
Viera terengah-engah merasakan sakit pada kedua tangannya setelah di siksa oleh Zaky karena ingin mendapatkan informasi soal Adly darinya, namun Viera sama sekali tidak buka mulut. Dia menahan semua rasa sakit yang diberikan mereka padanya, melihat kegigihannya Ezra tahu kalau dia takkan mengatakan apapun. Apapun ancamannya.
Dia menoleh ke sampingnya terlihat jelas Zaky mulai kesal sembari mengigit jarinya, merasakan hawa yang tidak enak Ezra memanggil Rani untuk membawanya pergi lewat telepon. Mendengar kalau temannya membawa kekasihnya kemari, sontak Zaky kaget dan membentaknya.
"Tenangkan dirimu dan kencanlah dengannya sana!" Ujar Ezra sembari memukul pundak temannya. Tak lama kemudian Rani sampai, karena ruangannya dekat maka ia datang dengan cepat. Dia menarik tangan Zaky membawanya keluar dari ruangan interogasi. Kini, Ezra hanya berdua dengan Viera yang terlihat sedang menahan sakit.
Dia telah yakin kalau gadis ini harusnya dimakan Dragrise saat itu, tapi entah mengapa sampai sekarang ia masih hidup. Dia berpikir kalau mungkin saja menggunakan halusinasi untuk mengelabuinya, namun Ezra tidak yakin kalau ia bisa terkena.
"Ah, kurasa itu tidak penting... Sekarang dimana Adly ? Aku tanya sekali lagi, dimana dia ?" Tanya Ezra sambil memasuki ruangan membawa belati.
***
Di luar gedung mereka berdua memesan taksi online, keduanya menunggu sambil bicara walaupun Zaky terlihat tidak terlalu menikmatinya. Taksi kemudian berhenti di depan keduanya, Rani membuka pintu dan masuk diikuti Zaky bersamanya. Supir langsung jalan setelah mereka berdua masuk.
Rani menyender ke bahu lelakinya, dengan perasaan kesal ia mencoba melupakannya dengan memeluk lelaki di sampingnya. Zaky yang keheranan dengan sikap Rani mencoba mengikuti arus, mereka berpelukan dalam mobil membuat supir terlihat bingung dengan apa yang dilakukan oleh keduanya.
"Hei Rani, apa yang kau lihat saat koma ?" Tanya Zaky angkat bicara. Rani mengangkat wajahnya menatap wajah laki-laki yang bertanya, ia kembali menunduk dan beralih duduk di pangkuannya kemudian menceritakan semuanya.
Karena perasaan suka telah berubah menjadi obsesi, entah mengapa dalam mimpinya selama lima tahun ia telah melihat apa yang terjadi jika mereka menikah. Namun, Ryan yang ada di dunia mimpinya tidak pernah tersenyum ketika itu terjadi walaupun memiliki segalanya termasuk diri Rani sepenuhnya.
Ilusi yang ditanamkan begitu kuat dan tidak bisa dilepaskan dengan mudah, begitu pikir Rani ketika memikirkannya. Berbeda dengan Zaky, Zaky tahu bagaimana cara kerja ilusi yang digunakan atau dipakai Ryan ataupun Adly. Kurang lebih mereka menggunakan teknik yang mirip, namun Ryan melakukannya dengan jangka waktu yang lama.
"Hanya Zaky yang bisa tersenyum menghadapiku di dunia itu."
"Aku ?"
"Ya,.. rasanya seperti hanya kau yang ingin bersamaku maka dari itu.."
"Kau memintaku untuk menjadi kekasihmu."
"Begini-begini aku masih berkualitas, jadi jangan abaikan aku.. aku masih perawan."
"Kurasa kesucian seorang gadis cukup penting dalam hubungan," ujarnya menjawab. Keduanya tertawa kecil bersamaan mobil berhenti, mereka sudah sampai di tempat tujuan dan turun dari mobil mendapati taman yang luas. Zaky berbalik memberikan ongkos pada supir, mobil itu pun menjauh pergi setelah diberi uang.
Ia berbalik badan, sontak kaget melihat wajah Rani dengan wajahnya hanya berjarak beberapa inci saja membuatnya salah tingkah. Dan memberi kecupan padanya.
"Eh ?! Apa yang kau lakukan ?!" Rani memerah, ia mundur beberapa langkah.
"H-Harusnya aku yang tanya!"
"Menjijikan! Dasar otak basah, harusnya kau mati saja!"
"Salahmu menggodaku dalam mobil!"
"Diam kau bocah SD!"
