Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 123 : Adik Dan Kakak


Ledakan tersebut disaksikan semua orang termasuk gadis yang menjadi buah hatinya, ia melihat tubuh ayahnya yang sedang beregenerasi meledak dan ledakan tersebut menghentikan regenerasinya. Semua orang terdiam, tidak ada yang berbicara hanya keheningan melanda mereka semua.


Terkecuali Azka menatap Fauzan penuh amarah, dia merangkak mendekati mayat mencoba meraih tangan ketuanya. Air matanya sudah terkuras habis. Ia tidak bisa menangis kembali, susah lama ia tidak merasakan kesedihan semacam ini bahkan ini lebih sakit saat ia melihat pedangnya berdarah dan total pembunuhnya.


Banyak orang menyebutkan air di dunia ini takkan habis, begitu juga air matanya. Sudah bersumpah takkan menangis kembali. Akan tetapi, janji itu mulai dilingkari olehnya.


"Kakak!" Teriak seseorang. Aldy turun dari atas lalu membuat jaring dari kristal, ia membawa tubuh kakaknya pergi menjauh dari tempat Fauzan berada.


"Bawa ketua lari jauh dari sini, ia pasti bisa diselamatkan kalau lukanya tidak separah itu. Kau tepat waktu Aldy." Sura berkata sambil mengelus dadanya, penuh dengan darah dan ia mulai mengerti mengapa pemimpin mereka terus mengatakan lelucon "tubuh roti" sepanjang waktu. Mungkin ini yang dimaksud. Pikirnya.


Dari kejauhan adiknya membawa kakaknya menjauh dari Fauzan nampak panik, lagipula dari dulu ia sudah tahu kalau orang yang membuat kakaknya menjadi seperti ini memiliki dendam tertentu padanya.


Seminggu kemudian...


Alya berputar-putar mencari adiknya sampai sekarang belum ketemu juga, di tangannya ada dua eskrim yang sudah meleleh. Saat membeli camilan adiknya malah menghilang entah kemana, dan dirinya sama sekali tidak melihat jejak apapun. Tidak ada jejak kaki bahkan di lokasi ponselnya tidak terlacak.


"Tuh anak kecil.. tapi kenapa bisa melakukan semua hal, sih ?!" Kesal kakaknya pada adiknya.


Beberapa saat kemudian ia menoleh ke belakang ibunya terlihat masih murung, saat ayah bersama dengannya walau bagaimana keadaan suaminya sekalipun. Meski cacat ataupun rusak sekalipun ia selalu melihat wajah ibunya yang biasa tampak berseri berubah menjadi murung seperti yang dilihatnya saat ini.


Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menghibur ibunya dan mencari Fidya mau bagaimanapun juga harus bisa menemukannya, disaat seperti ini harusnya dia berada di samping ibunya bukan pergi bermain. Akan tetapi masalahnya hanyalah keadaan Fidya dan ibunya terlihat sama.


Ia menghampiri ibunya dan duduk di depan kakinya, memeluk kedua kakinya dan berkata, "Fidya mencoba melupakan kesedihannya dengan bermain-main sedangkan ibu melamun saja sepanjang hari, keduanya sama.. dan kurasa aku sama sekali tidak bisa percaya kalau ayah sudah mati. Lagipula, bayangan ayah membawanya pergi.. dia akan selamat aku yakin itu."


"Ibu ingin mempercayai itu.. tapi..!"


"Bisakah ibu lupakan kejadian Minggu lalu dan mencari si Fauzan itu saja ? Lebih baik kita mencari maksud dari perbuatannya itu."


"Tidak, ibu tidak bisa melakukannya.. diantara kesedihan ini ibu tidak bisa," ujarnya sembari memberikan sesuatu. Sontak Alia kaget melihat benda ini. Tak lama kemudian, ia mendengar langkah kaki raksasa lagi membuatnya kesal karena mereka terus bermunculan dan keadaan semakin gawat juga membuatnya semakin bingung.


Regu Pembantai sibuk mencari ketua mereka dan mereka keluar dari Belati Putih, dikarenakan tidak percaya lagi pada Zaky maupun Ezra yang sedang memegang kemudi saat ini. Dan regu penyerang juga tidak mampu untuk melawan, karena mereka hanya sekumpulan anggota baru saja. Prajurit lama keluar dari Belati Putih.


Alia menggaruk kepalanya dan mengambil ponselnya, ia melihat lagi lokasi keberadaan Fidya dan berhasil melacak keberadaannya.Ia pamit pada ibunya dan pergi setelahnya, langsung memakai Teleport tanggung-tanggung ingin segera sampai.


