
Fidya kaget sekali mendengar ayahnya berkata kalau dia menciptakan bayangan atau kloning darinya, anak itu menunduk memperhatikan lantai memikirkan kalau dia salah. Harusnya bertanya dulu pada ayahnya, malah langsung membunuhnya dan sekarang dia takut ayahnya marah padanya. Menarik napas panjang dia memegang tangan ayahnya.
"Fidya ?"
"Tunggu sebentar yah.."
"Hmm ? Apa yang harus ayah tunggu ?" Tanya ayahnya dengan senyum masam terukir pada mukanya. Dengan segera Fidya melesat bak kilat ke tempatnya bayangan Adly, dan mengangkat tangannya mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya mulai bertaburan ke atas darah yang berhamburan di tanah. Seperti garam pada masakan.
Tidak lama kemudian tubuhnya terbentuk kembali seperti semula, bayangan Adly terdiam beberapa saat tidak lama memegangi kepala dan tubuhnya. Dia sangat kaget karena sebelumnya dia telah mati, kenapa bisa sampai bisa dihidupkan lagi oleh selain ayahnya. Dia menatap Fidya begitu lama, membuatnya bingung sebenarnya ini anak dari kakaknya atau bukan.
Menghembuskan napas sempat tidak bicara sepatah kata sekalipun, dia ditarik oleh anak kecil dan tangannya terasa dicengkeram oleh gorila dengan kekuatannya ini. Dia diseret menuju kamar ayahnya lagi dan melemparkannya ke dalam kamar, sama seperti sebelumnya suara bising tidak terdengar.
Fidya memeluk ayahnya dan berkata akan kembali ke kamar, mendengar perkataannya Adly mengangguk pelan dan anak itupun pergi dengan langkah kaki yang cepat. Setelah dia keluar dari kamar keheningan tidak terasa lagi, dan Adly bisa mendengar dengan jelas lagi seperti biasanya.
Bayangan Adly bertanya, "apa itu benar anak kakak ? Rasanya.. dia melebihi kekuatanmu."
"Apa dia membunuhmu dan menghidupkanmu ?"
"Ya benar."
'hmm.. sudah kuduga, tetapi dia takkan melakukannya dengan perintah orang lain itu kehendaknya sendiri kalau diperintah dia takkan bisa mengeluarkan kekuatannya."
"Aku rasa ini bukanlah antara ayah dan anak lagi," jawabnya sembari tersenyum kecut. Mengerti apa yang dimaksudkan olehnya Adly mengangguk paham dan memikirkan tentang cara agar Fidya tidak melakukan hal buruk, akan bagus kalau dia bisa menggunakan kekuatan itu untuk digunakan untuk kebaikan dan melindungi ibu serta kakaknya. Namun, yang paling ditakutkan ayahnya adalah kalau salah satu dari mereka mati.
Mungkin Fidya takkan terima dan langsung mengamuk, yang paling buruk hanyalah dunia ini kacau hancur lebur. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau Fidya punya kekuatan untuk menghancurkan dunia ini dan juga awal mula dari semua ini yaitu batu atau kristal Elentry di bawah tanah, kalau itu tidak ditemukan dan dibuat senjata mungkin kejadian seperti ini takkan pernah terjadi.
Menghela napas panjang Adly mengangkat wajahnya dan mencakar pipinya hingga berdarah, sedikit kesal dengan apa yang terjadi dia menepuk kasur di sampingnya memintanya untuk duduk. Bayangan Adly paham dan duduk disampingnya.
Adly meraba-raba tangannya, "Tidak seperti sebelumnya, aku ingin kau terus hidup sampai akhir kita.. tidak sepertimu yang bisa dibangkitkan lagi olehku kalau aku mati berarti dirimu juga, ingatlah itu.."
"Aku tahu itu dari dulu, kenapa kakak membahasnya ?"
"Gantikan aku jadi prajurit, pelindung, dan ketua kelompok pembantai."
"A-apa ?... Karena kakak sudah buta ya."
"Ya benar, dan mulai dari sekarang pakai nama Aldy saja.. katakan pada warga kalau kamu itu adik kembar dariku saja."
