Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
66. Rani, Ryan


Mereka kelihatan sangat akrab sekali satu sama lain, rasanya keduanya seperti seorang sahabat yang selalu bersama. Memperhatikan mereka saja berbincang membuatku sedih, tidak ada yang ingin berteman denganku. Lama kelamaan mereka akan pergi meninggalkanku seorang diri.


Belum pernah memahami kenapa mereka sampai menjauhiku segitunya, buatku heran hingga pernah menangis di kamar pada malam hari. Sekolah itu.. agak sedikit menyulitkan ya.


"Widya! Kenapa kau melamun !?"


"Eh ?! Ya.. ada apa ?"


"Kau.. apa kau tidak melihat orang tuamu sedang memanggilmu ?" Tanya Fauzan. Aku memperhatikan mereka berdua atau ayah ibuku, sedang berkemas ingin pulang ke rumah. Rasanya aku tidak ingin pulang ke sana.


Menoleh pada Adly yang sedang terdiam dia memperhatikan rambutku terlihat sedikit menyukainya ? Ah, mungkin dia menyukai perempuan yang punya rambut panjang. Sesaat ingin bertanya seperti itu ayah datang.


"Hey, Adly.. apa di dekat sini ada sekolah SMP ?"


"Eh ? Ada kok. Biayanya juga cukup murah, eh tunggu kau tidak pindah kemari untuk sekolah kan ? Bukannya liburan ke kakekmu ?"


"Aku punya tabungan di rekening, jadi..." Mataku menatap ayah. Ayah langsung menghindari mataku, segera aku mengambil tangannya dan menatapnya sambil menjelaskan semua masalahku. Ayah langsung jadi begitu paham, kecuali ibu yang datang mulai mengomel lagi.


Dia terus mengoceh tidak ada anak orang kaya di kota kecil ini, terus saja membuatku kesal terhadap si ibu ini. Sekarang, kakek dan nenekku datang mendorong anak perempuannya ke mobil. Bagus!


"Ya udah kalau itu keinginan kamu. Tapi, Adly.. apa bapak bisa titipkan anak kami padamu ?"


"Sebagai lelaki ?"


"Bukan, teman.. jangan berharap bisa menjadi menantu ku kalau kau bel---!"


"Tidak! Kau boleh mengambil Widya! Lakukan semaumu! Tapi kau harus tanggung jawab!" Teriak ibu dari dalam mobil. Ayahnya membungkam mulutnya, mereka berdua tampaknya sudah terbiasa dengan ibuku yang seperti itu.


Melemparkan kunci mobil ayah memperhatikan kakek yang mulai membawa ibu pergi, ayah sekarang menarik tanganku menjauh dari mereka berdua. Dia mulai panik melihatku tertarik pada seorang lelaki, yah dia menyadari kalau aku mungkin begitu tertarik pada Adly. Yah aku tidak bisa menyangkalnya.


***


"Ah, sejak kapan ya ? Sudah berapa lama ya, Adly ?"


"Widya ?! Hey, hentikan operasinya sekarang juga! Panggil Adly masuk ke dalam!"


"Baik!" Salah satu menjawab. Dia segera melesat keluar dari ruangan membawa Adly yang sedang terdiam depan pintu, setelah mendapati istrinya kekuatan mulai bicara sendiri membuatnya tidak bisa menahan air katanya keluar. Anehnya, regenerasi yang diberikan Adly sebelumnya tidak membuat tubuhnya kembali seperti semula.


Lelaki itu mendekati gadis yang sedang terbaring di ranjang pasien, dia mengigit tangannya mengeluarkan darah dan terus mencoba meminumkannya. Zaky menghentikannya, Widya akan mendapatkan terlalu banyak kemampuan itu.


"Apa yang kau lakukan, Zaky ?!"


"Apa kau ingin membuat tubuhnya meledak ?"


"..! Bukan itu...!"


"Jika dia terlalu banyak memakan ataupun meminum darah dari pengguna Elentry, dia akan kelebihan muatan dan tubuhnya akan meledak. Ini susah batasnya... Karena penggunaan dari kekuatan yang berlebihan dan luka yang fatal, dia akan meledak jika kamu terus beri dia regenerasi."


"Lalu bagaimana ?! Tolong bantu aku! Kumohon!" Adly memegangi kedua bahu Zaky. Lelaki itu hanya terdiam menatap Adly, dia mulai tidak bisa menahan bendungan air yang mulai pecah itu.


Mereka semua terdiam cukup lama, tapi saat-saat yang bersamaan Alia datang dan melihat ibunya.


"Hah ?! Apa maksudmu ??"


"Dia mengatakan kalau dirinya hamil sebelum ini."


