
Zaky hanya terdiam menatap suasana yang tenang seperti ini saat kebingungan melanda pikirannya, dia begitu bingung dengan yang terjadi. Beberapa saat kemudian, dia melihat seekor gagak yang masuk lewat jendela melemparkan sesuatu padanya.
Sesudahnya gagak itu pergi terbang menjauh, hendak mendekati benda yang dilemparkannya itu Zaky mengambilnya. Sebuah kotak kecil sebesar penghapus pensil, berwarna hitam dengan banyak lubang. Seperti sebuah tempat penyimpanan memori.
"Ini seperti tempat penyimpanan memori, hanya saja.. bentuknya tidak datar dan agak lebar sedikit.. apa ini ?" Ucapnya pelan. Dengan penuh keheranan, dia berpikir kalau mungkin saja ini hanya perbuatan gagak saja. Cukup membuatnya penasaran tapi karena sedang panas, dia tidak mempedulikannya dan hanya menyimpannya di saku.
Otaknya sedang panas memikirkan hal-hal yang membingungkan baginya..
***
"Kuharap dia bisa memahami apa maksudnya kotak penyimpanan itu."
"Semoga."
"Lyna ?"
"Ya."
"Hey, apa kamu rindu pada Zaky ?" Tanya Zyred sembari tersenyum. Wanita yang sedang duduk di atas kasur itu tetap tersenyum dan mengangguk, Zyred memalingkan wajahnya pada layar komputer lagi. Dia salah untuk mempercayai perkataan pria gila itu, orang mati takkan bisa hidup lagi dan malah menciptakan bencana saja.
Dulu saat dia masih ada, sebagai ibu dia cukup memberikan kasih sayang pada anak dan suaminya. Setiap hari, dia selalu meluangkan waktu untuk anak maupun suaminya.
Seorang ibu yang kuat dan selalu bersabar, dengan keadaan yang sekarang Zyred hanya bisa mengurus rumah saja. Penyakitnya ini takkan bisa membuatnya bekerja, keadaannya akan menambah bebannya saja jika sampai bekerja dan jatuh sakit lagi.
Dia tidak ingin menambah masalah lagi dan hanya mengurus Zaky saja..
"Hei, ayah.. aku ingin mobil mainan yang kayak punya temenku!"
"Eh ? Ah, kalau begitu ayah mau buatkan kamu bagaimana ?"
"Gak mau pengen itu!" Zaky merengek. Umurnya baru 7 tahun, itu wajar bagi Zyred melihat anaknya seperti ini hanya saja saat melihat mainan yang murah seperti itu membuatnya sedih. Ibunya berjualan makanan saja, takkan cukup untuk biaya sekolahnya sekalipun dan dia bersyukur anak ini cukup pintar.
Dia meringankan beban ayah dan ibunya dengan mendapatkan beasiswa, tetapi itu tidak cukup dan banyak sekali hal yang perlu dibiayai. Seperti alat sekolahnya misalnya.
Beberapa saat kemudian telepon berdering, Zyred mendekati tempat ponsel dan melihat kalau nomor ini dari rumah sakit.. sedikit agak cemas dia mengangkatnya.
"Halo.."
"Ya, apa ini dengan bapak Zyred ? Suaminya dari ibu Lyna ?"
"Iya ini saya, ada apa ya ?"
"Istri bapak kecelakaan dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit."
"Hah ?!" Ucap Zyred kaget. Seketika dadanya sesak dan dia menutup telepon, dia terjatuh dan mengusap dadanya beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Zaky datang, dia membawakan segelas air untuknya dengan wajah cemas pada ayahnya.
Dia tahu kalau ayahnya akan begini jika sampai kecapekan, atau merasakan kecemasan yang berlebih.
Ayahnya berdiri lalu bergegas membawa Zaky pergi keluar dari rumah, dia ingin segera mengetahui keadaan istrinya ini. Tapi, sama sekali dia tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit dan hanya untuk ongkos saja punya.
Namun sesampainya di rumah sakit, dia hanya melihat jasad istrinya saja dan seorang dokter yang menjelaskan penyakitnya..
"Ayah.. ibu kenapa gak bangun ?"
"Sebentar lagi.. dia akan bangun, kamu tunggu saja ya."
"Oh begitu ya ?"