"Sudah lama aku tidak memakai nama itu lagi, baiklah! Akan kulakukan!" Ucapnya sembari berduri dan matanya memperlihatkan semangat. Namun, dalam hatinya dia ingin segera untuk menemui Zaky ataupun Fauzan agar mendapat penjelasan kenapa kakaknya sampai seperti ini. Tentu walaupun dia hanya bayangan tapi dia tetap saja manusia, dia punya hati dan pikiran.
Menghembuskan napas Adly menunjuk ke lemari dan mengatakan kalau Aldy perlu mengambil selimut beserta kasur lipat untuk dia tidur, tersenyum masam Aldy menolak. Tetapi Adly memaksanya terus hingga dia mau.
Dia tidak merasakan lagi Adly kejam penuh berlumuran dengan darah, sekarang perasaan itu mulai berkurang.
Dia keluar dari kamar dan menutup pintu, "Kakak sudah berubah,.. tapi aku tidak membencinya, loh."
"Eh.. ayah kenapa kelu---!"
"Ugh!"
"Siapa kamu ?!" Tanya Alia tiba-tiba sembari menendang perutnya. Hendak ingin bicara menjelaskan kesalahan pahaman ini lagi pada anak kakaknya, dia tidak sempat bicara dengan Alia melanjutkan serangan membantingnya ke lantai dan tidak bisa melawan sama sekali lelaki itu hanya menerima giginya lepas setelah mendapatkan tendangan di pipi kanannya.
Alia menatap lelaki yang dianggapnya pencuri dan menghidupkan lampu, sontak dia kaget ketika melihat kalau ini bayangan ayahnya. Klon ayahnya, dia tersenyum masam dan berjongkok mendekatinya.
"Maaf yah Aldy.. kukira kamu pencuri."
"Tadi adikmu, sekarang kakaknya.. kuharap anak yang dikandungan Widya tidak memukulku ketika lahir nanti."
"Eh ? Apa ?!"
"Aku sempat melihat dengan mataku kalau ada kehidupan dalam perutnya."
"Dah kuduga! Ayah sama ibu bakal punya puluhan anak! Dan aku akan dibuang karena bukan anak kandung dan dan dan..."
"Alia ?!" Ucap Aldy kaget. Dilihat kalau Alia terjatuh ke lantai, dengan kesadaran yang hilang.. menghembuskan napasnya dia mengangkat anak kecil ini dan menghampiri pintu kamarnya, dia membuka dengan kakinya lalu pintu terbuka. Mendapati kalau adiknya sedang tidur dia pelan-pelan membawa Alia ke atas ranjang dan menidurkannya.
Dia berjalan kembali ke depan pintu dan sebuah pisau melayang di hadapannya, serentak dia mengambil pedangnya dan membelah dua pisau tersebut. Matanya sinis menatap pisau yang sudah terbelah tapi masih melayang, dia berbalik badan dan melihat Fidya membuka sebelah matanya dengan senyum anak gadis kecil imut. Tapi nyatanya monster dibalik senyuman lucu itu.
Fidya menutup kedua matanya, "kau hanya klon ayah jangan sampai ada keinginan untuk menggantikannya apalagi kalau sampai kurang ajar ke ibu ... Bukan nyawamu, tapi jiwamu takkan tenang."
"Aku akan langsung mempercayai perkataanmu itu dan takkan pernah melakukannya."
"Dan apa yang kau lakukan pada kakakku ? Apa kau memperko--"
"Mana mungkin!" Bentaknya menyangkal perkataan yang hendak keluar dari mulut anak di hadapannya ini. Dia memikirkan apa yang telah diajarkan Adly pada anaknya sampai tahu hal semacam itu diusia yang terbilang muda, bahkan masih sangat kecil seperti ini tahu begituan.
"Bagus, nah pergilah..!"
"Woah! Apa ??!" Ucapnya kaget lagi. Tubuhnya melayang lalu perlahan keluar dari kamar, pintu tertutup dengan sendirinya membuat Aldy tahu kenapa kakaknya sampai bingung menghadapinya dan sekarang dia takkan pernah mau berhadapan atau membuat anak itu marah padanya. Dia takkan tenang walaupun sudah mati.
Bahkan kematian sekalipun dia takkan bisa lari dengan hal semacam itu, karena Fidya bisa menghidupkannya lagi. Terus menerus membuatnya menderita sampai anak perempuan itu puas, Aldy menghembuskan napas dan merasa kalau memang benar kalau Adly sudah berubah. Tetapi.. sekarang sifatnya turun kepada anaknya.