Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 120 : Ekspresi Wajah Fauzan


Sura menatap tangannya sambil memikirkan zombi macam apa yang nrreka lawan sebelumnya, saat Azka bertengkar dengan Adly neteka melawan zombi aneh dengan seluruh tubuh hitam dan sekujur tubuhnya mengeluarkan asap hitam. Layaknya bayangan hitam yang hidup berwujud manusia.


Tidak mempunyai waktu untuk bicara pada Fauzan, ia melihat kalau keadaan Adly begitu buruk setelah Dragrise muncul secara tiba-tiba. Dan hal itu mustahil dilakukan, setelah frame empat atau lebih dari itu Dragrise akan menghilang. Kini, dengan kata kepalanya sendiri ia melihat naga yang terus bersama tuannya beberapa tahun yang lalu.


"Kenapa kau masih bisa keluar ?" Tanya Zaky dengan amarah membara. Sebuah pedang hitam menyala di tangannya, terlihat jelas kalau keduanya sama sekali tidak akur semenjak kejadian 6 tahun yang lalu dan sampai saat ini kebenciannya pada naga ini belum musnah hingga sekarang.


Naga ini mengangkat wajahnya, "karena kau masih menyimpan rasa padaku."


"Hah ?! Apa kau kira aku suka padamu ?! Menjijikan!"


"Zaky,.. diamlah dan dengarkan penjelasannya saja!" Fauzan menghampiri mereka berdua. Keduanya terdiam, lalu tak lama setelahnya Dragrise menjelaskan mengapa dirinya masih ada sampai sekarang dan mengapa dunia ini mengalami kesedihan semacam ini. Sampai sekarang.


Sebelum manusia mengenal apa yang disebut senapan serta teknologi lainnya, mereka yang masih menggunakan alat yang terbuat dari batu melihat mahkluk raksasa. Memiliki kaki empat dan juga bisa menyemburkan api.


Tempat itu dipenuhi oleh naga-naga yang datang entah dari mananya, mereka semua tidak membunuh manusia akan tetapi manusia juga merasa ketakutan dan tidak ada yang ingin mendekati mereka. Tapi, yang ingat oleh Dragrise hanya sebuah cahaya merah dan kilatan cahaya tersebut menyerang mereka. Hingga semua naga terbunuh.


Bangkai mereka menjadi batu lalu adanya batu yang memiliki energi aneh, dan disebut dengan sebutan Elentry sekarang..


"Kau berada di sekumpulan naga itu ?"


"Ya,.. aku bersama adikku atau nagamu saat itu melihat cahaya itu penuh ketakutan, tapi.. justru hal yang paling menyakitkan adalah anak dari tuanku sendiri yang membunuh kami saat itu."


"Apa maksudmu ?" Fauzan heran kemudian berkata demikian. Akan terapi Dragrise semakin bingung mau menjelaskan semuanya, ia tahu kalau mereka sedang tidak ada di sini serta Yahya ada beberapa orang disekitarnya. Mulai bercerita semampunya dia berusaha untuk tidak melebih-lebihkan cerita.


Naga mahkluk yang seharusnya tidak ada di dunia ini. Namun, suatu hal terjadi membuat dunia ini dengan dunia lain saling terhubung dan bisa memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak. Sekaligus kerugian juga. Saat ini, dengan keberadaan batu ini membuat perang besar dan membunuh banyak orang.


Melihat ekspresi Fauzan dan yang lainnya terlihat tidak yakin dengan perkataannya, Dragrise berhenti berbicara.


"Dan cahaya yang membunuhmu serta teman-temanmu adalah..."


"Laser."


"Hahhh.. sudah kuduga kalau Fidya benar-benar anak ajaib dan secara tidak langsung kau ingin mengatakan kala--" perkataan Fauzan terhenti lalu ia tidak mengatakan apapun lagi. Membuka mulutnya kembali, ia menyuruh semua orang untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing dan semuanya bergegas pergi setelah mendengar perintahnya.


Fauzan menunduk memikirkan tentang bagaimana keadaan dunia tanpa batu atau kekuatan Elentry, jika batu itu tidak ada maka zombi takkan ada dan robot raksasa akan diciptakan secepat ini. Juga, dari cerita Dragrise sebelumnya Fauzan berpikir mengapa Fidya bisa ke masa lalu dan melakukan hal tersebut.


Baginya wajar saja, karena menghentikan waktu saja ia sanggup melakukannya hal itu hanya bisa dilakukan olehnya seorang di dunia ini. Bahkan ayahnya mengatakan kalau dirinya takkan bisa pernah ke masa lalu, kalaupun hanya melihat gambarannya ia pasti merasakan sakit yang luar biasa di dalam kepalanya. Melihat kejadian yang seharusnya tak dilihat.


