
Mereka sedang melahap roti dengan rakus dengan wajah yang sedih, anak-anak yang kelaparan dan tidak punya orang tua pasti dimanapun ada. Disebuah kota yang ramai ini tidak ada yang ingin menerima mereka, menyadari kalau mereka hanya anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta belas kasihan pada orang lain. Azka tersenyum memaksakan dirinya.
Mengelus rambut adiknya yang tengah menunduk, tak lama kemudian hujan turun dan mereka semua berteduh di bawah kolong jembatan. Dingin yang tidak bisa dihangatkan dengan selembar kain saja, seakan hanya selembar kertas saja sama sekali tidak ada rasa kehangatan sama sekali.
Menghangatkan tubuh bersama seperti penguin mereka berdekat-dekatan, dan terus seperti itu sepanjang waktu belum ada yang berubah.
Hari demi hari mereka lalui dengan mengemis terkadang mereka bisa mendapatkan makanan, terkadang pulang dengan tangan kosong. Azka yang tahu kalau mereka mungkin saja akan mati, sudah kehilangan harapan. Namun, dia mendengar jeritan adiknya dari belakang sontak ia kaget lalu bergegas menuju suara itu.
"Anak kecil.. apa kau mau melawanku hah ?!" Kata seorang pria dengan pakaian seperti preman. Azka berlari ke adiknya dan menggendongnya lalu melarikan diri, preman itu berdecak kesal lalu mengejarnya balik. Azka tahu kalau melawannya percuma saja, daripada ia nantinya babak belur lebih baik lari demi keselamatan adik dan dirinya.
Adiknya meneteskan air matanya dan Azka merasakan sakit pada kedua pundaknya, mendapatkan luka setelah dipukuli beberapa orang sangatlah menyakitkan. Apalagi harus menggendong adik yang sedang menangis seperti ini.
Tiba-tiba langkahnya terhenti setelah menyadari kalau jalan buntu, ia berbalik badan dan melihat preman sebelumnya mendatangi mereka. Dengan jumlah yang cukup banyak.
"Anak kecil itu cukup cantik bukan ?"
"Bodoh kau ya ? Dia baru berumur 9 tahun sepertinya."
"Tidak masalah bagiku!" Ucapnya berlari. Saat Azka ingin melemparkan adiknya, seseorang turun dari atas gedung dan menimpa preman yang hendak menerkam dirinya. Yang pertama dilihat Azka adalah rambut putih platinum dengan pakaian aneh, seperti pakaian tentara yang sering dilihatnya saat melihat tentara lewat.
Tidak lebih dari seorang anak kecil si rambut putih ini mengeluarkan senapan dari pinggangnya, semua preman menatapnya dengan senyum mengejek dan meremehkannya ketika ia membidik mereka. Melihat tatapan itu anak ini tersenyum kaku berkata, "siapkan diri kalian untuk bertemu kematian."
"Apa yang kau katakan, bocah ?! Aku tidak mende--!" Perkataannya terhenti. Suara tembakan beruntun dari senapan itu menembaki tubuhnya hingga berlubang-lubang dan darah bercucuran, mereka melihat kalau anak ini menyeringai jahat tanpa pikir panjang semuanya melarikan diri. Kabur darinya.
Akan tetapi, anak ini menembak mereka sampai semuanya tergeletak di tanah bersama darah yang mengalir di jalanan. Ia berbalik badan melihat Azka yang ketakutan memeluk adiknya, sebaliknya dengannya ia tersenyum lalu menyimpan senapannya kembali ke tempatnya.
Menarik tangan Azka, mereka bertiga berjalan melewati sekumpulan mayat berserakan membuat Azka mual hampir muntah melihat darah-darah serta mayat. Tidak ada yang hidup satupun dari mereka.
"Apa yang adikmu lakukan hingga membuat mereka ingin melakukan sesuatu yang jahat padanya ?"
"A-Aku hanya tidak sengaja menabraknya saja saat sedang bermain," kata adik Azka dengan gugup. Mendengar jawabannya anak ini berhenti lalu mengambil dompet di sakunya, melemparkan dompet itu pada Azka dan Azka menangkapnya dengan kedua tangannya.
Saat ia melihat kalau benda yang ditangkapnya itu dompet agak membuatnya kaget, saat mengangkat wajahnya ia tidak melihat orang yang menyelamatkannya. Di dompet ini terdapat tulisan kalau Azka bisa mengambil semua uang yang ada di dalamnya, dan tidak perlu menggantinya.
