
Mereka seperti sedang berdebat akan sesuatu membuat Ryan heran dengan kelakukannya, hanya saja sedari tadi para Tengkorak menatapnya walau mereka tidak punya mata. Tidak lama segerombolan zombi raksasa datang, mereka semua para Tengkorak langsung pergi menghiraukan Ryan seakan-akan takut pada raksasa zombi.
Semua zombi yang melihat mereka pergi segera pergi meninggalkan tempat Ryan dan Shinta sedangkan zombi raksasa kelihatan melemparkan sesuatu, sebuah mobil truk yang besar. Suaranya begitu keras hingga Ryan harus menutup gendang telinganya, matanya menatap sinis pada zombi ini namun dia tetap pergi setelahnya.
Menoleh pada Shinta, Ryan terlihat bingung bagaimana caranya dia tidak diincar oleh banyak zombi itu terkecuali para tengkorak membuatnya kebingungan.
"Apa kam--"
Perkataannya terhenti, tangannya ditarik lagi menuju gudang membuat Ryan tahu kalau ini akan sulit untuk keluar dari sini. Para Tengkorak berada di tempat keluarnya dari kota, mencegah siapapun manusia yang masuk ataupun keluar dari kota ini kelihatannya seperti penjaga.
Hanya saja para zombi menganggapnya sebagai kawannya, mungkin karena dirinya pernah menjadi zombi dulu. Memahami akan hal itu dia paham tetapi sekarang ia tidak bisa menghubungi Kein atau siapapun, karena Earbuds miliknya kehabisan daya dan di sini hampir tidak ada sinar matahari. Sulit untuk mencari cahaya.
"Andaikan aku bisa mengisinya memakai baterai," ucapnya sembari memasuki gudang dengan paksaan. Sekali lagi, dia memasuki gudang membuatnya kesal sekali pada mantannya ini walaupun begitu ia sangat membuat Ryan sangatlah jengkel dengannya.
"Kita keluar!" Bentaknya. Namun, zombi ini tetap saja menggeram dan menggelengkan kepalanya. Tidak ada harapan bagi Ryan, Ryan mengambil kapur lalu menulis beberapa hal yang perlu diingatnya pada sebuah keras. Kapur warna hitam, kelihatannya seperti krayon tetapi ini adalah kapur warna hitam yang bisa digunakan untuk menulis.
Disaat dia sedang menulis ia melihat seorang gadis melihatnya dari jendela gudang, sontak membuatnya kaget tidak main langsung melesat pada pintu ruangan hanya saja Shinta menghalanginya. Gadis di luar menghela napas lalu masuk ke dalam.
Mendapati kalau seorang prajurit Belati Putih sedang dipeluk zombi perempuan, gadis berusia sekitar 14 tahunan ini tersenyum masam. Serentak Ryan menyingkirkan pelukannya dan datang pada si gadis, hanya saja Shinta lagi lagi menahannya dengan pelukan membuatnya bingung.
Tahu kalau ini gadis yang selama ini Ryan cari dia tidak mau kehilangannya lagi, tidak lama gadis ini keluar dari gudang. Tidak terima ini, Ryan mengambil tangan Shinta lalu berlari keluar dari gudang dan menghampiri gadis ini.
"Oh kalian sudah selesai berduaan ?"
"Bagaimana kau bisa bertahan di kota penuh zombi seperti ini ?"
"Tanya malah balik tanya, yah sudah.. seperti dirimu aku juga punya darah dari ayah kurang ajar itu."
"Apa maksudmu ?" Tanya Ryan padanya. Gadis ini terdiam dia mengatakan kalau Zaky wakil ketua Belati Putih pernah bicara dengannya, menjelaskan tentang darahnya dan ayahnya segera Ryan bingung dengan perkataannya. Dia menatap sinis pada tanah sembari membayangkan wajah Zaky yang mungkin saat ini sedang menyeringai.
Memikirkan kalau gadis ini adiknya membuat Ryan terdiam sejenak, tidak lama dia mengambil Earbuds miliknya dan memproyeksikan gambar ayahnya serentak gadis ini kaget. Matanya membulat sempurna nampak marah sekali ketika melihat gambar ini muncul, tangannya mengepal membuatnya terlihat benar-benar seperti marah.
Hendak bertanya padanya terapi Ryan keburu bertanya duluan, menanyakan tentang Zaky kenapa tidak membawanya pergi. Gadis ini memperhatikan sekitarnya dengan mata sedih, terlihat kesedihan ada di matanya lalu ia mengambil handphone dan membunyikan sebuah lagu. Lagu ini kenal bisa membuat orang tertidur, ia memutarnya dengan volume maksimal.
