Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 97 : Ezra FrameEmpat Vs Zombi Raksasa


Ayah Ryan sedari tadi menolak dan karena anaknya kesal dia melakban mulutnya hingga tidak bisa bicara, setelah membungkam ayahnya dia memperhatikan rencana yang ditampilkan oleh Zaky pada video. Namun dia sulit percaya kalau ayahnya adalah kunci agar para zombi bisa jadi normal kembali, itu cukup menjadi beban untuknya jujur saja sangat menjengkelkan bagi Ryan sendiri.


Tetapi karena harus menerimanya dia setuju untuk mencari dua adik dari ayahnya ini, walau beda ibu tetap saja mereka tetap ada saudara. Menghela napas Ryan menatap ayahnya sinis, dia tidak berpikir kalau anaknya akan menderita atau apa malah terus bersenang-senang membuatnya begitu marah pada ayahnya sendiri.


"Aku akan mencarinya.. maaf Zaky, apa bisa aku minta alamatnya ?" Tanya Ryan sambil mendekatinya. Zaky mengangguk, dia mengetik alamat pada keyboardnya dan mengirimkan alamat tersebut pada ponselnya. Melihat tempat tinggal adiknya dia menyadari kalau tempat ini adalah sebuah tempat orang-orang miskin berada, membuatnya begitu kesal.


Menatap ayahnya dengan sinis kembali dia tahu mengapa adiknya bisa tinggal di sini, sebelas duabelas sama seperti dirinya yang dicampakkan dan diurus pemerintah. Hanya saja nampaknya anak ini tidak ada yang mengajukan surat tidak mampu ke pemerintah, dan tidak mendapatkan biaya hidup sama sekali sepeserpun tidak.


Datang pada ayahnya dia menatapnya dengan mata terbuka lebar, tidak lama kemudian tangannya mengeluarkan listrik dan menyetrum ayahnya pada tangan. Serentak ayahnya meronta-ronta kesakitan, setelahnya dia pingsan tidak sadarkan diri sesudah menerima sengatan listrik dari anaknya sendiri.


Zaky dan Fauzan tersenyum masam melihat ini, mereka memikirkan hal yang sama yaitu orang ini sangat teramat kesal pada ayahnya tetapi dia tidak bisa membunuhnya karena masih berguna. Walaupun menyakitkan rasanya.


Ryan membuka pintu, "aku akan membawanya dan bagaimana dengan adikku yang satu lagi ?"


"Jangan cemas, kami akan mengurusnya.."


"Lalu Alia.."


"Jangan dulu, apa kamu lupa keadaan Adly saat ini ?" Tanya Fauzan dengan wajah serius. Ryan pertama kali melihat raut wajah Fauzan yang kelihatan serius bersamaan dengan cemas, selama ini dia belum pernah melihat raut wajah yang seperti itu terapi sekarang dia tahu kalau Adly bukan sekadar teman bagi mereka bertiga melainkan sudah seperti saudara.


Meninggalkan ruangan dengan senyum kecil dia mengucapkan salam lalu pergi keluar mencari tujuannya, di dalam ruangan mereka berdua menatap ayahnya Ryan. Melihat orang yang pingsan setelah menerima serangan Ryan, Zaky sedikit takut kalau ayahnya akan ikutan koma seperti Rani nantinya.


Fauzan terdiam memikirkan bagaimana reaksi Adly saat tahu kalau orang tua kandung Alia masih hidup, mereka mengira bahwa Alia bersama keluarganya kedatangan zombi dan mengubah mereka menjadi zombi ternyata salah. Sekarang Fauzan tahu kalau dalam keadaan seperti ini Adly akan ketakutan takkan bisa melindungi Alia karena kehilangan kekuatan Elentry miliknya.


Apalagi kalau Alia ingin kembali pada orang tua kandungnya pasti mereka berdua akan merasa kehilangan, dan Fidya kehilangan kakaknya. Menghembuskan napas Fauzan mengambil sekop entah dari mana lalu memukul kepalanya sontak membuat Zaky kaget darimana dia mendapatkannya.


Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk dan Zaky menerimanya lewat Earbuds miliknya, yang memanggil adalah Ezra dengan nada suara panik serta lelah. Dia melaporkan situasinya kalau menangkap mereka para zombie perlu usaha berat, dan mereka kehilangan 3 robot naga karena zombi raksasa yang tiba-tiba muncul.


"Apa kamu bisa mengatasinya ?" Tanya Zaky.


"Tidak, kami butuh bantuan... Kirimkan pasukan DyntalGear satu unit saja!"


