
Adly terdiam memikirkan nasib gadisnya, dia tahu kalau saat ini mungkin mereka sedang bertarung dan sekarang Alia dititipkan pada Zaky sambil tersenyum. Adly pergi keluar dari rumah, kemudian Zaky menghentikannya di depan pintu.
"Kalau kita tertangkap kita semua bisa sa--"
"Aku tidak punya waktu untuk itu!"
"..."
"Kalaupun dia tidak ingin ikut denganku, aku akan memotong kedua kakinya dan menyeretnya pergi denganku!" Adly menatap Zaky tajam. Lelaki itu melihat kesungguhan di mata Adly, dia mengangguk dan menatap Fauzan yang sedang menahan pedangnya. Terlihat sudah beraksi.
Begitu juga Ezra yang kelihatan menahan dirinya. Dia berkeringat dan tangannya berapi-api, hanya saja berbeda dengan sebelumnya mereka kelihatan sangat berbeda.
"Maaf.. Zaky, menghindarlah!" Fauzan menembak. Dengan pistol itu mengeluarkan peluru petir, dengan sigap Zaky menghindarinya dan menembakkan sebuah peluru. Mengenai tangan Fauzan, dia segera mengambil Alia dan pergi menjauh dari tempatnya.
Saat ini dia juga harus mengambil Ryan juga, anak ini tidak terlalu kuat untuk terus memiliki akal. Sekarang, dia berharap kalau identitas Ryan tidak akan terungkap dan dia harus tetap memakai topengnya. Terbang di langit sepatunya mengeluarkan cahaya biru.
Dia mencari tempat aman, di mana tidak bisa dilacak dengan mudah. Hanya saja.. dia ingat sebuah tempat yang hanya diketahui oleh tiga orang, Widya, dirinya, dan Adly saja.
***
Widya menahan serangan, dia bertekuk lutut dengan bilah pedang di depan wajah yang mulai retak menahan gantungan terus menerus dari kapal raksasa itu. Serangan Widya memang banyak, bertubi-tubi tanpa henti namun, daya hancurnya kecil sama seperti Adly membuatnya kalah.
Sedangkan Rani memfokuskan serangan pada satu titik membuat daya hancur lebih kuat bahkan berkali-kali lipat, sekarang, Widya hanya menunggu waktu hingga dia terpukul oleh kapak itu dan tewas. Sembari berharap mereka sudah lari. Karena dia tahu kalau Rani itu kuat, dirinya mempunyai banyak hal yang bisa membuatnya menang.
Dengan satu tangannya dia masih bisa bertahan hingga saat ini...
"Widya, kuharap kau bisa bertahan!" Adly menggeram. Dia mengigit bibir, mencemaskan istrinya saat ini.
Dia lihat lokasi terakhir Widya berada di rumahnya, maka mungkin saja ada di sekitarnya. Dia melompati hak-hak gedung melihat kalau ada Sarah yang sedang memperhatikan salah satu gedung, dia ikut memperhatikannya kalau ada banyak anggota Belati Putih di atas saja.
Mempunyai firasat buruk, dia segera melesat ke sana dan melihat seseorang yang berharga baginya. Dengan pelindung yang diberikan pada cincin kawinnya, keluar pelindung dinding seseorang sudah terkapar dalam dinding kaca itu. Adly sungguh bersyukur karena apa yang dipasang dalam cincin itu bisa melindunginya sesuai harapan.
Namun, dia memperhatikan tubuh istrinya yang sangat membuatnya marah. Tangan kirinya sudah terpotong, hampir mendekati siku dan kakinya juga sama. Matanya terpejam sebelah, dia mengeluarkan darah dari mata dan mulutnya.
Tanpa panjang lebar dia melesat kepada Rani, menendang kapak itu dan langsung hancur besi itu berkeping-keping. Kedua gadis itu kaget, Rani langsung melompat ke belakang dan heran dengan apa yang terjadi. Kenapa bisa sampai hancur dengan tendangan biasa.
Widya kaget hanya bisa memperhatikan saja, dia tersenyum dan mulai menutup matanya ketika melihat tubuhnya yang hancur membuat Adly begitu marah. Dia menghancurkan pelindung sekali pukul dan melihat keadaan Widya, dia menyayat dagingnya dan memasukannya ke dalam mulut Widya.
Rani tersenyum, "Ohh.. dasar kanibal."