Namun, tidak lama Ryan lihat kalau semua zombi mulai terdiam dan terlihat memasuki rumah-rumah beserta gedung-gedung kecuali Shinta yang memegangi dan menarik-narik tangan Ryan ingin memasuki gudang..
"Apa maksudnya ? Kenapa musik itu bisa.."
"Lagu ini sangatlah terkenal di kota ini, pasti orang-orang pernah mendengarnya sekali saja.. mereka ketika mendengar suara ini akan memasuki rumah karena teringat kalau ada lagi ini berarti hari sudah malam."
"Jadi, kau ingin mengatakan mereka masih punya sisi kemanusiaan mereka, begitu ?"
"Ya benar, tapi lupakan dulu soal itu aku ingin bertanya soal foto ayahku ya--"
"Kota bicara di dalam saja yuk," kaya Ryan menyela perkataannya. Mengangguk paham gadis ini ikut bersamanya memasuki gudang, sedangkan Shinta terus menempel pada Ryan sedari tadi tidak ingin lepas seperti kertas dan lem. Menempel terus sudah dipisahkan.
Di dalam gudang gadis atau adiknya Ryan mengambil sebuah roti lalu melahapnya, sedikit heran kenapa raut wajahnya biasa saja. Setiap memakannya Ryan merasa mual, karena bungkusnya yang sudah rusak dan roti itu disimpan pada kotak yang sudah hancur. Untung belum tidak dan belum kadaluwarsa masih bisa dimakan.
Bertanya padanya sekali lagi, Ryan bertanya soal kedatangan Zaky kemari untuk apa dan membuatnya sedikit jengkel karena ia akan mencari adiknya malah Zaky yang menemukannya. Menghembuskan napasnya, gadis ini menceritakan kenapa Zaky bisa melepaskannya walaupun dia bisa membawanya paksa.
Perlindungan dari para zombie di sini tidak ada apa-apanya bagi Zaky, ia langsung membuat lubang hitam memotong-motong tubuh para zombie yang tidak punya suhu tubuh. Begitu juga dengan para raksasa, sebelum Ryan datang kemari awalnya kota ini penuh dengan raksasa zombi namun sekarang telah berkurang sepertiga dari semuanya.
Mendengar cerita itu Ryan menelan ludahnya tidak percaya akan kekuatan yang dimiliki oleh Zaky atasannya, apalagi dia sering mengumpat di hadapannya sampai hendak membuatnya marah.
***
"Bagaimana keadaannya ?"
"Ada 10 DyntalGear yang dikirimkan, juga ada 2 unit KnightGear."
"KnightGear ? Ohh... Robot baru ya ?" Zaky menyenderkan tubuhnya ke kursi. Dia menatap lampu di atasnya, teringat bagaimana kuatnya robot itu bisa menahan banyak pukulan dari zombi raksasa. Robot itu menghunuskan pedangnya lalu menebas tubuh zombi raksasa tanpa ampun hingga terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
Mengingat hal itu dia tahu kalau mereka bisa menang, tapi semua lama terus saja banyak korban jiwa yang terus ada. Tidak bisa begini terus dia ingin mengakhiri semuanya hanya saja kalau menyerahkan seluruh kekuatannya, ia takut kalau ayahnya akan melakukan sesuatu hingga membuat mereka nantinya tidak berdaya.
Dikenal sebagai orang yang ahli dalam strategi membuatnya jadi lawan yang merepotkan, menghembuskan napasnya dia mengangguk kecil lalu memerintahkan bawahannya untuk keluar dari ruangan. Menuruti perkataannya ia pergi keluar dari ruangan setelah menyimpan sebuah dokumen di atas meja Zaky di hadapannya.
Memakai kacamatanya Zaky berdiri lalu merapihkan dokumen yang berantakan, sesudah merapihkan dia memasukannya ke dalam laci. Hendak keluar dari ruangan dia mendengar suara langkah kaki yang cepat, menghentikan langkahnya ia melihat ke arah pintu dan sontak membuatnya kaget pintu dibanting seseorang hingga terbuka.
Adly datang dengan napas memburu diikuti oleh Widya, Aldy, Fauzan, dan kedua anaknya. Zaky terdiam dan menatap wajahnya yang sangat kelihatan marah, walaupun tatapan amarah diberikan padanya dia tahu kalau ia marah pada seseorang. Tapi siapa ?