"Ah, jangan lama-lama yah... Soalnya aku sudah sangat kecapekan tau!" Kata Ezra sembari tersenyum. Dia mengambil pistolnya dan membidik kepalanya yang besar, tetapi seperti melemparkan batu krikil dia sama sekali tidak bergeming sedikitpun membuat Ezra kesal.


Menghembuskan napas dia segera berlari menuju zombi raksasa, dia membawa sebuah kereta dijadikan sebagai pemukul dan cukup tidak bagus bagi Ezra karena lawannya itu cepat. Tidak seperti zombi raksasa lainnya, dia memiliki tubuh besar tetapi cepat tidak seperti yang lainnya.


Memerintahkan semua pasukannya untuk mundur dia akan menggunakan serangan area, ini akan membakar area disekitarnya dan sangat panas hingga bisa membakar apapun yang ada disekitarnya. Setelah mendapatkan frame baru dia berhasil membuka frame keempat ketika sedang berlatih.


Awalnya dia tahu kalau kekuatannya takkan bisa berkembang lagi, tetapi entah karena apa kekuatannya meningkat dan membuatnya bisa membuka frame keempat. Yang bisa menguasai api biru membuatnya senang karena api biru bisa dikeluarkan olehnya hanya beberapa menit saja sebelumnya, sekarang dia bisa mengeluarkannya sesuka hati untuk melawan musuh-musuh.


Ezra menyeringai, "bersiap-siaplah untuk mati!!'


Dia mengaktifkan frame empat lewat Earbuds tetapi seperti biasanya suara robot perempuan terus terdengar meminta persetujuan untuk menonaktifkan pengaman dan sebagainya, menghembuskan napasnya Ezra melakukannya. Tidak lama setelah beberapa menit akhirnya Framenya terbuka.


Kini bajunya berubah menjadi biru, memakai jaket hitam dan bulu ada pada kerah jaketnya.


"Wahh.. ini ternyata bagaimana rasanya kalau punya baju tempur!' ucapnya senang. Melupakan kesenangannya, dia menghindari pukulan dari zombi raksasa dengan melompat ke bawah menghantam tanah menyebarkan api membakar pada kakinya. Api biru itu terus membakar kakinya.


Namun, tidak disangka kalau dia bisa meregenerasi tubuhnya hingga kakinya normal sembuh kembali seperti semula. Berdecak kesal Ezra segera meninju wajahnya hingga dia terjatuh ke belakang, berpindah dengan cepat ke lehernya dia menendangnya dengan kaki dikelilingi api biru. Leher zombi dipenuhi api membuat zombi memukul dengan membabi buta.


Menghindari serangannya Ezra melompat jauh ke samping mendarat ke atas salah satu mobil, napasnya memburu.. walaupun ia telah menguasai frame empat sepenuhnya tetap saja dia tetap kelelahan karena dua serangan saja bisa menguras seperempat energinya.


Melihat zombi yang sedang bangun membuatnya kaget karena lehernya sama sekali tidak terluka sedikitpun, karena sembuh lagi buatnya kesal. Tidak lama keluar sebuah pesan dari salah satu prajuritnya, dia membuka pesan tersebut dari jam tangannya kalau kelemahannya ada pada dada kanannya.


"Sebentar.. jantung harusnya ada pada dada kiri, kan ?" Tanya Ezra pada dirinya sendiri. Menghembuskan napas, dia tidak peduli soal dimana letak jantungnya asalkan zombi raksasa ini bisa dikalahkan olehnya dia tidak peduli soal kelemahannya di mana. Hendak berlari ingin mencapai dan menghajarnya lagi zombi ini memukul dan menyerang sekitarnya dengan membabi buta tidak peduli apapun lagi.


Ezra tidak bisa mendekatinya kalau begini, tetapi dia perlu mendekatinya agar bisa mengalahkannya. Saat melihat zombi ini mulai mendekatinya dan menghancurkan gedung-gedung di sekitarnya, Ezra mulai kebingungan harus melakukan apa.. tetapi ada kawat dari grappling hook mengikat tangannya menghentikan gerakan tangannya.


Tidak lama kemudian para pasukannya kembali, mereka mengikat tubuhnya dengan kawat tali grappling hook menghentikan semua pergerakannya. Sana sekali tidak bisa bergerak, bahkan menggerakkan jari dan menoleh saja dia tidak bisa. Merasa lega kalau sekarang dia bisa mengalahkannya kalau begini, tetapi dia akan merasa bersalah karena meminta kepada Zaky untuk mengirimkan bantuan padanya. Lagi.