
Kedatangan seorang fisikawan organisasi terlihat sangat tidak terima karena ada kejadian yang tidak enak pada dua tahun yang lalu, hanya saja orang itu sangat dibutuhkan oleh mereka mau tidak mau harus menerima kedatangannya. Rani menyambut dirinya dengan baik, tanpa perkataan apapun dan tetap tersenyum.
Orang-orang akan menyebutnya sebagai malaikat maut pada akhirnya, sekarang ada banyak sekali orang yang mulai jengkel. Seseorang datang alias Adly mendatangi mereka, dia melepaskan fisikawan itu dari Rani dan memperhatikan robot tiruan Zaky yang sangat sempurna.
Sangat mirip sekali dengannya, hanya saja ada sesuatu yang aneh. Dia mengambil tangannya ada sebuah gatling gun dan ada misil yang terpasang pada bahu, dada, serta kakinya. Melihat ke belakangnya juga ada sebuah jet, Adly menatapnya sinis.
"Mereka sudah mulai bergerak ternyata," Ucapnya dalam hati. Tidak ingin ikut campur dia menyerahkannya pada Rani saja, bersama Zaky mereka berdua menghadapi fisikawan yang menjadi wakil dari perusahan robotika. Seperti namanya ilmu tentang mesin robot, mereka membuat berbagai macam teknologi bukan hanya robot saja bahkan senjata.
Apa yang ingin mereka bicarakan adalah sesuatu yang sangat dirahasiakan, makanya mereka pindah dan Zaky menghela napas, dia tahu kalau mungkin Rani akan membuat masalah untuknya. Lelaki itu cukup senang karena pemikirannya masih memiliki hati, tidak seperti atasan yang sebelumnya karena memperkerjakan semua orang tanpa hati nurani. Entah dia punya hati atau tidak.
Zaky duduk dan bertanya, "lalu bagaimana ? Apa kalian menyanggupi permintaan kami ?"
"Tidak, kami tidak bisa membuat robot biasa yang memiliki hati.. seperti manusia, mereka bisa mempelajari tentang manusia hanya saja tidak akan memiliki hati."
"Kurang lebih aku paham, hanya saja apa mereka takkan menyerang kami jika kalau terjadi sesuatu ?" Tanya Rani. Orang yang ada di hadapan mereka tersenyum, sudah jelas kalau pikirannya sedang memikirkan hal-hal yang jahat nampaknya.
Rani tersenyum, "berikan semua hak kepemilikan perusahaan kalian."
"Hah ?"
"Kota taruhan, bagaimana ?"
"Baiklah, aku dengarkan dulu."
"Kita akan melakukan pertandingan, siapa yang memiliki prajurit terkuat akan mendapatkan hak kepemilikan. Dan semua anggotanya."
"Rani, apa kau serius ?" Tanya Zaky dengan wajah cemas. Sebaliknya dengan Rani, dia nampak percaya diri dan fisikawan di hadapannya tahu kalau orang-orang yang ada di tempat ini tidak bisa diremehkan. Bahkan dengan robot mereka yang sangat kuat juga mungkin akan kalah, jadi dia takkan gegabah dan bertanya dulu pada beberapa pihak.
Dia mengambil ponselnya melihat jam kalau waktu masih banyak dan sore hari juga masih panjang. Rani menunjuk pintu, "urusan dan pembicaraan kita sudah selesai, kamu tidak pergi dan membicarakan hal ini pada atasanmu ?"
"Baiklah aku pergi dan nona Rani begitu menyeramkan, sungguh.. aku agak takut, loh!" Jawabnya sambil keluar. Gadis itu setelah tahu kalau dia keluar langsung melipat kedua tangannya dan menyeringai jahat, Zaky tahu kalau gadis ini begitu menakutkan.
Merasakan tatapan yang menginginkan sesuatu darinya Zaky berkeringat dan melirik Rani yang sedang menatapnya. Dia tahu kalau gadis ini menginginkan sesuatu darinya, Zaky menghirup udara dan mencoba menebak apa yang diinginkan olehnya.
Zaky bertanya, "kamu mau apa ?"
"Kamu sama Adly lawan mereka. Buka frame kalian."
"Level ancaman kami tinggi... Tidak usah memakai frame segala, membukanya itu agak menyakitkan tahu."
"Kamu boleh meminta apapun dariku, loh."
"Ke hotel denganku."
"Boleh kok."
"Huh seriusan ?!"
