
Disebuah kota yang sangat sepi tidak ada suara sedikitpun terkecuali sebuah suara menggeram dengan darah yang mengalir di mulutnya, mata mereka kebanyakan merah dan tubuhnya terlihat busuk. Mereka memiliki penciuman yang kuat terhadap darah dan perlu dimusnahkan, agar umat manusia tidak punah karenanya. Mereka membuat pohon mati karena napasnya.
Seorang ataupun zombi karena dia sudah bukan lagi manusia, dia berjalan bersama gerombolan zombi yang lainnya dan terlihat jelas dari rambutnya yang acak-acakan serta panjang dia adalah perempuan. Bersama teman-teman zombinya, mereka pergi ke kota yang sudah ditinggalkan oleh para warga karena takut pada zombi yang akan menyerang tempatnya.
Zombi perempuan itu masuki sebuah gudang, dia berjalan ke dekat sebuah kursi dengan sempoyongan.. tidak lama dia duduk di kursi dan melamun menatap lantai.
"Grrr..."
Dia menggeram terus menerus tanpa melakukan apapun, sampai dia mencium bau darah membuat matanya terbuka lebar lalu segera dengan cepat dia berlari penuh nafsu. Keluar dari gudang bersama para zombie yang lainnya, dia melihat sekelompok manusia yang sedang membidik mereka semua tetapi ada tengkorak yang menerjang para manusia tersebut.
Beberapa orang lari pontang-panting dengan senjata yang ditinggalkan, dan zombi perempuan itu sedang memakan daging manusia yang telah diburunya. Namun, pandangannya teralihkan pada seseorang yang sedang bersembunyi di dalam sebuah mobil rusak tetapi dia tidak mencium bau manusia darinya walaupun darah terus bercucuran dari dahinya.
Dia menatap para tengkorak yang memukuli dan mencakari mayat manusia, mereka tidak bisa memakannya tetapi kebiasaannya untuk membunuh dan memburu manusia sudah mendarah daging walau mereka sudah tidak punya daging pada tubuhnya.
Zombi perempuan itu bangkit dan mendekati mobil, dia menatap lelaki ini di hadapannya penuh keheranan. Dia tidak bisa memikirkan apapun, seperti manusia tanpa pikiran dia meraih kepala lelaki ini yang terlihat memandangnya penuh amarah dan terlihat jelas ada keinginan membunuh pada tatapannya tersebut padanya.
Tetapi zombi ini tidak menghiraukannya dan malah mengelus kepalanya, lelaki ini kaget dengan apa yang dilakukannya. Selang beberapa saat kemudian tangannya turun ke pipi sampai dada, seakan-akan mengoleskan darah pada tubuhnya dan tiba-tiba lelaki itu kaget melihat zombi lain datang.
Namun, saat dia mengambil pisau dari sakunya mereka lewat saja tidak menghiraukannya membuat lelaki itu terheran-heran. Zombi ini memiringkan kepalanya dan masih menatap lelaki ini begitu lama, sedangkan lelaki ini bingung dengan apa yang terjadi sampai dia ingin bicara tapi mengurungkan niatnya.
Tangan mayat hidup ini menarik tangannya menariknya pergi, dia terpaksa melakukannya karena banyak zombi yang ada disekitarnya. Namun baginya ini aneh, sekalipun dia manusia kenapa zombi yang membawanya ini tidak mau memakannya ataupun melakukan apapun padanya tapi dia merasakan kalau zombi ini punya suhu tubuh.
Beberapa menit kemudian, dia dibawa masuk ke dalam sebuah bangunan atau gudang lelaki itu terdiam setelah melihat zombi ini menutup pintu lalu duduk saja di kursi tanpa melakukan apapun...
***
Ryan menghembuskan napasnya dia mengisi peluru yang sudah habis, namun dia melihat regunya mulai menaiki pesawat saat hendak menyusul dia melihat sekelompok zombi yang berdatangan. Dia membidik dan gencar menembaki mereka, hitungan detik kemudian mereka habis tertembak kecuali zombi yang punya suhu tubuh.
Memerintahkan Jack untuk mengamankannya, keluar sebuah sangkar besar dari kubus kecil memperangkapnya. Mereka melihat Ryan yang tidak memasuki pesawat dan Kein bertanya apa yang dilakukannya, lelaki itu tidak menjawab hanya memerintahkan mereka untuk kembali.