"Hah ?! Apa ?!" Rani mencengkram kerah baju Zaky, begitu juga Zaky melakukan hal yang sama ditonton oleh banyak orang di sekitar mereka. Keduanya seperti pasangan yang tidak akur, tak lama setelahnya Rani mendorongnya menjauh dan pergi sambil memerah malu. Meninggalkan pacarnya sendirian di tepi jalan.
Suara DyntalGear terdengar, Zaky menoleh ke belakang kalau ada tiga unit yang sedang berpatroli mereka memberi hormat sambil melewati Zaky namun Zaky menghentikan satu dari mereka. Ia naik ke atas dan mengetuk-ngetuk kokpit, pilot di dalamnya bertanya ada apa. Seperti biasa.
"Tembak Rani."
"... Ehh.. bisa diulang, ketua ?"
"Tembak Rani, sekarang!" Bentaknya. Pilot dalam robot raksasa melakukannya, ia menggunakan senapan serbu kaliber besar mulai menarik pelatuk menembakan banyak peluru sekaligus. Gadis itu mendengar suara tembakan, ia menoleh ke belakang dan segera berjongkok.
Merasa sudah cukup lelaki itu mengetuk kokpit lagi memintanya untuk segera bergabung dengan rekannya, Zaky turun dan kembali ke tempat gadisnya. Dengan heran DyntalGear berjalan kembali melangkahkan kaki besarnya di jalanan, suara besi dan mesin terdengar keras di dengar semua orang menandakan waktunya untuk masuk ke dalam rumah.
Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk masuk ke dalam rumah kalau robot sudah melewati rumah mereka, karena bisa saja mereka sedang menuju tempatnya para zombi. Dan warga tahu kalau zombi manusia sekarang sudah banyak yang hancur membusuk, tapi tetap saja tidak bisa tenang.
Zaky juga memikirkan hal yang sama sembari berjalan mendekati Rani, ia berdiri di depan gadis yang tengah berjongkok menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Aku mungkin lebih suka gadis yander--!"
"Diam!" Teriaknya sambil memukul perut Zaky. Zaky terlempar jauh beberapa meter, ia muntah darah setelah menerima pukulan yang cukup serius dari kekasihnya sendiri. Dia menghembuskan napas, lalu keluar portal hitam di belakangnya dan masuk ke dalamnya.
Rani bersiap siaga, ia menoleh ke belakang tapi tidak menemukan keberadaannya sama sekali.
"Aku di atas!" Suara datang dari atas. Tapi, terlambat bagi Rani untuk menghindar dan menerima tendangan keras dari atas mengenai kepalanya. Tidak terima dengan apa yang dilakukannya Rani menangkap kaki lawannya, ia membantingnya ke tanah dan menembakkan bola petir seperti bola energi ke kepalanya.
Zaky menggunakan lubang hitam menelan serangannya, gadis itu pun melompat ke belakang takut lubang hitam itu akan menelan dirinya. Lelaki yang di bantingnya berdiri, mereka berdua menarik senjata dan tanpa mengatakan apapun bertengkar dengan menggunakan kekuatan Elentry tanpa segan-segan menahan diripun tidak.
Salah satu warga merekamnya dan meminta bantuan kepada siapapun yang ada di Belati Putih, karena banyak pepohonan yang sudah hancur karena mereka berdua.
"Hahh.. Viera itu tidak mengatakan apapun!" Keluh Ezra sambil membuka kaleng minuman. Ia menyender ke sofa, dengan perasaan kesal dia tetap bertahan untuk tidak melakukan hal ceroboh lagi dan tidak melakukan hal yang sama seperti di masa lalu.
Hendak ingin meneguk minumannya seorang anggota datang, dia adalah tim pengintai yang sedang berpatroli sebelumnya. Melihat remaja itu sedang datang padanya Ezra menatapnya.
"Maaf mengganggu.., ada yang bertengkar lalu warga setempat meminta pertolongan."
"Kalian urus saja.. palingan cuma anggota baru."
"Tidak,.. kami ingin mengurus ini akan tetapi yang sedang berkelahi itu ketua Zaky dan wakil ketua Rani, mereka berdua bertarung tanpa menahan diri seperti ingin saling membunuh. Anda bisa melihat rekaman yang direkam salah satu warga di sana."
"Oi oi oi! Apa ini serius ?! Padalah aku menyuruhnya untuk rileks dan menikmati harinya! Cih, padahal Rani cukup cantik! Mengapa dia cari gara-gara, dasar Playboy! apa dia Tidak melihat betapa susahnya aku mendapatkan satupun gadis di dunia ini! Dasar!" Keluhnya terus mengeluh sepanjang jalan menuju tempat mereka berdua.