Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
23. Ryan


Rani malah membicarakan hal yang aneh bahkan sama sekali tidak ada hubungannya karena rahasianya itu hanyalah sebuah website pribadi milik Adly, setelah mereka memeriksanya tidak ada hal yang aneh atau sesuatu yang mencurigakan. Namun, Ryan saat membaca beberapa artikel merasa aneh.


Kebanyakan memang topik heartlosive tapi hal yang paling aneh hanyalah sebuah penyakit yang sangat gila, tentu saja karena dia belum pernah mendengarnya. Melupakannya karena itu tidaklah penting, dia menutup laptopnya kemudian menghela napasnya.


Dia mengerutkan keningnya dengan senyum masam, "kenapa aku repot-repot sih ? Tapi... Entah kenapa aku merasa sangat tidak sedih Adly mati, apa karena aku juga mau menyusulnya ?"


"Begitu ya, aku sebaliknya sangat sedih. Mau Adly atau kamu juga tetaplah sama."


"Maaf ya, aku mengatakan sesuatu yang menyedihkan."


"Ya tidak apa," jawab Rani dengan wajah merona merah. Bersamaan dengan rasa heran Ryan saat melihat wajahnya yang begitu, dia memikirkan hal aneh dan sedang bermain dengan dunia fantasinya sendirian. Tidak lama Ryan melemparkan gulungan kertas padanya, dia tidak lagi menyelam dalam khayalannya lagi.


Sesudah kembali ke dunia nyata dia melihat kalau Ryan sudah mau pergi dari rumah, sudah ada tas yang di punggungnya. Semua waktu yang telah dihabiskan olehnya bersama orang yang dicintainya begitu berharga, tapi sayangnya akan berakhir di sini.


Lelaki itu beranjak berdiri dari tempat duduknya, tatapannya pada Rani sedikit serius dan seakan Rani harus mengiyakan semua yang diucapkan olehnya. Beberapa saat kemudian Ryan datang ke hadapannya, "ingatlah satu hal.. kamu harus tetap hidup, biarkan Vina berkorban dan itu sudah jadi misinya walau agak hiperbola sedikit. Ini kenyataan, tapi itu yang terbaik. Aku tidak ingin kau tenggelam dalam kegilaan sambil mengharapkan kami masih ada bersamamu, ingatlah itu baik-baik dalam hati dan pikiranmu, kalau begitu aku pergi.


"T-tunggu...!" Ucap Rani meraih baju Ryan. Ryan menghela napas, dia mengambil tangan Rani dan melepaskan satu-persatu jari tangannya. Setelah semuanya terlepas, Ryan pergi dari rumah itu dengan membawa tas di punggung berisi bajunya. Dia berpapasan dengan ibu Rani, dia pamitan padanya.


Lalu dia pulang keluar dari rumah mewah ini tanpa sekalipun menoleh ke belakang walau Rani berteriak-teriak sekalipun. Melewati gerbang, pergerakannya terhenti begitu juga langkah kakinya terhenti. Tangan seorang gadis memegang tasnya.


Dia melepaskan tas miliknya, "Rani. Apa kamu lupa apa yang aku katakan sebelumnya ?"


"Tidak! Aku gak bisa terima kenyataan!" Kata Rani setengah membentak. Mendengar bentakan dari gadis ini, Ryan mendekatkan wajahnya ke pipinya dan memberikannya kecupan. Beberapa saat kemudian Rani menangis dengan mata terbuka lebar, dia menutup wajahnya lalu terjauh.


Tangannya masih saja memegang tas milik Ryan, Ryan melepaskan tas itu dari pinggangnya dan segera pergi. Rani memeluk tas itu sangat erat sembari memperhatikan lelaki itu pergi, dia sudah mengatakan untuk tidak pernah memeluk kebohongan dan lebih baik memeluk kenyataan.


Perpisahan itu disaksikan oleh ibu Rani dan beberapa orang yang tinggal bersama mereka, dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kalau anaknya sudah dewasa. Karena terus dimanja oleh suami dan dirinya, dia sangat egois tapi sekarang bisa melepaskan sesuatu yang berharga baginya.


Jujur saja itu begitu membanggakan baginya, tapi tidak sepenuhnya juga karena tetap saja merasakan kesedihan itu hal yang wajar saat melihat anaknya begini. Tetap melihat Ryan pergi Rani sedikit memasang senyum kecil di wajah cantiknya, "aku udah terlanjur tergila-gila sama kamu. Tapi.. itu tidak baik, kan ?! Kuharap!"