"Tapi, aku bawa palu, gergaji, pedang, gada, dan rantai ya!" Rani tersenyum. Zaky memalingkan matanya, dia tahu kalau gadis ini manis diluar dan pedas di dalam. Bahkan gorengan pisang sekalipun luar dan dalam manis, sekarang begini jadinya.
Zaky bertanya, "apa kita boleh menggunakan frame level satu saja ?"
"Frame satu ya ? Hmm.. kalian harus menang, aku tidak mau tahu."
"Kamu ini terlalu memaksa, tapi mau bagaimana lagi. Akan aku lakukan!" Ujar Zaky dengan penuh semangat. Dia tahu kalau mungkin saja mereka bisa menang tanpa frame, tapi kalau keadaan mulai mendesak dia bersama Adly akan melakukannya.
Rani dan Zaky keluar dari ruang rapat. Mereka tahu kalau teknologi mereka semua itu tidaklah terlalu canggih, malah mungkin lebih ke kurang zaman. Namun, tidak sembarang orang bisa menggunakannya memerlukan latihan khusus dari anak-anak hingga remaja.
Zaky menatap Rani yang tidak mengikuti latihan tapi bisa memiliki kekuatan Elentry dalam tubuhnya, lantas karena ingin tahu dan penasaran. dia bertanya, "kenapa kau bisa mengendalikan Elentry dengan sempurna ?"
"Apa maksudmu ?"
"Maksudku, bukannya itu memerlukan latihan khusus ?"
"Umm.. ayah saat kecil memintaku untuk olahraga bersamanya, seperti melakukan senam yang aneh."
"Bagaimana gerakan senamnya ?"
"Gerakan itu sangat sulit, tidak bisa digambarkan dengan kata-kata."
"Kalau begitu praktekkan," kata Zaky sambil tersenyum. Dia sedikit memohon, kemudian dengan helaan napas Rani melakukannya dan saat Zaky melihatnya gerakan ini memang sama. Namun, dia cukup hebat bisa melakukannya karena kalau orang biasa melakukannya akan membuat tulang patah.
Makanya mereka melatih tubuh dari anak-anak agar terbiasa saat dewasa, jujur saja Zaky tidak terlalu memusingkannya. Sekarang.. yang perlu dia pikirkan hanyalah soal pertandingan bodoh yang dijanjikan oleh atasannya tadi, dia tidak bicara dulu pada Zaky dan Adly mau merencanakan apa.
Zaky tersenyum kecil dan memikirkan bagaimana nantinya Adly akan menolak, atau mungkin akan menerimanya. Tapi ya, itu tidak selancar keinginan Rani.
***
"Tidak! Aku menolak mentah-mentah!"
"Kenapa ?"
"Robot itu tidak memiliki darah, cara bertarungku dengan mencium bau darah agar bisa mengetahui musuh berada di mana."
"Jadi selama ini kamu menggunakan cara itu ? Kayak hiu aja."
"Mitosnya hiu bisa cium darah yang tercampur ke lautan walau setetes katanya."
"Kenapa malah ngomongin hiu ?! Yang bener!" Zaky memukul meja. Mendengarkan mereka berdua begitu membuatnya heran, dia menggigit jarinya sambil tidak bisa berpikir apapun lagi. Robot itu bukanlah tandingan mereka jika hanya mengandalkan kekuatan mereka saat ini, menang frame satu atau dua dibutuhkan.
Menghembuskan napas dia setuju untuk memakai frame, sedangkan Adly ikut saja karena dia tidak bisa menolak perintah. Jikalau kalah sekalipun ada Zaky yang bisa diandalkan, saat ini yang terkuat diantara mereka berdua adalah Zaky sendiri.
Adly sekarang tidak keberatan walaupun dia akan kesusahan karena musuhnya tidak memiliki nyawa atau cairan apapun selain minyak di dalamnya, Adly tentu saja enggan mencium bau minyak. Tapi, mau bagaimana lagi dia perlu membiasakan dirinya dengan cairan seperti itu.
Dulu sebelum dia sering membunuh. Orang itu mengajarkan Adly untuk terbiasa dengan mayat, darah, dan sebagainya. Hal-hal kejam dan tidak manusiawi diajarkan padanya, jujur saja itu membuatnya bermimpi buruk setiap waktu dan sampai saat ini dia masih belum terlalu terbiasa. Yah, setiap orang akan menolak jika membunuh tanpa alasan juga.