Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 103 : Mantannya Ryan Yaitu Zombi


Sudah sebulan semenjak Ryan terkurung di tempat ini, ia tahu kalau takkan mungkin bisa melalui segerombolan zombi yang ada di sini. Mereka banyak sekali bahkan ada Sekitar 30 raksasa yang ada di sini membuatnya bingung, ukuran mereka 10 meter lebih yang harusnya menjadi urusan DyntalGear bukan dirinya.


Saat ini dia tengah melahap persediaan makanan yang ada di gudang ini, karena makanan ini bisa bertahan lama tidak berjamur ataupun membusuk. Hanya saja dia pergi keluar dari kota ini karena tidak ada harapan untuk menemukan gadis itu, Ryan juga tidak yakin kalau gadis itu bisa bertahan di tengah-tengah kota penuh zombi seperti ini.


Terlebih lagi dia pernah ingat kalau kota ini hancur dan ada banyak sekali tempat pemakaman, semua mayat yang tidak punya daging hanya kerangkanya saja hidup dan sekarang jadi tengkorak.


"Jumlahnya sangat banyak takkan mungkin aku bisa keluar dengan selamat," ucapnya dalam hati. Menoleh ke belakang zombi perempuan ini masih duduk sedari tadi tidak melakukan apapun, namun, Ryan mendapatkan informasi yang akan berguna.


Zombi bisa terus hidup tanpa makanan, namun entah kenapa mereka memakan manusia. Pertanyaan itu terus menghantuinya hingga sekarang. Kein bersama Jack masih berada di hutan, Ryan tahu akan hal itu hanya saja saat ini dia perlu persenjataan kalaupun ada pemukul bisbol dia takkan bisa selamat dengan jumlah sebanyak itu.


Ryan mendekati zombi perempuan, "namamu siapa ?"


"Grrr..."


"Hahh.. sama sekali tidak bisa diajak bicara." Ryan menunduk. Dia menatap kalau zombi ini begitu kotor membuatnya bingung dan sedikit mengharapkan dia akan menyerangnya, karena hal ini aneh sekali baginya jujur saja. Melihat sebuah keran Ryan ingat kalau keran itu masih bisa mengeluarkan air bersih, mengingat hal itu ia menarik tangan zombi perempuan dan membawanya ke depan keran.


Dengan seringai dia mengambil cangkir dan menguyur tubuhnya, namun zombi ini tetap terdiam membuatnya kesal. Sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi ia tidak tahu lagi harus apa, mengambil keputusan untuk keluar dari sini dan kabur saja.


Tidak ada apapun di gudang ini selain makanan, membuatnya kesal... Tidak ada senjata apapun..


"Senapan minimal kek," ujarnya sambil cemberut. Mendekati pintu keluar dia memegang gagang pintu hendak membuka pintu, ada kedua tangan melingkari tubuhnya memeluknya. Ryan menoleh ke belakang kalau zombi ini menghentikannya, dan napasnya terasa panas.


Ryan tahu kalau ini aneh bagi zombi yang punya suhu tubuh sekalipun, ia mengambil sebuah kertas yang ada di kakinya lalu mengambil kapur. Memberikannya pada zombi tidak ada reaksi apapun darinya, melihat ini Ryan kesal lagi padanya.


"Apa kau mengurungku di sini dan memberikanku makanan terus-menerus agar aku gemuk, lalu kau bisa memakanku sendirian !? Gitu ?!" Tanya Ryan dengan nada tinggi. Zombi terdiam bola matanya mengarah pada lelaki di hadapannya, dia menggelengkan kepalanya serentak Ryan sangat kaget dengan jawaban darinya.


Mulutnya tidak bisa mengatakan apapun lalu dia mengigit bibirnya tahu kalau zombi sekalipun mereka masih punya sisi kemanusiaan, mengambil pisaunya zombi ini terdiam dan sedikit mundur tiga langkah darinya. Melihat ini Ryan paham kalau dia bisa menjadi manusia lagi, memotong jarinya dengan pisau dia merasakan perih dan sakit.


Mendekati zombi ini dia memberikan jari telunjuknya, zombi ini mendekatinya dan mencium bau darah darinya..