Dia tidak mengerti tetapi melakukannya, meninggalkan ketua mereka sendirian. Ini dilakukannya demi Vina apapun yang terjadi dia takkan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi sesuatu padanya, tangannya mengepal erat dia berlari menuju lokasi tujuannya.
Tempat para orang-orang yang masih bertahan hidup, diantara ada banyak tentara yang menjaga dan sontak membuat mereka kaget ketika seseorang dengan seragam Belati Putih memasuki pemukiman. Tentara itu menatap Ryan dengan penuh keringat.
Ryan mendekati salah satu tentara dan bertanya, "dimana ketua kalian ? Maksudku pemimpin di sini.."
"Baiklah, aku akan ke sana!" Jawabnya. Segera berlari menuju tempat yang ditunjuk oleh tentara itu, dia melihat sebuah tenda besar melebihi yang lain dan warnanya merah kecoklatan. Menarik napas dia menatap tenda dengan tatapan serius, masuk ke dalamnya dia lihat kalau ada seseorang dengan badan gemuk dan dua perempuan mengelilinginya.
Ryan mengangkat pistolnya ke hadapan wajahnya, sontak pria ini kaget dengan pistol depan wajahnya. Melihat seragam yang dikenakan olehnya dia menyeringai, "kalau terjadi apa-apa padaku istrimu takkan selamat."
"... Cih!"
"Baiklah baik.. kita langsung saja, kau temui kelompok depan dan ikut mereka hari ini."
"Apa maumu ?"
"Bawa wanita ini," ucapnya sembari memberikan sebuah foto. Ryan mengambilnya dan menatapnya tajam kalau ini seorang gadis, dengan rambut merah serta pakaian pengantin wanita. Susah bisa menebak apa yang terjadi, dia mengangguk paham lalu pergi terburu-buru menemui kelompok depan seperti namanya mungkin saja itu kelompok yang berada digaris depan nampaknya.
Bergegas ke salah satu tentara dia bertanya padanya dan seperti biasa langsung ditunjukan dimana tempat mereka berada, sembari mencari dia tahu kalau gadis yang ada difoto mungkin saja sudah menjadi zombi. Tapi.. apa tujuannya ? Kenapa dia harus ikut kelompok ini hari ini ? Membingungkan sekali.
Selang beberapa lama kemudian dia menemukan kelompok yang sedang berdiri depan gerbang, dia melihat 14 orang sedang berdiri. Mereka membawa senjata api dan tidak ada yang membawa satupun senjata jarak dekat seperti pedang ataupun yang lainnya, Ryan merasa bingung karena disekitar sini banyak tengkorak yang berkeliaran.
Mereka takkan mempan terhadap peluru karena begitu keras, dan harus dihancurkan dengan pukulan ataupun senjata berat. Pedang bisa berpengaruh besar tergantung siapa penggunanya, tapi lebih ampuh menggunakan senjata tumpul.
"Apa kalian kelompok Depan ?" Tanya Ryan pada salah satu. Orang ini menatapnya dengan tajam, menghembuskan napasnya dia mengangguk lalu pergi begitu saja bersama yang lainnya. Bingung kenapa mereka kelihatan putus asa, Ryan tidak bertanya apapun dan kekuatannya mereka sedang menunggunya. Gerbang dibuka memperlihatkan banyak mayat yang berserakan membuat Ryan sangatlah kaget, mereka manusia bukan zombi membuatnya bingung.
Dia tidak pernah mendapatkan panggilan bantuan atau apapun itu dari tempat ini, namun kenapa sampai terjadi hal seperti ini...
Seseorang mendekatinya dan menepuk pundaknya, "jangan salahkan dirimu.. ini salah si pemimpin kurang ajar itu, harusnya meminta bantuan kalian dan malah sombong berkata bisa menghabisi para zombie itu dengan para tentara yang ada."
"Tidak, kalian harusnya memanggil kami saja! Ini tidak bisa dibiarkan!"
"Bagaimana dengan istriku dan istrimu ?"
"Hah ?! Apa maksudnya ?! Dia juga mengancam kalian ??" Tanya Ryan dengan tatapan tajam dan setengah membentak.
"Ya sayangnya itu benar," jawabnya. Mendengar perkataannya itu semuanya terdiam, 14 lelaki ini terdiam saat mendengar kalau Ryan secara tidak langsung kemari karena ingin menyelamatkan istrinya juga. Sedangkan Ryan sendiri tidak paham lagi dengan orang-orang.