Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
72. Keluarga Adly


Zyred terengah-engah merasakan capek setelah berkelahi dengan Adly hampir membuatnya mati, jika dia tidak mengganti tubuhnya dengan mayat mungkin saja tidak bisa. Walaupun begitu seharusnya mereka mengetahui kalau itu kematian palsu, sekarang bukan saatnya itu.


Seseorang memakai baju jas putih seperti baju dokter, dia mendatangi Zyred yang sedang beristirahat. Lelaki itu tersenyum lebar di hadapan Zyred yang sedang kecapekan.


"Bagaimana, anakmu itu ?"


"Aku tidak bisa mengambilnya secepat itu."


"Hoo ? Kenapa ?"


"Aku dikalahkan!" Zyred membentak. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak dan dia mengeluarkan sebuah laptop dari tasnya, memperlihatkan suatu data pada Zyred yang sedang duduk. Dia ikut melihatnya dan wajahnya langsung kaget lihat data ini, kartu memori itu bukan berada di tangannya.


Melainkan otaknya Adly sendiri. Dia mengigit bibirnya, kalau begitu dia harus membunuhnya untuk mengambil kartu memori tersebut.


"Kartu ini begitu penting, di dalamnya Ada data pertarungan anak itu! Bisa kita gunakan untuk membuat robot tempur yang hebat!"


"Lalu kota akan menyatakan perang pada negara sebelah ?"


"Ah, itu benar! Semakin banyak dia punya pengalaman semakin banyak pula robot kita semakin hebat!" Pria itu tertawa sambil mengucapkannya. Sedangkan Zyred sendiri tidak menginginkan ini, karena ancaman ini dia sampai melakukan ini semua membuatnya tidak waras.


Bahkan ilmuan gila ini sama sekali tidak bisa dianggap sebagai teman olehnya, dia sekarang menghembuskan napasnya dan beranjak dari tempat duduknya pergi keluar mencari udara segar. Sebuah hutan yang damai sebagai tempat persembunyiannya.


Mengingat saat dia menyerang mereka berempat dan memasukan kartu memori itu kedalam kepalanya, sungguh tidak bisa dimaafkan oleh dirinya sendiri. Ingat hal ini saja sudah membuatnya semakin gila, dia tidak ingin melakukan hal semacam ini. Kalaupun untuk menghancurkan dunia ini juga, tapi dia sama sekali tidak sanggup.


Menuruti perintah dari ilmuan tidak waras itu jadi membuatnya ikut tidak waras seperti dirinya. Terlebih lagi, kini Rani orang yang harusnya membantu dirinya tidak sadarkan diri.


***


Bangun dari tidurnya dia melihat ke bawahnya, ada seorang gadis yang masih tidur dekat kakinya. Menghembuskan napas dia menarik tangannya dan memindahkan dia ke dekatnya, memeluknya sebentar dia pergi keluar dari kamarnya.


Lima tahun... dengan Rani yang kini koma gara-gara Ryan yang memasukan obat dalam tubuhnya, sekarang dengan gadis itu tidak sadarkan diri keempat orang itulah yang mengatur kendali belati putih saat ini.


Pergi ke ruang tamu, dia melihat tiga anaknya yang sedang bermain bersama. Kakak mereka menjadi samsak untuk adiknya dan Adly memperhatikan Alia yang bertahan seperti itu, dia menerima banyak sekali pukulan dari adiknya.


Adly menghentakkan kakinya, "Hey.. hey.. jangan main pukul-pukul sekarang!"


"Ayah.." seseorang menarik-narik bajunya.


"Uh ? Ah, Fidya ? Ada apa ?" Tanya Adly sambil berbalik. Dia melihat seorang anak kecil dengan penampilan yang mirip dengannya, rambut tumpah ke bawah sampai punggung warna putih platinum dan pupil mata merah terang. Dia memiliki kulit cerah seperti ibunya.


Sedikit pendiam seperti dirinya saat kecil dia tahu kalau Widya dan Zaky menyembunyikan sesuatu darinya, anak ini terlihat sangat mirip dan sama sekali tidak ada perbedaan sedikitpun.


Dia mengangkatnya menggendongnya. Anak ini tidak mengatakan apapun, ayahnya yang berganti bertanya, "kamu mau es krim ?"


"Gak mau.. ibu mana ?"


"Masih tidur. Kayaknya kecapekan, kalian meminta hal aneh kemarin sih."