"Rani.. sudahlah!" Ujar ibunya sambil memeluk anaknya. Matanya terarah ke pada lelaki yang masih berjalan pergi itu, sama sekali tidak melihat ke belakang dan tetap maju ke depan. Dia sudah tau melihat dan mengingat yang sebelumnya tidak terlalu bagus, yang harus dilakukan hanyalah memperbaiki dan belajar darinya kemudian tetap maju dengan keyakinan.


Dia mengingat sesuatu saat bersama Ryan sebelum mengetahui semuanya tentang lelaki itu. _Orang tua itu sangat berharga, ketika kamu kehilangan semuanya, mereka akan ada buat kamu untuk bersamamu dan tanpamu mereka akan sedih jadi jangan tinggalkan, jangan buat mereka sakit, dan jaga mereka_. Itulah yang pernah dikatakan olehnya.


Tangannya langsung melingkar di pinggang ibunya, dia memeluk dan menangis dalam dekapan ibunya. Serentak ibunya kaget tapi menerimanya dengan senang hati, dia sudah tahu kalau anaknya ini sudah cukup jadi dewasa baginya.


***


Seorang remaja lelaki menangis disebuah gang, dia memegang dadanya dan bendungan untuk menampung air itu bocor. Dia masih menyeka air matanya yang tidak habis, tangannya sibuk dengan menghapus air mata yang terus mengalir. Ryan hanya bisa begitu.


Menghitung seluruh jari tangannya saja pasti dia akan meninggalkan apa yang disebut dunia, hal yang dirasakan olehnya begitu menyenangkan. Tapi.. dia sebenarnya hanya berpura-pura untuk tegar, anak itu ingin masih bersama teman-temannya tapi tidak ada yang bisa membelokan garis kehidupannya.


Dia menghentikan air matanya lalu berjalan keluar dari gang dengan terhuyung-huyung, "kenapa aku jadi begini sih ?... Sungguh bodoh..!"


Dia pergi dengan langkah yang sempoyongan dan dalam perjalanan sudah ada yang menunggunya, dia melihat ke arah orang yang menunggu atau lebih tepatnya gadis yang menunggunya. Angin berhembus menyibakkan rambutnya yang panjang itu, tangannya terangkat ke atas dan melambaikannya.


Ryan membalasnya dengan lambaian tangannya dan senyum. Segera berlari ke arahnya, Vina memeluknya setelah berada di depannya. Gadis itu bertanya, "apa Rani sudah menerimanya ? Apa yang sudah dikatakan olehnya ?"


"Dia menerimanya. Tapi.. aku yakin kalau dia akan menepati janjinya!"


"Itu bagus... Dan kita pulang saja ke rumah kita, yuk!" Ajak Vina dengan senyum manisnya. Ryan mengangguk dengan semangat, mereka berdua berlari pergi ke rumah lelaki itu dan hitungan jari lagi dia akan segera pergi. Begitu juga nantinya Vina akan menyusul, tetapi mana ada yang tahu masa depan bagaimana nantinya.


Sepasang mata memperhatikan mereka, orang itu memiliki rambut berwarna putih platinum dan bersama keluarganya. Memakai teropong jarak jauh untuk mengintai kedua pasangan kekasih tersebut, tidak ada yang menyangka kalau kedua orang hebat akan kembali.


Dia menarik napasnya dalam-dalam kemudian melihat ke arah langit kalau masih seperti biasanya, semua pemandangan yang di dunia ini masih indah seperti biasanya. Melihat ke kerumunan orang dan jalanan, masih banyak juga kesibukan setiap orang dari bekerja hingga aktifitas lainnya.


Tangan seorang anak kecil memegang pundaknya, lelaki itu menghela napas dan menggendongnya sambil tersenyum. Gadis yang bersamanya juga tersenyum sambil menyender meminjam pundaknya, dia masih bisa merasakan bahagia dalam kehidupannya.


Tapi beberapa saat kemudian seseorang datang dengan membawa dua pedang di punggungnya, dia memakai kacamata dan pakaian yang dipakainya seperti orang kantoran pada umumnya. Rambutnya yang berwarna ungu kehitaman itu begitu indah saat dilihat siang hari. Adly tersenyum padanya dengan lembut, "bagaimana kesehatanmu, Zaky ? Apa kamu makan dengan teratur, sahabatku ?"


"Kau masih saja belum berubah, Adly. Walau sudah berkeluarga ini," jawabnya sambil tersenyum.