Fauzan mengambil ponselnya dan mengetik pesan ke seluruh prajurit yang ada di sini, semuanya disuruh untuk kembali ke kota dan mundur untuk terlebih dahulu. Biarkan regu Pembantai di belakang untuk melindungi tentara pemerintah, mau bagaimanapun juga mereka tidak bisa dibandingkan dengan anggotanya.


Saat melihat Adly yang tidak sadarkan diri ia mendekat padanya, hendak menaruh telapak tangan di keningnya ada tendangan melayang ke wajahnya.


"Widya, aku paham.. perasaanmu tapi tendanganmu itu seperti tebasan pedang."


"Makasih pujiannya."


"Maaf,.. tapi bisakah aku bersama Adly sebentar untuk memastikan sesuatu ?" Tanya Fauzan sembari tersenyum kecut. Gadis di hadapannya mengangguk lalu pergi menjauh, ia menemui Dragrise yang sedang bertengkar dengan Zaky dan mereka saling adu mulut satu sama lain. Tidak ada yang ingin kalah.


Menatap pertengkaran tersebut Fauzan teringat beberapa waktu lalu, mahkluk besar itu bisa bicara dan membuat orang kesal ataupun suka padanya. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak senang dengan naga yang pernah dipanggilnya. Setelah naga itu menghilang Fauzan sana sekali tidak sedih, malah sebaliknya ia senang karenanya.


"Membunuh teman sendiri itu.." ucapnya sembari menunduk. Tangannya gemetaran memegang pegangan pedangnya, ia membuka matanya lebar dan kaget mengapa ia menggenggam pedangnya seerat ini juga tubuhnya sulit untuk digerakkan serasa seluruh tubuhnya bergerak sendiri.


Tanpa bisa membuka mulutnya ia berdiri dan tatapan matanya menandakan kalau dia tidak sadarkan diri, tiba-tiba partikel biru mengitari bilah pedangnya dan tak lama setelahnya Azka menendang Fauzan menjauh dari ketua regunya. Serentak semua orang kaget.


"Minggir.. kita membutuhkan data yang ada di kartu memori itu."


"Hah ? Apa yang kau katakan.. ket-- tidak, Fauzan."


"Kita membutuhkan data itu untuk membasmi para zombie yang ada di dunia ini."


"Mengapa aku mendengar kalimat itu darimu ?" Widya menghunuskan pedangnya. Diikuti yang lain mereka mengangkat senjata mereka, terkecuali Ezra dan Zaky yang kebingungan dengan sikapnya yang aneh tidak seperti biasanya. Sedangkan orang yang dikelilingi oleh rekannya tidak bisa melakukan apapun.


Dia mengambil senapan dan menembak tanah menghancurkan area sekitar, beberapa orang terlempar jauh akibat angin kencang dari bilah pedangnya. Azka berdecak kesal lalu menembakinya dengan peluru racun, akan tetapi dengan gesit Fauzan menghindarinya dan menusuk Azka setelah berada di hadapannya.


Sebelum Azka kehilangan kesadarannya ia mencengkram erat lehernya dan memberinya pukulan, namun, setelah pukulan tersebut Azka kehilangan kesadarannya dan pingsan di tempat. Sedangkan saat Fauzan berbalik. Widya sedang merangkak menuju arahnya, dipenuhi darah di mulutnya dan bersama tatapan kebencian mengarah pada Fauzan dengan tajam.


"Tak kusangka Fauzan memberikan air minum berisi racun padaku," gumamnya. Semua orang bangkit dari tempatnya lalu menerjang Fauzan bersamaan. Walaupun begitu, satu hentakkan kaki darinya meruntuhkan semua orang sekaligus dan tidak ada yang bisa berdiri lagi setelahnya.


Seluruh prajurit telah kalah. Saat melihat kalau Fauzan sudah mengangkat pedangnya ke atas mereka berdua bergegas berlari, dengan tubuh yang kelelahan mereka berteriak-teriak mencoba berbicara dengan Fauzan dan menenangkan dirinya.


"Apa kau gila ?!"


"Jangan lakukan itu!"


"Fauzan.." Adly membuka matanya.


"Diam! Jangan menyebut namaku!"


"Ugh!" Satu tendangan keras melayang ke wajahnya. Lelaki yang menerima tendangan berdiri, lalu mengangkat wajahnya menatap temannya yang sedang melihatnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Fauzan.. ada ap--" perkataannya terpotong. Dan mereka yang ada di belakang hanya bisa terdiam melihat peristiwa di depan mereka.