
Adly terdiam dia menetap sebuah mayat yang sedang tergeletak di hadapannya, dengan sebuah kain yang menutupi wajahnya. Lelaki itu hancur, dia berusaha untuk melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Namun, tangannya bergetar hebat dan keringat dinginnya mulai bercucuran.
Matanya terbuka lebar dan tidak bisa mengatur napasnya, seperti sesak kehabisan napas dia mencoba mencari napas setiap menghirup udara dia terasa seperti terbakar. Cukup sangat parah, dia duduk di lantai sembari memperhatikan tangannya.
Penuh darah.. tetes demi tetes, dia hanya menatap kedua tangannya yang merah. Kembali mengangkat wajahnya, dia melihat sebuah cincin melingkar pada jari seorang gadis.
"Maaf.. aku membiarkanmu mati, Widya!" Dia memukul lantai. Perasaannya campur aduk, sesaat melihat ke pintu ada Alia yang terdiam dan dia memasuki ruangan menarik ayahnya keluar dari kamar jenazah. Semuanya terdiam, tidak ada yang bisa bicara hanya membisu.
Hendak ingin melangkah tiba-tiba ada suara sirene yang terdengar keras, lampu-lampu mulai meledak membuat semua orang panik. Lelaki itu menyiapkan senjata, hanya saja dia tidak bisa mencegahnya merebut siapapun.
Seseorang direbut kembali, Alia yang harusnya ada di depannya menghilang.. dia terdiam cukup lama. Semuanya adalah salahnya, jika saja dia tidak mematikan ponsel dan tidak terlalu sibuk bersama teman-temannya bermain game, maka kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Saat sedang menyalahkan dirinya sendiri sebuah suara memanggilnya, "Adly!.. Adly!! Adlyy!!"
"Hah ?!" Dia terbangun dari tidurnya, matanya terbuka lebar melihat seorang gadis di depannya seorang remaja gadis cantik duduk di kursi roda dengan tinggi rata-rata dan tubuh langsing. Ia memiliki rambut hitam panjang tumpah dari atas bahu sampai pinggangnya. Bando seperti kelopak bunga menghiasi rambutnya, dengan anting putih dan sepasang mata merah muda menatapnya cemas.
Tanpa berkata apapun Adly hanya memegang tangannya dan menyimpannya di depan wajah, dia begitu senang tidak bisa mengatakan apapun. Sembari menangis terisak-isak, dia tetap duduk di kursi itu sembari menangisi kebodohannya.
Widya menghela napas, dia memegangi perutnya yang masih terisi. Dia begitu lega.. setelah mendapatkan operasi anak mereka bisa selamat, hanya saja mungkin ayahnya tidak akan setuju.
Widya melepaskan tangan dari genggaman tangan suaminya, "sudahlah.. kamu itu lelaki, bukan ? Kenapa nangis gitu ?"
"Ini sisi lemahku, apa kamu keberatan ? Aku ini emosional."
"Begitu ? Baguslah, sekarang bisakah kamu menghentikan air matamu ?" Tanya Widya dengan senyum. Adly mengangguk pelan, dia menyeka air matanya dan menunduk dia menjadikan pangkuan Widya sebagai bantal. Matanya menatap ke perut istrinya.
Memikirkan kalau anak itu harusnya diberi nama dan kalaupun hanya darah saja, dia ingin menguburkannya jika keadaan sudah aman. Mereka tidak bisa keluar dari tempat ini kalau Rani masih mengejar, hanya saja tidak ada yang bisa menjamin juga mereka takkan menemukan tempat ini.
Zaky kemudian datang, dia melihat pasangan suami-istri sedang saling menghilangkan kerinduan satu sama lain. Dia tidak tega untuk membuat mereka berjauhan lagi, tapi karena ini keadaan yang mendesak dia mendekati Adly dan memberikan sebuah kertas padanya.
Lelaki itu mengambilnya membacanya kalau Zaky memintanya untuk bertarung lagi, kini Ryan dalam keadaan berbahaya.
Adly bertanya, "apa dia tidak bisa menggunakan teleporter ?"
"Tampaknya tidak akan bisa, musuh akan tahu keberadaan kita dan kita tidak bisa mengeluarkan banyak orang sekaligus.. pilihan yang harus kita lakukan hanyalah mengeluarkan satu orang saja, orang itu harus bisa mengatasi banyak pasukan sekaligus. Apa kamu mengerti ?"