"Fidya!" Bentak Alia dari dalam cahaya biru mengelilingi tubuhnya. Ia mendekati adiknya. Tanpa mengatakan apapun, dia melihat adik manisnya sedang tersenyum tipis dan tatapan mata kosong menatapnya. Tangannya terangkat melayangkan tamparan keras ke pipinya.


"Kau bodoh ya ?! Ibumu sedang bersedih! Kau malah bermain seperti ini!" Teriaknya memarahi adik yang seharusnya berumur satu tahun. Walaupun tahu kalau adiknya hanya kelihatan seperti seumuran dengannya, tetap saja Alia tidak paham dengan pemikiran anak-anaknya ini.


Fidya berjalan mendekati kakaknya sambil berkata, "apa kakak tidak lihat ? Aku juga sedih..."


"Ah, kekuatanmu melemah karena kau berpikir ayah sudah mati ya ?"


"Kau takkan pernah paham! Aku berada di tempat itu saat itu! Melewati padukan sambil tersenyum bahagia mengharapkan bisa bertemu ayah! Malah aku mendapatkan pemandangan... Itu.."


"Fidya.. camkan baik-baik perkataan kakakmu di dalam otakmu yang kecil itu bahwa ayah kita pasti masih hidup, dan pulanglah.. karena kau akan menjadi kakak. Kalau kita tidak menjaga ibu selagi ayah tidak ada, siapa lagi ?" Tanya Alia sembari berjalan dan memeluk Fidya setelah berada di hadapannya.


Tubuhnya penuh dengan darah, sekalipun ia beruntung karena Alia saat ini memiliki kekuatan yang melemah tetap saja kekuatannya itu sudah setara dengan ayah ketika mengamuk. Ia menoleh ke belakang melihat pohon yang menghalangi tubuhnya.


Jikalau pohon yang ditabraknya pohon biasa mungkin sudah hancur, tapi pohon besi itu tidak hancur walaupun terkena ledakan atau pukulan apapun.


"Yah, kita akan pulang.. dan menjaga ibu sampai ayah kembali, ya adikku sayang!"


"Maaf sudah mengatakan hal yang tidak-tidak dan sudah melemparkan kakak hingga terluka seperti ini."


"Kalau begitu apa kamu bisa sembuhkan kakak ? Kakak gak ingin ibu lihat kakak dalam keadaan seperti ini." Alia tersenyum kecut.


Fidya mulai menyadari dimana ia bersalah, matanya menatap tajam ke punggung kakaknya yang lebih berlumuran darah dan pakaian sobek. Menekan angin lalu melemparkannya terlalu keterlaluan, kalau itu bukan kakaknya yang punya kekuatan Elentry mungkin tubuhnya sudah hancur.


Menghembuskan napas lega Fidya mengelus tangan kakaknya dan lukanya tertutup, walaupun begitu darahnya sudah banyak keluar Dan dusta hanya menutup lukanya saja. Kurang lebih Alia akan merasakan pusing beberapa waktu.


"Maaf kak."


"Yah, tidak apa-apa.. sekarang, bisakah kita pulang ?" Tanya Alia sembari tersenyum. Bukannya menjawab adiknya malah terdiam, ia mengambil uang di sakunya menyarankan agar mereka membeli kue atau apapun itu untuk ibu mereka.


"Itu ide bagus," jawab Alia. Mereka berjalan mendekati toko kue. Sedangkan orang-orang memperhatikan mereka dari kejauhan, sama sekali tidak ada yang menyadari siapa mereka.


***


Kak!" Teriak seseorang dalam gua. Melihat kakaknya yang terlihat seperti boneka membuatnya bingung, tubuhnya telah menyatu akan tetapi seperti boneka rantai-rantai menghubungkan anggota badannya. Melihat hal semacam ini Aldy yang sering membunuh musuh juga merasa mual, terlebih lagi dengan keadaan fisik lemah.


Semakin lama kakaknya mati seperti ini dirinya akan semakin lemah seiring berjalannya waktu, yang bisa dilakukan olehnya saat ini hanyalah memberikan tubuh baru pada kakaknya. Dia tidak tahu harus bagaimana dan dimana mencari hal semacam itu.


Tak lama kemudian, Aldy menoleh ke belakang ada sebuah kampung kecil dalam hutan. Dirinya langsung memperlihatkan wajah kesal dan mengepalkan kedua tangannya.