
Beberapa menit berlalu Rani sudah kesal untuk menunggu para Drone itu mencari tempat yang aman untuk menyimpan persediaan dan persenjataan. Melihat ke arah prajurit yang dijuluki monster, dia menyeringai seperti menginginkan sesuatu darinya. Adly langsung memelas menanggapinya.
Sebelum sempat bicara Adly segera pergi karena merasakan firasat buruk. Dia tidak ingin kembali ke tempat itu sendirian, lelaki itu berpikir kalau atasannya akan memintanya untuk turun lagi. Saat diluar tenda Adly melihat teman semasa sekolah militernya, dia datang padanya dan menepuk pundaknya.
Zaky melihat Adly datang melambaikan tangannya dan berkata, "apa yang dikatakan wanita itu ?"
"Dia memintaku untuk menyampaikan pesan darinya. Kamu disuruh untuk menghadapnya."
"Huh ? Apa lasi sih!" Ucapnya sambil berdiri. Zaky pergi masuk ke dalam tenda itu, kemudian Adly berlari dengan cepat bagaikan angin. Widya melihatnya segera cepat-cepat menyusulnya meninggalkan Alia sendirian, anak itu cemberut saat ibunya meninggalkannya sendirian.
Anak itu masuk ke dalam tempat persediaan senjata dan mengambil shotgun dari sana, orang-orang melihatnya kalau sudah biasa saja. Alia ayah dari ketua grup Pembantai bermain-main dengan senjata, itu sudah biasa bahkan banyak orang yang melihatnya seperti bayangan ayahnya.
Sudah banyak orang yang mengecap kalau dia akan menjadi penerus ayahnya, jikalau anak itu menjadi ketua yang setelahnya pasti grup itu akan bisa saja takkan ada perubahan. Namun, itu yang perkiraan semata saja karena belum tentu juga.
Widya memperhatikan bajunya Adly sambil keheranan, "kamu kenapa bisa terjatuh ke sana ?"
"Sudah aku ceritakan. Bukan ?"
"Kenapa kamu sampai tidak membawa senjata dan perlengkapan lengkap ?"
"Yah.. soalnya, aku agak sedikit malas membawa benda itu dan maaf kalau malam ini aku bakal.. nolak atau tunda dulu.."
"Tolong katakan lagi," ujar Widya sambil mencengkram kaleng minuman dengan kuat. Adly mengingat wajah seram Widya saat ini, dia tersenyum lebar dengan tatapan kosong. Yang ada dalam benaknya pasti dia akan menderita malam ini, dia harus bisa membuat Alia membatalkan hal ini.
Zaky mendeham kemudian keluar dari tenda sambil dengan perasaan kesal. Dia melihat jurang yang dalam dan mengeluarkan kalungnya, tangannya dikelilingi partikel ungu dengan cahaya yang terlihat seperti spektrum warna. Langsung melompat ke bawah jurang dengan cepat.
Setelah kejatuhannya ada rantai keluar dari jurang dan mengikat pada pohon, semua tersadar kalau itu perbuatan siapa. Zaky turun dan melepaskan rantai dari punggungnya, dia melihat peta yang susah ditelusuri oleh Drone. Hanya saja sinyal mereka langsung menghilang pastinya karena sudah dihancurkan oleh para monster yang menghuni tempat ini, dia menghela napas sambil melemparkan sebuah lampu kecil.
Lampu itu hidup dan melayang menduplikat dirinya sendiri menjadi banyak. Menempel ke dinding, berjajar hingga tempat terakhir sinyal Drone terdeteksi. Zaky menghela napas sambil menyusuri tempat yang gelap ini, dia lihat sekitarnya kalau ada banyak sekali sisa-sisa batu bekas tebasan sesuatu.
Zaky melihat sekitar, "sudah jelas kalau ini perbuatannya Adly, tapi kenapa dia tidak ingin menelusuri tempat ini ? Bukannya akan mudah kalau dia saja ?.. ah, kurasa enggan karena dia pernah terjebak di tempat ini dan hampir mati. Trauma kurasa."
Lelaki itu tersenyum masam sembari melihat ke sekitarnya, seketika dia mendengar sesuatu dari depan dan sepasang mata biru menatapnya dalam kegelapan. Menyiapkan panahnya dia membidik dan menembaknya, kemudian keluar tikus besar seukuran dengan motor.
Memperhatikan giginya ada sesuatu yang terlihat tidak asing. Itu adalah Drone, sudah jelas kenapa sinyal itu menghilang dan saat diperhatikan olebuh jelas kalau tikus ini sama sekali tidak kelihatan benar karena setengah tubuhnya terlihat hancur.
