Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
85. Keluarga Adly


Adly mengigit bibirnya menahan sakit pada tangannya, istrinya merintih kesakitan sedangkan Adly tersenyum dan menyemangatinya. Terlihat seorang ibu mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya, sedangkan calon ayahnya terlihat sangat menahan sakit.


"Dia tidak sengaja memakai kekuatan Elentry miliknya, kan ?!" Ucapnya dalam hati. Walaupun dia punya kekuatan untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi tetap saja dia sangat merasakan sakit sekali.


Hitungan detik kemudian suara bayi menangis, serentak semuanya lega begitu juga Widya yang tersenyum lega. Alia ingin melihat adiknya, dia dihalangi para suster yang mencoba agar dia tidak lihat darahnya.


Dia menatap ayahnya dan memberikan aura intimidasi pada ruangan ini, tetapi tetap saja para suster tidak minggir...


"Selamat pak, ibu.. anak kalian perempuan," kata dokter sembari menggendong anak mereka. Adly menyadari hal yang penting, dia menunduk dan mencium pipi istrinya lalu pergi keluar dari ruangan. Dengan senang dan wajah jahatnya dia menyeringai.


Memanggil Fauzan dengan penuh kesenangan. Beberapa menit kemudian Fauzan menjawab, dia mengangkat telepon dari temannya itu.


"Ahhh! Fauzan, aku sekarang jadi ayah!!"


"Ohh! Selamat... Dan siapa namanya ? Perempuan atau lelaki!"


"Nama.. ugh, aku lupa dan kalau kelaminnya itu perempuan."


"Aku akan ke rumah sakit melihatnya, sebentar lagi aku datang bersama yang lainnya!" Jawab Fauzan setelahnya dia menutup telepon. Langsung, Adly terlihat terus tersenyum senang tapi orang-orang melihatnya seperti tidak waras.


***


Satu jam kemudian Adly masuk ke ruangan mendapati Widya dan anaknya di sampingnya, Adly mendatanginya menatap wajah anaknya ini. Begitu juga Alia yang sedang menatapnya.


Adly berkata, "yah.. dia kayak ibunya ya ?"


"Matanya kayak ayah."


"Begitu ..."


"Hmm.. penampilannya kayaknya seperti ayahnya dan kenapa aku bisa lihat masa depan ?!" Kata Widya kaget. Suaminya itu menjelaskan tentang kenapa dia bisa melakukannya, Widya mengangguk pelan sembari tersenyum masam.


Lelaki ini mengelus kepalanya dengan pelan terlihat kalau dia tidur dengan nyaman dekat ibunya, gadis ini menghela napas panjang. Dia mengingat saat ayahnya tadi memberikan nama pada anaknya.


"Hey.. apakah akta itu bisa diubah sekarang ?"


"Enggak gak bisa!" Adly tersenyum polos.


"Fidya... Widya... Aahh mirip banget!" Widya memelas. Tanpa meminta izin dari istrinya dia langsung menentukan nama, sedikit kesal dia mengambil tangan Adly dan menggigitnya. Bukannya heran, jengkel, atau apapun Adly malah senang lalu duduk di kursi.


Pintu terbuka beberapa orang masuk ke dalam dan Sarah langsung berlari ke arah mereka, dia menatap Fidya dengan mata berkaca-kaca. Zaky dan Fauzan datang mereka melihat pemandangan yang begitu menyeramkan, ketika seorang istri ketika seorang istri menggigit-gigit jari istrinya.


Mereka salah saat memaksa Adly menonton film horor bersama mereka saat masih kecil, saat itu ada adegan di mana seorang istri yang setia memburu manusia lain agar bisa memberi makan suaminya. Namun, ini sudah keterlaluan ketika melihat Adly kagum dengan tokoh film fiksi itu.


Adly tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, "sayang, buat berdarah ya.."


"Adly! Sadarlah.. kumohon!" Fauzan berteriak. Dia memegangi kepalanya sama dengan Zaky yang memikirkan tentang kejahilan mereka, memaksa Adly yang tidak suka dengan film horor membuatnya punya keinginan buruk. Terlebih lagi istrinya berprilaku seperti keinginannya.


Alia melompat-lompat ingin melihat adiknya yang sedang tertidur itu. Dia cemberut tidak bisa melihatnya lebih lama, dan sekarang dia lihat kalau Sarah mengambil adiknya. Menggendongnya sembari memperhatikan wajahnya.


