ya baiklah, ketua."
"Kein, sejak kapan kau memanggilku ketua ?"
"Mungkin karena dia takut mati jadi berharap kau akan menolongnya jika terjadi sesuatu! Pak!" Jack menjawab. Sontak Kein kaget refleks memukul kepala rekannya, dengan perasaan kesal ia memukulnya untuk kedua kalinya. Dia menatap Ryan dan meminta maaf.
Ryan melupakannya lalu turun naik ke helikopter, bersama satu timnya ia berangkat menuju tengah kota lagi untuk mencari rekan Zyred atau profesor itu. Helikopter yang membawa mereka meluncurkan misil mengenai zombi yang terbang, namun jumlah mereka terlalu banyak.
Tim Ryan hanya membawa senjata biasa dan tidak ada yang memakai sepatu jet, miliknya pun sudah habis dipakai sebelumnya. Hendak ingin turun sebelum sampai di tengah kota, ada ArctalGear yang menembaki sekumpulan zombi tipe terbang memakai senjanya yang mirip senapan jarak jauh itu.
Ryan menghembuskan napas lega, ia meminta semuanya bersiap kalau zombi-zombi yang ada menyerang mereka..
"Kein, bisakah kita memakai pisau Belati Putih ?"
"Eh ? Tapi kita harus gunakan kalau lagi terdesak."
"Menurutmu keadaan kita sudah seperti apa."
"Bukannya pisau itu takkan berguna kalau tidak terkena darah musuh ?" Jack bertanya memasuki pembicaraan mereka. Keduanya terdiam, tak lama helikopter mulai tidak terkendali dan semuanya berpegangan pada helikopter. Ada zombi elang yang menabrak helikopter mereka, mereka melihat kalau benda ini takkan bertahan lama.
Ryan berdecak kesal lalu meminta semua orang melompat termasuk pilot, seluruh penumpang beserta pilotnya terjun ke bawah membawa parasut. Akan tetapi, mereka semua kesusahan ketika zombi elang atau zombi terbang lainnya mulai menganggu apalagi Ryan tidak bisa berkomunikasi dengan timnya lewat Earbuds maupun alat komunikasi lainnya.
Zombi kelelawar mengeluarkan semacam suara terdengar seperti jeritan kecil, tapi itu mampu memperburuk sinyal bahkan bisa merusak alat pendengaran. Beruntungnya mereka selamat dan turun di jalanan, mereka segera mempersiapkan senjata mereka lalu bergegas menuju ke tempat tujuan sembari membersihkan sekitaran mereka.
Melihat tim Ezra yang sama seperti mereka yang baru datang, dilihat Ryan ialah kemampuan bertarung mereka yang beda jauh seperti menatap langit dari bawah jurang. Lelaki itu menghindari zombi dengan gesit, ia mencengkram tangan salah satu zombi dan membakarnya hidup-hidup.
"Hebat.. sekali kemampuannya," human Ryan terkagum melihatnya. Maupun begitu ia mendengar suara zombi lainnya, ia menarik pedang dari sarungnya tapi mengurungkan niatnya ketika melihat zombi raksasa dengan tangan tentakelnya. Jumlah mereka di dunia memanglah sedikit, tetapi semakin sedikit jumlahnya semakin sudah dikalahkannya.
Ryan menoleh ke Kein lalu bertanya, "kalian bisa mengalihkan perhatiannya sebentar ?"
"Akan kami usaha--"
"Ya Ryan, biarkan aku membantumu dan setelah itu bisakah kita bicara ?" Suara itu berasal dari Earbuds. Ryan kaget begitu mendengar suaranya, tak lama seusai gadis itu bicara ada seseorang menaiki kepala zombi dan membelah tubuhnya. Kapak muncul membelah tubuh zombi sekali ayun, pengguna kapak itu turun ke jalanan dengan darah bercucuran dari kepala hingga kakinya.
Semua orang pasti berpikir hal yang sama ketika melihat seorang gadis cantik membawa kapak berlumuran darah seperti itu, mereka semua mundur beberapa langkah meninggalkan Ryan untuk bicara dengan atasan. Rani mendekat, Ryan menghembuskan napasnya lalu mengangkat senjatanya dan menarik pelatuknya. Menembak zombi yang ingin menerkam Rani dari belakang.
"Apa kamu benar-benar tidak menyukaiku ?"
"Ya, aku menyukaimu.. sebagai teman."
"Itu perkataan yang menyiksa, padahal sudah aku tunjukan betapa besarnya cintaku padamu dan rasanya mungkin aku sudah terobsesi denganmu.. normalnya kau akan menjadikanku sebagai pemuas atau apapun itu, bukan ?"
"Jangan mengarah ke sana.. aku bukan pria seperti itu dan kau tahu harusnya aku sudah punya anak, tidak ada niatan bagiku untuk meniru tindakan ayahku."
"Aku hanya ingin bertanya satu hal.. mengapa kamu melemparku ke dunia impianku selama lima tahun dan membiarkanku tenggelam di dalamnya ?" Tanya Rani sambil meneteskan air matanya. Dia berada di hadapan Ryan, seseorang yang masih dicintainya sampai sekarang walaupun sudah dimiliki seseorang yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Rani tidak mendengar jawaban apapun dari lelaki yang ada di hadapannya, ia menyentuh dada kirinya dan mulai menangis terisak-isak tidak bisa menahan semua perasaanya. Semenjak bangun dari mimpi itu, setelah dibangunkan dan melihat kalau orang yang dilihatnya pertama kali saat terbangun bukanlah Ryan melainkan Zaky sendiri. Yang selalu setia bersamanya.
"Jantung yang berdetak ini milik istrimu, tapi.. kukira aku akan gila karena Vina dan kau takkan ada! tetapi temanku itu masih hidup, aku masih memiliki harapan.. itu yang kupikirkan, tetapi..!"
"Roarr!"
"Diam kau!" Rani mendaratkan pukulan pada zombi yang mendekat padanya dari samping. Zombi itu terlempar jauh hingga keluar dari kota, bahkan beberapa bagian tubuhnya berserakan sepanjang jalan. Ryan melihat itu lalu tersenyum kecut.
Rani kembali hendak bicara tetapi zombi lain mulai mendekat, gadis itu berbalik badan dan mengangkat kapaknya melemparnya sejauh mungkin. Menerbangkan semua zombi yang ada menciptakan angin yang merobek daging mereka, semua yang ada di lokasi terdiam dan menutup rapat hati mereka yang mengira masih punya kesempatan.
Gadis itu terengah-engah namun bukan karena letih maupun penat, melainkan mulai kehabisan kata-kata dan bingung apa yang harus dikatakannya lagi. Otaknya sudah memikirkan kata-kata apa yang cocok, namun mulutnya seperti tidak siap melontarkan semua kata-kata tersebut untuk keluar dari mulutnya dan didengar oleh Ryan.
"Sebaiknya kita bersahabat lagi, tidaklah baik untuk menghancurkan persahabatan kita selama ini dan soal perasaanmu aku minta maaf,.. tetapi aku tidak bisa memaksakan semua itu lalu bukannya Zaky selalu ada untukmu ?" Ryan berkata sambil berjalan mendekat padanya. Ia menarik napas panjang dan memeluknya pelan dari belakang.