"Kalau dia memilih tanganku, mungkin.. sebaiknya aku kurung saja dia," ucapnya dalam hati. Namun, zombi ini memilih jarinya memakannya sekali gigit sontak Ryan kaget lagi dengan apa yang terjadi. Tidak tahu lagi dia mengambil sebuah botol dan mengeluarkan sebuah pil memadukan pil itu ke dalam mulutnya.


Walaupun dulu awal-awal dia bisa mengeluarkan api dari telapak tangannya, sekarang dia tidak bisa menggunakannya lagi. Sedikit merasa lega kalau dia bisa meregenerasi tangannya membuatnya tenang, walaupun seperti itu dia mengalihkan pandangannya pada zombi ini yang diam saja.


"Jangan-jangan dia suka padaku dan mengurungku di sini ?" Tanyanya dalam hati. Melihat pakaiannya dia tidak ada pilihan lain selain mencari barang miliknya, melihat-lihat pakaiannya dia mencari-cari dalam saku dia tidak menemukan apapun.


Melihat saku di depan dadanya membuatnya bingung...


"Tidak, aku sudah punya Vina tapi.. hahh.." menghela napas dia terpaksa mengambil saku bajunya dan merobeknya, sebuah ponsel terjatuh ke lantai membuatnya lega bisa mendapatkan ponselnya. Mengambil ponsel yang tergeletak di lantai dia menghidupkannya.


Tapi mati lagi, dayanya habis.. Ryan melihat sekitarnya ada colokan mengambil pengecas di sakunya dia mengisi daya handphonenya. Handphone mulai menyala memperlihatkan wallpaper yang membuatnya nostalgia, masa SMP sontak juga dia kaget melihat kalau ini foto saat satu kelas berfoto bersama.


Menoleh ke belakang dia tersenyum masam lalu membuka galeri foto ada banyak foto perempuan ini.


"Tidak salah lagi! Dia mantanku, njir!" Ucapnya dalam hati. Memikirkan bagaimana kalau istrinya tahu tentang ini dia akan marah besar padanya membuatnya kebingungan, tidak berpikir panjang dia menekan tombol pada Earbuds dan memanggil Kein dari alat itu. Selang beberapa lama kemudian tidak ada jawaban sama sekali. Dia menoleh ke samping zombi ini terlihat diam saja, Ryan mendekatinya dan memanggil namanya.


"Shinta, apa kamu ingat denganku ? Jangan bilang karena ingat padaku kau membawaku kemari ?" Tanya Ryan. "Grrr.." jawabnya. Sekali lagi Ryan menghela napas, dia melihat kalau tubuhnya yang membusuk seperti kembali seperti sedia kala.


Karena dia telah makan, bagi Ryan juga dia tahu kalau zombi itu bisa menahan lapar begitu lama dan kalau memakan daging dia bisa kenyang. Sedikit saja daging itu apalagi kalau mentah, setelah kembali menjadi manusia Ryan paham bagaimana rasanya. Memakan sayuran dia tidak bisa menahan rasa mual karena baunya dan rasanya.


Menghembuskan napas, dia menarik tangan Shinta lalu mendekati jendela kalau zombi ada sedikit yang berada di sini membuatnya tersenyum. Cukup membawa Shinta saja dia perlu melakukannya, membuka pintu dia menarik tangannya dan membawanya pergi dengan berlari.


Namun, Shinta tidak bisa berlari cepat seperti Ryan membuat lelaki ini terpaksa menggendongnya dan semua zombi yang melihatnya membiarkannya begitu saja. Mengambil kesempatan ini dia mempercepat langkahnya namun, tengkorak berlari ke arahnya dengan cepat bukan hanya satu melainkan beberapa tengkorak.


Ryan berhenti lalu menurunkan Shinta, dia sudah kelaparan dan ingin minum teh hangat bersama gorengan.. kalau bisa..


"Aku sudah gila karena memakan makanan instan mulu, kemari kalian!" Teriaknya. Membawa sebuah pisau dia bersiap menerima serangan, akan tetapi segerombolan zombi datang ke hadapannya dan menghalangi tengkorak menyerangnya.


Tengkorak terlihat terdiam lalu menggeram, mereka terlihat seperti adu mulut dan tidak lama kemudian para zombie mulai menggeram. Seperti bicara membuat Ryan heran dengan apa yang terjadi.