"Zombi lagi, kah ? Kasusnya semakin banyak saja!" Ucap Zaky sambil maju. Tikus itu melompat ke arahnya hendak menyerang, lelaki itu menunduk menghindari cakaran dan menusuk kedua kaki dengan dua pedang yang sedang dipegang oleh kedua tangannya.
"Ya ya.. kau bawel sekali!"
"Aku hanya menasehati saja," jawab kalung itu. Kalung itu bercahaya ketika bicara dengannya, tidak lama keluar burung kecil berbentuk seperti burung kenari yang duduk di atas kepala Zaky. Kemudian Zaky memukul perut tikus, seketika semua pergerakan terhenti dan waktu terhenti bukan melambat.
Dia mencabut pedangnya kemudian salah satu pedang itu menghilang, satunya menusuk kepalanya dan dia merobek kepalanya. Setelah melihat binatang-binatang buas ini, dia melihat ke depannya kalau masih banyak sekali binatang yang sama dengan apa yang dilawan olehnya. Dia pun melanjutkan buruannya.
Di atas Adly menguap sambil tiduran di atas bantal yang akan membuat semua orang iri. Semua orang memperhatikannya, Widya memerah sambil mengelus rambut suaminya yang terlihat kelelahan bukan lelah seperti biasanya, melainkan lelah mental. Susah hati.
Fauzan menatap Alia dengan tajam karena anak itu terlihat sangat berbeda dengan ayahnya, ayahnya itu akan akan menyerang dari jarak dekat. Dengan senjata tajam membuatnya seperti pembunuh berantai dan hewan buas, sedangkan anaknya terlihat seperti dirinya yang terlihat sudah ditingkatkan ke level yang lebih tinggi.
Sarah cemberut menatap kekasihnya yang memperhatikan Alia, "jangan lupa kalau kamu sudah punya perempuan."
"Eh ?! Mana mungkin aku incar anak kecil, kamu aneh deh, aku cuman lihat dia kalau dana seperti ayahnya walau sedikit punya perkembangan."
"Apa kamu pernah melihat Adly mengamuk dan mengeluarkan mode pembantainya ?"
"Belum pernah sih," jawab Fauzan. Dia memikirkan soal Mode itu karena belum pernah terpikir, awalnya hanya ada beberapa orang saja dia juga punya tapi kegunaannya sangat jauh berbeda. Karena kemampuan itu atau saat mode itu aktif semua pengaman dalam perlengkapan akan dilepaskan, membuat seluruh kekuatan yang tersimpan keluar dan membuat daya serang lebih kuat.
Kalau saja Adly mengeluarkannya cepat atau lambat seribu orang akan mati dalam sepuluh detik, memang kedengarannya mustahil. Tapi, memang benar adanya karena ada empat orang yang memiliki mode ini dalam organisasi termasuk Fauzan sendiri. Mereka menamainya berbeda.
Fauzan memiliki mode Pengintai yang kedengarannya tidak seperti untuk menyerang, tapi memakai senjata pistol ataupun senjata jarak jauh asalkan kegunaannya untuk menembak. Dia bisa mengeluarkan jutaan peluru sekaligus, tanpa melihat juga dia bisa membidik jutaan orang sekaligus.
Sarah bertanya pada Fauzan yang terdiam dan tenggelam dalam pikirannya, "kalau soal mode Pengintai kamu ?"
"Oh ? Aku akan menembak satu peluru saja, tapi satu itu akan menjadi berkali-kali lipat dan menjadi banyak."
"Terus bagaimana caranya bisa mengenai semua musuh dengan tepat ?"
"Semua peluru itu akan mengarah pada musuh dengan otomatis dan seterusnya, tapi.. belum pernah dicoba karena itu akan membuat bencana."
"Bencana ?"
"Ya bayangkan saya kalau ada jutaan peluru di langit dan membidik musuh-musuh yang sedang menatapnya dari bawah, hujan peluru nantinya. Itu sungguh menakutkan jujur saja," kata Fauzan sambil memegang tangannya ketakutan. Dia jujur saja belum bisa membunuh banyak orang seperti Adly, walau pekerjaannya begitu tapi dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Karena hanya ini yang bisa dilakukan olehnya agar orang tuanya bisa makan.
Demi hal itu dia masuk ke organisasi sampah ini demi mencari uang, walau banyak tempat untuk mencari uang lagi. Tapi, karena sudah terlanjur untuk berhubungan dengan rekan, teman, dan orang yang dicintai. Dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.