"Eh ?! K-kau tahu dari mana itu, Fidya ? Jangan begitu ya!" Adly tersenyum masam. Dengan tatapan dingin, Fidya hanya menyender pada ayahnya dan anak ini cukup manja pada ayahnya.


Beberapa saat kemudian, ibunya keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan segera setelah melihat Istrinya dia menurunkan Fidya dan berlari mendekatinya. Melihat Adly datang dua memeluknya.


Widya mengangkat kedua tangannya. Dengan polos dia meminta sesuatu, "Gendong ke toilet."


"... Kamu ini ya ? Padahal ada yang ingin aku bicarakan," ujar Adly sambil menatapnya sinis. Tidak peduli dengan tatapannya itu, dia tetap memaksa padanya terpaksa dia mengangkatnya sampai ke depan toilet. Setelah ditinggal ke ruangan tengah gadis itu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, sekali lagi Adly menghela napas dan mendatanginya.


Depan toilet dia melihat kalau ada banyak sekali busa keluar dari sela-sela pintu, sontak dengan cepat Adly membukanya mendapati kamar mandi penuh dengan busa sabun. Istrinya juga terdiam.


"Adly, ada apa ini ?" Tanya Widya. Adly menggelengkan kepalanya dia juga tidak tahu apa ini, melihat keluar jendela ada sesuatu yang aneh dan begitu membuat mereka kaget. Anak itu memulai lagi kerusuhan.


Menutup keran air Adly membawa istrinya keluar dari kamar mandi dan melihat tiga anak itu, kakak paling besar menonton film horor dengan adiknya yang baru berusia empat tahun. Sedangkan Fidya bermain game.


Widya menatap Adly dengan mata sinis. Lelaki itu tidak tahu harus berkata apa, dia tahu kalau dirinya salah tapi sebagai ayah dia juga butuh hiburan untuk membeli game juga.


"Bweehh... Padahal dah ada aku buat hiburan."


"Sudah jangan ungkit itu lagi, sekarang bisakah aku tahu apa yang terjadi ? Soal Fidya dan Aldy ? Lalu, bisakah kita ganti namanya saja mumpung masih kecil ?" Tanya Adly. Sebagain pertanyaannya biasa saja bagi Widya. Namun, soal pertanyaan pertamanya membuatnya gelisah lagi dan sudah cukup lama dia menyimpan rahasia ini.


Seminggu yang lalu Fidya melakukan hal-hal aneh seperti kelakukan ayahnya saat kecil, tentu ayahnya paham dengan sifatnya akan turun. Tapi ini keterlaluan, terlebih lagi sikap mereka berdua sangat berbeda sekali jauh banget malah.


Widya memperhatikan mereka berdua, memang benar perkataan Zaky sebelumnya tentang mereka berdua. Dan mungkin baik bagi Adly mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa.. kenapa.. anak itu masih kecil dia harus menderita."


"Apa maksudmu ? Itu baik-baik saja!"


"Tidak, aku memiliki penyakit bawaan dari lahir otakku takkan bisa memberikan rasa sakit."


"T-tunggu! Apa maksudnya ?!"


"Karena penyakitku, aku bisa bertahan sampai saat ini dan dampak paling buruk saat aku kehilangan kendali saat menghancurkan desa saja, karena aku bisa menahan sakitku sampai saat itu.. bagaimana dengan Fidya ? Apa kamu pikir dia bisa bertahan tanpa penyakit itu ?"


"Jadi.. kami sudah melakukan kesalahan ?"


"Ah, menggugurkan kandungan saat itu harusnya jadi pilihan yang tepat.. dari pada sekarang kita tidak bisa melakukan apapun, selain dua pilihan."


"Dua pilihan ?"


"Ya.. membunuhnya atau pergi ke tempat yang tidak ada orang satupun kita satu keluarga saja. Namun, setelah semua zombi musnah aku akan pergi bersama kalian semua."


"Maaf.. aku telah membuat kesalahan besar," ucapnya sambil menarik tangan Adly. Lelaki itu menghela napas, dia melihat ke peta dunia dan tiga negara di penuhi dengan zombi sampai ada keputusan dari pemerintah untuk meledakan bom nuklir di sana. Ada juga orang-orang yang selamat di sana, tetapi nuklir bisa berakibat buruk pada negara ini juga itulah yang dipikirkan Adly sampai menolak hal semacam ini.


Dia menatap langit-langit sembari memikirkan hal yang bagus dan terbaik...