Tapi anak ini mulai bergerak membuat Sarah sedikit kewalahan, segera Adly sadar kalau anaknya menghilang di tempatnya dan ada ditangan Sarah. Melihatnya kehilangan keseimbangan sontak dia kaget dan melesat mengambil anaknya, begitu juga Sarah yang langsung terjatuh.


Adly terengah-engah karena syok anaknya mau jatuh. Ibunya langsung meminta Fidya untuk digendong olehnya, Adly memberikannya pada ibunya dan dia kelihatan ketakutan.


Sarah bangun dan mendekati Widya yang sudah dianggap kakaknya itu, "maaf.. maaf.. maaf kak!"


"Hati-hati sedikit kalau mau gendong kasih tau kami! Dan belajar menggendong anak! Jika belum bisa jangan gendong bayi! Cepetan sana nikah, Fauzan keburu kepengen!"


"Justru dia yang gak mau cepet-cepet!"


"Udahlah! Jangan.. bawa Fidya lagi kalau kamu belum bisa!" Bentak Widya. Dia sepuas-puasnya menceramahi Sarah dengan suara yang cukup keras, dan dia begitu marah padanya.


Sedikit tersenyum kecil Adly melihat mereka berdua, dan sekarang Fauzan mendatanginya. Menarik tangannya menyeretnya keluar dari ruangan, menarik napas panjang dia keluar dan melihat kalau Ryan juga ada di sini. Dia heran karena harusnya dia berada di negara tetangga.


Ada yang lainnya juga membuat firasat Adly buruk karena pasti ada sesuatu yang serius kalau dirinya sampai dilibatkan, dan sekarang dia tengah keadaan tidak bisa meninggalkan istrinya.


Zaky tersenyum masam, "ada kabar yang buruk.. dan Ezra sedang menanganinya."


"Apa maksudmu ?"


"Pasukan zombi tengkorak mulai terlihat, jumlahnya ada ratusan dan puluhan zombie level tujuh lalu, yang lainnya juga."


"Tengkorak ?! Itu gila, bagaimana keadaannya dan korban tentara kita ?!"


"Tentara negara... Habis dibantai dan seperempatnya berubah menjadi zombi, kini ada zombi yang menggunakan senjata dan senapan mereka juga menjadi senjatanya."


"Ini sangat buruk.. tapi, bagaimana dengan anggota Belati Putih yang ada di sana ?"


"Ezra yang memimpin mereka terluka pada tangan kirinya karena terlalu banyak menggunakan kekuatan Elentry, dan semua orang-orang kita hanya mengalami luka saja.. tidak ada yang tewas."


"Itu membuatku lega, tapi keadaannya sangat buruk ? Maaf.. aku tidak bisa meninggalkan istriku."


"Ini darurat! Maaf, tapi kamu harus ikut denganku, Adly! Banyak orang yang menderita!" Ryan berteriak. Wajahnya yang disembunyikan topeng itu begitu cemas, dan Adly tahu dia sedang berpura-pura saja untuk mengatakan itu karena dia tahu semuanya tentang apa yang terjadi saat dia berlibur.


Sudah beberapa kali Ezra bicara dengan Adly kalau saat bertarung Ryan selalu saja melamun seperti sedang memikirkan sesuatu, dan kehamilan Vina juga baru beberapa hari yang lalu.


Dia tersenyum masam dan mendekati Ryan dengan tatapan serius, "padahal kau sudah mau jadi ayah dan mencemaskan istrimu, tetapi karena terlalu menganggap kalau banyak orang membutuhkanmu kau begitu memaksakan diri."


"Baiklah! Aku akan menyusun rencana agar kita bisa mengambil yang terbaik dari perang ini dan mendapatkan kemenangan tanpa korban jiwa!" Fauzan bicara. Semua orang ini tersenyum dan mengangguk kecil, setelahnya beberapa dari mereka pergi dan sebelum pergi pamitan dulu pada mereka yang tinggal.


"Terimakasih buat ingetin aku, Adly! Nah, sekarang mana anakmu itu ? Aku ingin melihatnya lebih mirip mana ayah atau ibunya."


"Yah.. dua-duanya, sih!"


"Masuklah dulu.. ahaha!" Adly masuk ke dalam dan diikuti mereka semua, dia lihat kalau Alia sedang mengelus kepala adiknya itu. Dengan penuh kasih sayang dan penuh kebahagiaan diwajahnya itu, dia tahu walaupun adiknya itu bukan adik kandungnya tetap saja disayangi olehnya seperti adik kandungnya.