"... Jadi, mungkin kita bisa menyelamatkan nyawanya.. kalau soal anak kalian bisa punya lagi di masa depan, maaf untuk ini.. tapi nyawanya lebih penting!" Zaky tersenyum kecil. Lelaki berambut putih itu mengangguk, dia sama sekali tidak menduga ini.


Keluar dari ruangan operasi dia menatap gadis yang sedang terbaring di ranjang itu, ayah dan anak itu keluar dari ruangan. Sembari merasakan kesal dia tidak mengharapkan ini, lalu soal Rani kenapa dia sampai melakukan hal semacam ini.


Dia duduk di bangku dan memikirkannya. Pikirannya hanya soal Ryan, saat ini dia mungkin berada di rumahnya atau lebih tepatnya di bawah tanah. Namun, dia tahu kalau Rani melakukan ini agar tidak ada yang menderita seperti dirinya. Melihat ke arah Alia, dia tahu kalau penawar tidak bisa diambil dari Alia kalaupun dia memberikan anaknya tidak akan mengubah apapun.


Saat ini keadaan begitu kacau, semua anggota Belati Putih grup pembantai jadi buronan termasuk Zaky dan dirinya. Kecuali Fauzan.. memang Ezra berhasil kabur bersamanya, hanya saja dia tidak bisa kemana-mana. Melepaskan alat yang mengendalikannya itu susah, mereka tidak tahu alat itu berada di mana.


Rani sudah merencanakan ini, semenjak bisa bergabung dengan perusahan robotika dia bisa memperkuat kekuatan. Dengan alasan grup pembantai memiliki banyak veteran dan anggota berbakat, dia tidak ingin memberikan alat baru pada meyfka semua termasuk Zaky maupun Adly.


Alia menarik-narik baju ayahnya dengan mata yang kelihatan memerah, "apa ibu bakal baik-baik saja ?"


"Apa ayah boleh bohong ?"


"Gak!"


"Ayah gak tau, Widya bisa pergi begitu saja ataupun bersama kita. Apa Alia rela kalau ibu pergi buat selamanya ?"


"Enggak!"


"Ya ayah juga, kuharap!" Adly menunduk. Dia begitu kesal tidak bisa melakukan apapun, jujur saja dia selalu tidak terlalu memikirkan luka dengan kemampuan regenerasi yang hebat miliknya dan kemampuan penyembuhan yang hebat. Dia sudah terbiasa dengan rasa sakit, hingga membuatnya tidak kenal lagi dengan sakit itu apa.


Namun, perasaan itu terasa lagi olehnya. Rasa sakit itu bukan dari luka fisik, dia merasakan sakit hati membuatnya sedikit memahami betapa pentingnya rasa sakit itu mau dalam ataupun luar.


Sedangkan di tempat lain Rani melepaskan kertas-kertas yang tersimpan rapi di atas meja, dia menghampiri jendela dan mengigit jarinya. Dia tidak mengetahui di mana keberadaannya mereka semua, sama sekali tidak menemukannya. Dia melirik ke belakang.


"Hey! Pak tua, kau sebaiknya cari mereka saja!"


"Tenang... Tenanglah.."


"Hah ?! Cepatlah, dasar orang tua!"


"Oi oi mana sopan santunmu itu ?" Tanya Zyred dengan senyum. Rani mendatanginya kemudian memberikan sebuah kertas, lelaki itu melihatnya dan segera tersenyum setelah mengetahui apa yang diinginkan oleh gadis kecil di hadapannya ini.


"Baiklah, kalau kau sangat inginkan dia. Tapi.. aku harus bermain dulu denganku."


"Aku sudah tidak peduli lagi.. tidak ada yang boleh menyentuhku selain Ryan, itu tidak boleh!"


"Ahahaha! Baiklah.. seorang ibu yang membuang anaknya dan anaknya itu menjadi zombi, lalu dia berubah jadi manusia lagi.. itu menarik!"


"Cepat cari dia! Mau anaknya atau ibunya! Aku tidak peduli!" Rani memukul meja. Matanya penuh dengan amarah, sedari tadi Zyred tersenyum dan tertawa seperti mengajaknya bercanda. Hanya saja, dalam hatinya dia tahu kalau gadis yang ada di hadapannya ini bukanlah lawannnya atau lawan siapapun.


Dengan kemampuannya yang akan menghancurkan kata frame membuat Zyred agak ketakutan, gadis ini melampaui apa yang namanya frame terakhir. Kekuatan Elentry-nya setara dengan Fauzan, regenerasinya sama dengan Adly, kekuatan daya tahannya setara dengan Zaky, dan jangkauan serangannya itu sama dengan Ezra.