"Iya!" Ucap ayahnya. Sembari menahan tangisannya, dia hanya bisa beralasan seperti itu pada anaknya dan bisa membohonginya saja. Selama ini dia tidak melakukan apapun sebagai ayah, perannya semuanya diambil ibunya sampai seperti ini. Karena pusing dan terlalu banyak bekerja, dia sampai memaksakan dirinya.
Sampai kejadian ini terjadi, karena dirinya yang tidak berguna Zaky harus sampai kehilangan ibunya diusia muda. Sama sekali tidak bagus.
Dokter tersenyum, "pak.. saya ingin bicara dengan Anda soal istri bapak."
"Biaya akan ak--"
"Bukan soal itu, ini hal lain.. bisa ?" Tanya dokter dengan senyum. Senyuman itu sama sekali tidak bisa membuat Zyred yang sekarang ikut tersenyum, setelah mengetahui keinginan pria gila ini dia hanya bisa pasrah saja.
Seminggu kemudian, Zaky menatap ayahnya dengan mata terbuka lebar dan pupil mata yang bergetar seperti sangat marah. Dipenuhi air mata menangisi ibunya yang sudah tiada ini, sama sekali tidak lucu ayahnya berbohong seperti itu.
Dia mengepalkan tangannya sembari menatap ayahnya dengan tajam...
Ayahnya duduk di hadapan anaknya, "maafkan ayah karena bohong padamu.. akan repot jika kamu mengamuk di rumah sakit dan ayah akan malu."
"Ayah macam apa kau ?!"
"..!"
"Kau hanya diam di rumah seperti pengangguran! Namun, ibu selalu memanjakanmu! Pijatan, makanan, dan sebagainya! Tapi apa ?! Apa ?! Kau hanya orang tidak berguna, dan beban saja, biada--!"
Sebuah tamparan mendarat dengan cukup keras menyela perkataan anaknya hingga Zaky hampir jatuh, sadar ayahnya memeluknya dan meminta maaf.. namun anak ini mendorongnya sekuat tenaga. Tidak ingin menerima maafnya sekalipun dia mati.
Di matanya ayahnya hanya orang yang bersenang-senang saja, walaupun tahu ibunya menderita dia tetap seperti biasanya dan karena dia terus melihat dia hanya bersenang-senang saja membuatnya kesal dan dia ingin agar minimal ayahnya membantu ibunya dalam urusan rumah. Namun, di pandangan ayahnya itu berbeda jauh dengan apa yang dilihat Zaky anaknya.
Ayahnya ingin membantu ibunya membersihkan rumah ataupun memasak, tetapi tidak diizinkan olehnya karena takut penyakitnya akan tambah parah. Tidak ada pilihan lain lagi dia terlihat seperti bersenang-senang, sedangkan anaknya itu dalam topengnya tersenyum depan ayahnya.
Di belakang dia selalu tidak menunjukkan semuanya pada ayahnya. Tapi, karena ibunya sekarang sudah tidak ada jadi tak perlu lagi disembunyikan karena dia tidak ingin ibunya sedih melihatnya tidak menyukai ayahnya sendiri...
"Aku tidak mengakuimu sebagai ayah.. kau hanya memiliki status sebagai ayah saja, hah.. apaan itu ? Kau terus menerus seperti itu selamanya saja.. ibu jadi korban, dari tubuh hingga juga. Sebenarnya kau itu melakukan apa padanya sampai dia rela melakukan itu semua.. seperti memberikan apapun padamu, tubuh, uang, energi, dan bahkan nyawanya sekalipun!"
"Ayah.. ayah.. ayah.. tidak.."
"Diam! Jangan menyebut dirimu ayah! Dan ingat.. jangan pernah menikah lagi, kau itu orang bejat yang akan membuat anak dan istrimu menderita!" Zaky melotot padanya sembari mengatakan itu. Membelalak matanya menandakan kemarahan yang begitu besar, sama sekali kata maaf juga tidak bisa membuatnya tenang.
Ayahnya hanya diam dan mereka hanya menunggu ibunya dimakamkan, begitu bodohnya dirinya sampai terlihat seperti ini. Mungkin kata ayah juga takkan dikatakan lagi olehnya, namun itu hanya pikirannya saja dan karena saat itu Zaky masih kecil dan tidak memahami beberapa hal.
Walaupun seperti itu, Zyred ingin menjadi ayah yang lebih baik mulai dari sekarang dan menerima kerja sama dengan dokter itu. Yang akan membuat seluruh dunia hancur.. karena dia berhubungan dengan dokter itu...