Melihat peta ada sebuah peta melayang di depannya, seperti kaca yang menggambar peta ada banyak pasukan yang datang. Keluar dari bangunan, dia melesat menjauh dari tempat persembunyiannya.
Seseorang melihatnya dan langsung mengejarnya bersama pasukan yang lainnya...
"Nah datanglah! Akan ku bunuh kalian!" Teriaknya. Mengeluarkan sebuah pedang, dia menebas udara dan bilah pedang keluar dari udara melesat ke arah mereka semua. Bukan seorang manusia, melainkan robot yang mengejarnya membuatnya bisa menghancurkan mereka tanpa merasa bersalah.
Frame satu dibuka, dengan sebuah suara dari Earbuds yang terpasang di daun telinganya. Suara perempuan robot keluar... Frame pertama terbuka menghasilkan kekuatan, kecepatan, dan penglihatan Adly naik drastis.
Dia menatap robot yang berdatangan padanya, jumlahnya tidak bisa dihitung dan banyak sekali mungkin saja ada ratusan yang datang. Lelaki itu sama sekali tidak takut, menghentakkan kakinya ke tanah. Tanah disekitarnya hancur retak.
Seketika dia melesat menerbangkan debu dan batu-batu kecil, salah satu robot dipukul hingga hancur dikedua tangan sudah terpasang Keling atau sebuah senjata yang melingkari keempat buku jari terdepan dari tangan, senjata yang digunakan untuk pertarungan jarak dekat mengutamakan tinju. Juga disebut sebagai knuckle.
Dia menatap semua robot yang mulai mengeluarkan senjata, mereka kebanyakan mengeluarkan senjata jarak dekat seperti pedang dan pisau. Hanya saja, Adly tidak boleh lengah karena bisa saja diantara mereka ada yang memakai senjata jarak jauh.
Dua robot datang padanya, dia memukul dagu robot dan mengambil kepalanya membantingnya ke robot yang satunya. Sesudah keduanya tumbang, satu datang membawa gergaji mesin dengan sigap Adly menghindarinya dan memukul tangan robot hingga gergaji mesin itu jatuh ke tanah.
Segera memukul dadanya hingga hancur, ada banyak yang datang lagi membuatnya menghela napas. Dikelilingi oleh 8 robot, dia menghentakkan kakinya dan tangan kirinya mengeluarkan petir hendak memukul salah satu robot. Robot yang lain memegangi tangannya, dia segera menyingkirkan tangannya dan memukul dua robot sekaligus.
Melakukan tendangan berputar dia menghancurkan tiga robot dan menembak sisanya dengan pistol. melihat ada banyak yang datang. Dia menghela napas, menekan tombol pada Earbuds miliknya.
"Ai ... Buka frame tiga."
"Baik.. setela--"
"Lakukan sekarang.. keadaan terdesak mematikan semua pengaman!" Adly berteriak. Dia berkeringat melihat banyak musuh yang berdatangan, tidak bisa dianggap remeh dan sama sekali tidak bisa terbayangkan Zaky meminta dirinya untuk melawan musuh sebanyak ini.
Melihat satu yang besar dia tersenyum jahat dan sesudah frame tiga dibuka, keluar cahaya depan keningnya dan membentuk sebuah mahkota merah. Begitu juga yang lainnya, muncul baju besi berkilau seperti pada kesatria abad pertengahan. Merasa gerah dia melepaskan pelindung dada dan kedua pelindung bahu. Meninggalkan pelindung lutut, tangan, dan anggota tubuh lainnya.
Menarik pedang dari sarungnya. Pedang itu terpasang di pinggangnya, dengan permata merah yang berkilau di tengah bilah pedang. Dia menatapnya dengan sepasang mata yang bersinar merah terang.
Puluhan datang padanya, dia menebas leher dua sekaligus dan menendang salah satu sehingga menabrakkan dirinya ke yang lain. Mengambil leher robot dan menjadikannya sebagai pemukul, dia memukul beberapa dengan itu. Namun, tiba-tiba ada banyak robot yang mengeluarkan gatling dari tangan mereka.
Dia melompat ke atas dan pedang itu berubah jadi busur, anak panah juga sama. Sarung pedang itu berubah menjadi wadah dan anak panah juga sudah ada di dalamnya, Adly membidik musuh dan mulai menembak.