Membuka dompet yang ada di tangannya ia kaget tidak main melihat sekumpulan uang ini, dengan senyum serta air mata menetes dia menggendong adiknya dan memeluk dompet itu dengan erat kembali menuju tempat teman-temannya berada.
Beberapa menit setelahnya mereka melihat Azka yang kembali bersama adiknya, hendak Ingin bertanya keadaan adiknya Azka menitipkan adiknya pada temannya.
"Apa yang--!"
"Anak itu mau kemana sih ?" temannya melihat Azka yang mulai menjauh tidak terlihat dipandangnya.
Setelah beberapa menit berlalu sosoknya mulai terlihat kembali dengan kantung belanjaan di tangannya, serentak semua teman-temannya kaget dengan apa yang dibawa olehnya.
***
"Mungkin ketua tidak ingat.. tapi, aku pernah ditolong olehmu!"
"Sekarang bukan saatnya untuk membicarakan hal itu."
"Tidak,... Sekarang giliran kami untuk menolong Adly dan membalas budi."
"Ah, kau hanya diberi beberapa juta saja untuk biaya hidup mengapa sampai membalas dengan ini ?!"
"Karena aku ingin agar ketua bisa.. membantu banyak orang lagi, tidak seperti kami yang tidak bisa membantu orang lain.."
"Kau salah! Sekarang, menyingkirklah dari sana! Cepat! Ini perintah!" Teriak Adly mencoba melepaskan tangannya. Tapi, baginya sekarang kristal yang memborgol kedua tangannya sangat sulit untuk dihancurkan dan melihat kalau mahkluk itu semakin dekat ia hanya bisa menatap semua orang termakan. Terbunuh dan tercabik-cabik hanya untuk melindungi satu orang yaitu dirinya seorang.
Dikurung dalam kurungan kristal Azka masih memegang pedangnya erat dengan tangan kirinya, tangan kanan telah terpotong akibat gigitan mahkluk sebelumnya. Semua orang yang ada di sini tidak mempedulikan nyawa mereka sekalipun, asalkan tujuan mereka bisa tercapai dan Adly bisa tetap hidup.
Iris matanya berubah berubah warna melihat pemandangan ini, seketika jauh di beberapa ratus meter jam tangan Widya menunjukan peringatan tentang kendali frame suaminya. Sontak ia kaget dan tidak konsentrasi, ia terkena pukulan langsung terpental jauh menabrak pembatas pohon dan kepalanya atau lebih tepatnya keningnya mengeluarkan darah.
Bangkit dari tempat duduknya ia melihat pohon sampai runtuh karena dirinya, dan hanya sedikit luka yang diterima olehnya.
"Mungkin aku sudah menjadi monster."
"Bagaimana dengan keadaan Adly ?"
"Tidak ada kabar! Kami takut terjadi sesuatu, apa sebaiknya kita pergi ke tempatnya saja ?!"
"Ya aku juga cemas! Tapi, kita tidak bisa mengabaikan zombi ini apalagi dengan kekuatannya yang luar biasa kuat ini!" Kata Widya mulai kesal. Zombi jauh di depannya mengambil batu lalu melemparkannya, mereka berdua menghindari baru tersebut lalu menembaki zombi dengan senapan seadanya.
Selama ini tidak ada zombi yang punya kulit setebal, dan kekuatan sekuat zombi yang menjadi musuhnya saat ini. Mahkluk ini jelas sangat berbeda dengan yang lainnya, bahkan memiliki kepintaran dan bisa menghindari beberapa serangan sederhana. Jatuhnya tiga orang yang sangat berpengaruh ternyata bisa menimbulkan keributan sebesar ini.
Apalagi kalau tidak ada mereka berempat pasti dunia ini sudah lama dalam keadaan hancur, sedikit membuatnya paham Widya harus bisa mengulur waktu sampai Fauzan bisa datang dengan dokumen yang dimaksud dan kembali ke kota.
Tempat seperti ini sangatlah berbahaya, apalagi dengan zombi yang mulai berevolusi dan berbagai macam bentuknya. Mereka sangat berbeda dengan informasi yang ada dalam data, dan kemungkinan terbesar adalah musuh mereka sedang mengincar Adly, serta Widya tahu akan hal itu walaupun ia tidak bisa melindungi suaminya sanpai saat ini.