"Rani, apa yang kau lakukan ? Dia temanmu, bukan ?"
"Eh ? Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu.. dagingmu itu dibutuhkan untuk dibuat sebagai obat, seperti apa yang kita lihat sekarang!" Rani menunjuk Widya. Tangan gadis itu mulai tubuh kembali dengan cepat, tulangnya juga mulai tumbuh dan semua luka yang ada sembuh seperti biasanya.
Menidurkan Widya ke lantai, dia berbalik badan dan menatap Rani dengan tatapan mata tanpa cahaya. Kosong penuh dengan kemarahan... Hujan mulai turun, hari juga sudah malam. Keadaan mulai mencekam dengan intimidasi yang merajalela.
Seketika keluar petir dari tubuhnya, jubah mulai keluar dan dua pedang katana keluar tersimpan di punggung dan pinggangnya. Rani mulai panik, dia tahu kalau Adly mulai serius ingin membunuhnya.
Seketika dalam hitungan detik, Adly sampai di belakang Rani tanpa suara. Gadis itu menoleh ke belakang melihat sepasang mata mengintai. Gadis itu kembali mengeluarkan pistol, hanya saja keluar asap dari sekitarnya dan pandangannya mulai kabur.
Sekejap mata Adly memukul Rani sampai dua berguling.. saat anggota yang hendak menyerang, Adly menghentakkan kakinya dan menusuk semua musuhnya.
"Takkan ku maafkan!" Adly marah dia berkata dengan penuh amarah. Dia mengangkat tangannya ke atas, petir naik ke langit dan awan mulai berkumpul di atasnya mengeluarkan petir merah yang begitu besar. Saat ingin menyambar Rani yang sedang terkapar pingsan.
Ada Zaky yang menghentikannya, bola hitam dengan ukiran super besar menghisap petir yang menyambar membuat Adly geram. Namun, Zaky menyadarkan Adly yang dipenuhi amarah itu sekarang membuatnya begitu marah sekali.
Saat itu juga,.. ada humanoid yang kemarin hari, seketika mereka berdua mulai tidak bisa menghindari intimidasi yang kuat itu. Sebuah kesalahan saat Zyred membuat mereka semua takut pada Humanoid seperti ini. Alasannya hanyalah.. membuat pasukan humanoid agar mereka tidak bisa melawan.
Humanoid itu bertanya, "dimanakah yang namanya Alia ? Kami harus membawanya."
"Hah ? Mana mungkin kami memberikannya padamu! Dasar orang gila!" Ezra datang. Dia memukulnya hanya saja, pukulannya ditahan dengan satu tangan dan sekarang Ezra kaget dengan kekuatan cyborg ini. Manusia yang memiliki badan setengah robot, dia memiliki penutup mata merah sebelah dan rambut biru cerah.
Membawa sebuah pedang dan gatling, musuh ini cukup merepotkan jujur saja. Hanya saja.. serangan peluru datang dari langit, jelas itu dari Fauzan yang kehilangan kendali. Dia dikendalikan oleh Rani yang sedang pingsan, sebelum kehilangan kesadarannya Rani memerintahkannya untuk membunuh Ezra.
Diantara mereka berempat, yang paling lemah adalah Ezra dan dia tidak bisa dikendalikan olehnya. Karena itulah, dia ingin membunuhnya agar tidak bisa mengancam rencananya bersama orang itu. Cyborg itu memukul balik Ezra, dia menahan pukulannya dan terlempar ke belakang. Kedua kakinya mengeluarkan api seperti jet, seperti rem membuatnya melambat dan terhenti.
Kakinya mengeluarkan api biru dan dia menendang udara, keluar bola api melesat padanya. Manusia setengah robot itu menyimpan tangan ke depannya, tangan itu plat besi dan menjadi tamengnya.
Hanya saja bukan serangan, itu hanya sebagai pengalihan saja. Adly yang sudah mengincar punggungnya langsung menusuknya, dia memutar pedangnya dan mencabutnya langsung memasukan bom ke dalam tubuhnya yang telah berlubang akibat tusukan pedangnya barusan.
Adly melompat ke belakang, dia sontak kaget dengan apa yang terjadi. Tubuhnya tidak hancur padahal ledakan itu cukup keras... Sangat tidak bisa dipercaya oleh mereka semua. Kecuali dua gadis yang pingsan.